equilibrium

Postingan ini , muncul akibat rasa bersalah yang amat demikian tinggi. Mungkin sejalan dengan postingan gw berapa lama sebelum ini, terkait dengan relativitas makna. Apa yang kita anggap penting belum tentu penting bagi orang lain. Apa yang kita anggap biasa barang kali menyakitkan bagi orang lain. Demikian …

Dan,kejadian tadi siang (sabtu-red) lagi-lagi memberikan bahan perenungan bagi gw untuk berpikir ulang mengenai kata-kata dan janji yg udah gw lontarkan. Tapi, yg bikin gw sebel adalah, perenungan gw seringkali hanya sampai pada tahap kulminasi tanpa implementasi. Sedih sih,,,tp bagaimanalah,,,namanya juga manusia,,,banyak berencana sedikit realisasi.

Ceritanya begini. Seperti biasa, tadi siang ngumpul2 di sekre himpie,,,ngalor ngidul gak jelas ngliatin tami, nad dan naila yg sibuk bikin score board. Ada restya,adi, bayu dan gwgtaunamanya sedang rapat formatur kaderisasi. Ada beberapa orang lagi yg gak jelas ngapain, dan itu termasuk gw. Nah, tanpa menyebut nama,,,dimulai lah trigger perenungan gw malam ini. Ada yg mulai mempercandai seseorang,,,dan gw disana mulai ikutan. Awalnya masi tertawa-tawa, senyum-senyum simpul. Tapi – barangkali karena gw berlebihan jg – oknum yang dipercandai mengambil sikap amat defensif. Dan, jujur,,,setelah pertahanan itu dilontarkan,,,gw jadi gak enak banget. Sekre himpie yg tadinya hingar bingar menjadi sunyi senyap. Dan, gw pun susah untuk langsung meminta maaf akibat suasana yang sangat-sangat tidak kondusif.

Barangkali, pada awal-awal dipercandai,,,masih bisa sabar nan tabah. Ikut tertawa mungkin. Ikut tersenyum juga. Tapi , siapa sangka bahwa untuk titik tertentu,,,waktu mencapai equilibrium kesabaran sedemikian singkatnya…hingga setelahnya yang adalah eksistensi emosi.

Satu kesulitan bagi gw adalah bagaimana mendeteksi pergerakan posisi hati dari low-phase menuju peak nya pada equilibrium. Misalkan, gw udah menemukan suatu cara itu,mungkin gw bisa beralih dari yg mempercandai seseorang sedemikian rupa hingga kemudian berdiam sejenak melihat situasi, melarikan diri dari kepelikan kondisi (muka dua banget yak …). Seringkali, tanda-tanda yg menjadi indikator adalah pergerakan mimik wajah, senyum yg memudar atau tatapan yg tiba2 tajam nan menusuk. TP,bisa juga seperti tadi siang…tanpa sinyal,,,tanpa frame enquiry, ujuk2 begitu aja….menyisakan perasaan bersalah (peace..).

Gw jg g ngerti,,,kejadian kyk td siang sebenarnya bukan yg pertama kali. Udah beberapa kali gw ‘berhasil’ menguji kesbaran seseorang dgn kejadian yg serupa. Dan, setiap ujian berhasil,,,ketika hati melewati titik equilibrium td,,,gw selalu merasa bersalah dan berusaha berjanji kpd diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi. Tp, apa daya,,,,jika melihat situasi nan empuk seperti itu,,,hati ini tidak tahan dan mulut tidak terbendung untuk ikutan. Ampuuuu ….n …

Ya sudah,,,pada akhirnya gw jg memang harus minta maaf (barangkali…) kpd orang yg belakangan ini sering jadi objek dipercandainanmenyakitkan gw. Kpd oknum rest** dan nad**** yg sering gw bercndai dan pernah gw janjikan untuk tidak dipercandai … semoga kejadian yg sudah terjadi bukan menjadi gunting pemutus tp penyambung tali silaturahmi yg baik diantara kita (halah …).

Damai,,,dan damai….
kita semua bersaudara …
hehe …

One thought on “equilibrium

  1. hduh… maaf m(_ _)m
    beneran ga bermaksud marah, Ja…
    cuman sebenernya lagi BT…
    lagi rapat serius + kemarinnya ga tidur di kosan

    puf… lama2 bosan juga dgituin, Ja :((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s