Kalau Bingung,Percayalah Kepada Yang Tidak Pernah Bingung
Well, saya akui saya orang yang tidak begitu religius. Sebagai pemeluk agama yang telah saya pilih, saya masih berusaha untuk menjalankan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang. Still in work with that. Dan tentunya ini adalah pengalaman saya yang pertama kali dalam usia semuda ini
, ketika menemukan kebingungan yang meraja, seperti kita berada dipersimpangan jalan dan sangat pusing ingin memilih jalan yang mana yang akan ditempuh. Arahnya berbeda, tentu saja tujuannya berbeda, dan hambatan di perjalanan pun berbeda. Mungkin jalan lurus, mungkin berbelok, mungkin banyak angkot atau justru hanya ada taksi. No one knows. Tapi ketika kita bingung, cobalah percaya kepada yang tidak pernah bingung.
Mari berbicara tentang sejarah hidup sebentar. Sejak kecil, saya dibesarkan di Pekanbaru. Tumbuh dan berkembang dalam keluarga kecil sederhana nan bahagia. Memilih bagi saya dulu bukanlah pekerjaan sulit. Ketika usia saya 4 tahun dan sudah mulai bisa membaca, orang tua memutuskan ini saatnya untuk masuk ke taman kanak-kanak. Setelah selesai TK, adalah saatnya masuk SD. Dari sekian banyak SD di Pekanbaru orang tua memaksakan kehendaknya untuk menyekolahkan saya di salah satu sekolah terkenal dan favorit di pekanbaru, yaitu SDN 001 Rintis. Enam tahun setelahnya , saya lulus SD dan sudah mulai mengerti tentang bagaimana pentingnya pendidikan, tentang saya harus memilih tempat yang akan menyokong semangat dan keinginan kita belajar maka kita cenderung untuk memilih tempat yang dianggap favorit dan memiliki kualitas yang baik. Dan saya pun memilih, pilihannya pun jelas. SMP 4 atau SMP 1 saat itu. SMP 4 adalah tempat perlabuhan yang saya pilih,instead of SMP 1 (mungkin kalau memilih SMP 1 bisa ketemu iiR lebih cepat tapi kita tidak tahukan apakah akan tetap seperti ini atau tidak). Kelar SMP, dihadapkan lagi dengan pilihan. Tapi itu pun tidak begitu sulit diambil, SMA 8, SMA 1 , SMA plus adalah tujuan yang bisa diandalkan di Pekanbaru. Sempat melempar opsi SMA 3 Bandung dan Taruna Nusantara di Magelang. Saya tidak percaya diri dengan tinggi semekot ini untuk ke Tarnus, dan belum mau ke Bandung karena masih terlalu dini menurut saya. SMA 8 menjadi pilihan yang tepat karena faktor jarak dari rumah (cukup jalan kaki saja), kualitas, teman dan yang saya sadari sekarang : masa depan
. Beres SMA 3 tahun lamanya, menempa hidup , bermain dan berlomba saatnya memilih tempat kuliah, dan sejak awal memang saya sudah ingin menempuh pendidikan lanjut di ITB. Well done, SD hingga kuliah, pilihan nya jelas terpampang,faktor pembanding begitu mudah dibedakan. Pilih. Jalankan.
Namun tidak begitu adanya sebagai mahasiswa yang baru lulus, seperti yang sudah saya singgung 2 or 3 blogpost ago tentang mau kemana setelah wisuda , terdapat beberapa pilihan. Dan, untuk saat ini pilihan yang paling memungkinkan adalah bekerja. Pertanyaan berikutnya adalah, bekerja apa ? "”Kamu kan orang IT, tentunya banyak lapangan pekerjaan di luar sana ?” , kata orang tua yang ikut saya amini. Tapi tentunya meskipun banyak dan kalaulah memang banyak kenapa saya bingung untuk menentukan akan bekerja apa ?
Jawabannya ternyata karena ini akan menjadi salah satu keputusan penting dalam hidup kita. Yang tidak bisa dengan mudah kita putuskan sendiri ataupun bersama. Yang tidak ingin terjadi kesalahan di dalamnya. Karena tidak mungkin kita berbalik dan menjalaninya ulang. Karena nya harus dipilih dengan baik. Sejak dinyatakan lulus hingga prosesi wisuda pun, pembicaraan pekerjaan menjadi topik yang tidak pernah habisnya. Makan siang, ngomongin kerja dimana. Makan malam, eh mau ngelamar kemana. Bangun pagi, mandi dan terus gosok gigi
.
Dalam kasus saya, saya belum ingin bekerja dengan yang tidak berhubungan dengan bidang ilmu yang saya pelajari. Empat tahun rasanya berhadapan dengan benda-bendi teknik informatika, let’s say saya jatuh cinta pada dunia ini. Sama rasanya seperti jatuh cinta pada seorang wanita .. hohoho . Singkat kata, profesinya ingin di bidang IT. Kelar menentukan pilihan di bidang IT, masalah tidak selesai. Saya sadari ternyata saya orangnya sangat picky . Dan saya rasa wajar saja untuk bersikap seperti itu. Selesai menentukan bidang itu, akhirnya ketemu beberapa tipe pekerjaan yang bisa dicoba. 1) Programmer/ developer di IT Startup, Software Vendor atau freelance atau justru bikin sendiri. Intinya disini adalah code, code dan code. 2) IT Guy di perusahaan yang menggunakan IT sebagai support atau enabler seperti di telco, oil & gas, bank dan lain-lain. 3) PNS, seperti kebanyakan diharapkan orang-orang didaerah dengan berbagai alasannya (tunjangan, dan lain-lain).
Sampai akhirnya saya mencoba-coba untuk mulai apply pekerjaan. Ini adalah percobaan pertama saya. Ada dua buah bank yang sedang membuka lowongan IT, ada satu yang jadi developer dan ada yang jadi IT guy. Concern-nya adalah financial security, pekerjaan yang juga sesuai dengan bidang keilmuan,jaminan, kesempatan pendidikan tapi ada ketidakcocokan di bagian masa mengabdi, plus kemungkinan jika sudah di dalamnya, pilihan berkarir sampai tua adalah hal yang paling jelas. Menurut saya jika kita bekerja di perusahaan BUMN juga demikian path nya. That’s me, yang mengikuti kesempatan ini, mengikuti tes, satu, dua dan tiga hingga pemeriksaan kesehatan yang akhirnya menyatakan saya lolos dan jika berminat bergabung dapat segera melihat kontrak yang ditawarkan. Pekerjaan telah datang, hanya tinggal satu langkah lagi. Dan akhirnya saya malah jadi :BINGUNG.
Bingung karena proses nya begitu cepat dan saya sendiri belum begitu yakin. Ditimbang-timbang pekerjaannya benar-benar baik meski ada sedikit concern di masalah waktu tadi. Tapi justru itu terus membuat saya galau. Selalu berpikir dan kepikiran. Selalu tidak nyaman ketika mengatakan “ya” di dalam hati untuk mengambil pekerjaan ini. Konsultasi kepada orang tua, pacar dan teman-teman. Orang tua dan pacar kurang lebih membebaskan saja kepada saya. Teman-teman lebih keras dalam hal ini, dengan dalil mengetahui saya orangnya seperti apa dan dengan demikian hal yang cocok buat saya itu apa untuk saat ini. Berbicara dan berdiskusi tiap hari juga tidak kelar urusannya, masih saja bingung. Apakah sebaiknya saya mengambil pilihan ini ? Bagaimana jika ada pilihan yang lebih baik setelah ini ? Bisa jadi tidak , dan jika saya abaikan sekarang belum tentu kesempatan ini datang lagi ? Apakah ini benar-benar hal yang tepat untuk saya ? Kurang lebih pertanyaan itu berkecamuk terus dalam pikiran saya. Dan berkat saran dari beberapa orang, saya coba melaksanakan Shalat Istikharah . Itu adalah pengalaman pertama saya melaksanakannya dan saya terkejut dengan hasilnya. Kenyataan bahwa diawal saya sempat ragu bagaimana hal tersebut dapat membantu saya dan hasil akhirnya yang luar biasa. Untuk tata cara dan doanya dapat dilihat di pranala yang saya tulis diatas.
Sangat berbeda. Sebelumnya saya begitu keras kepala mengatakan “iya” di dalam hati bahwa saya ingin mengambil pekerjaan ini. Bahwa pekerjaan ini yang cocok dengan saya. Bahwa saya bisa berkembang di dalamnnya. Dan setiap saya berkata “ya”tersebut selalu saja ada sedikit kejanggalan yang terus membuat saya belum dapat berkata ya secara tegas. Sedangkan ketika berkata tidak saya takut kehilangan kesempatan. Tapi, setelah saya melaksanakan shalat tadi, silahkan skeptis bagi orang-orang yang tidak percaya dan hanya mengatakan itu hanya sugesti. Please, katakan demikian jika dan hanya jika kalian memang sudah melakukannya. Setelah melaksanakan shalat tersebut, saya merasakan apa yang dinamakan kemantapan hati. Kemantapan hati untuk memilih, berdasarkan hati.
Akhirnya saya memutuskan tidak, dan setelah menjalani proses ini, memilih tidak, tidak pernah membuat saya janggal . Dan takutnya kehilangan kesempatan tadi sirna dengan keyakinan bahwa berusaha dengan baik tidak akan pernah membuat kita kehilangan kesempatan. Saya punya yang saya sebut kemantapan hati. Dan membekali semacam petunjuk bagi saya, bahwa saat ini saya hanya ingin melakukan apa yang saya sukai bukan hal-hal yang orang sukai dan menurut mereka akan saya sukai. Egoiskah ? Yep, but this is my life. Dan hal ini yang men-drive saya hingga saat ini, melakukan sesuatu yang saya senangi. Orang-orang menyebutnya passion . Dan saya setuju. Full time blogger, berkomunitas dan knowledge sharing, coding untuk senang-senang, belajar, dan bekerja. Di akhir minggu menikmati hidup , bersama teman-teman tanpa rutinitas 8-5 setiap harinya. And I live this kind of life until right now. Really enjoy it right now.
Saya tidak mengatakan akan selamanya seperti ini. Tentunya setiap peluang harus dipertimbangkan dengan baik tapi untuk saat ini, ini adalah jalan yang saya senangi. Dan kalau ada pekerjaan dalam term singkat dan sesuai dengan kapabilitas pastinya tidak akan saya lewatkan. Moral of the story : kalau lagi Bingung, percayakan sama yang tidak pernah bingung,siapa lagi kalau bukan Tuhan yang kita percayai,dan, hidup ini adalah hidup anda so rule your own life and happy with it .
*Masih dan terus berdoa untuk hidup ini

Memang seharusnya begitu, agama adalah solusi persoalan kehidupan. Jadi, apa keputusan yang kamu pilih, Ja? Pekerjaan apa yang kamu ambil? Kalau boleh saran, S2 di luar negeri sangat tepat untukmu, cobalah peruntungan beasiswa Erasmus Mundus, selepas S2 melamar menjadi dosen PTN (di Unri, UI, ITB, atau yang lain(. Dari cara kamu menulis yang runtut, kamu lebih tepat menjadi seorang pendidik.
Rinaldi Munir
Desember 9, 2010 pada 5:19 am
Saat ini saya freelance dulu pak. Mau gain experience di software development yang sifatnya kita delivery produk , karena selama ini dikuliah kita lebih mengerjakan tugas sesuai spesifikasi saja. Kadang tidak memperhatikan arsitektur, atau desain dari solusi, yang penting jalan dulu. Nah dengan hands-on di project saya inginnya kemampuan praktikal (design pattern, arsitektural, performance) bisa saya dapatkan yang tidak terdapat dikuliah.
Keinginan S2 jelas ada hanya saja tempatnya saya belum memutuskan.
Terima kasih sudah mampir dan memberikan sarannya , Pak.
Puja Pramudya
Desember 9, 2010 pada 6:40 am
[...] a couple of great blog posts from my bros, @deluzion and @poedja_p (you can find it here and here respectively) it intrigues me a little to write something in this god-forsaken blawg. As for the [...]
S03E13: The Passion of The Geek « kazecul's realms
Desember 10, 2010 pada 6:19 am
[...] This post was mentioned on Twitter by lima april, Planet-IF. Planet-IF said: Planet-IF: Puja Pramudya: Kalau Bingung,Percayalah Kepada Yang Tidak Pernah Bingung: Well, saya akui saya orang … http://bit.ly/dKzTbA [...]
Tweets that mention Kalau Bingung,Percayalah Kepada Yang Tidak Pernah Bingung « limaapril -- Topsy.com
Desember 11, 2010 pada 6:50 pm