jarak :p

Sudah berhari-hari bahkan berminggu-minggu saya tidak menulis sesuatu di blog. Entah angin apa yang merasuki tangan saya hingga malas untuk menulis. Yang jelas, selain himpitan tugas demi tugas, laporan demi laporan dan kode demi kode sepertinya ada hal lain yang membuat saya enggan untuk menuangkan isi pikiran ini. Untunglah, akhirnya keran aksara ini kembali terbuka

Adalah sebuah fim berjudul Kambingjantan yang bercerita tentang seorang pelajar bodoh yang menginspirasi tulisan kali ini. Sebagian teman berpendapat filmnya tidak begitu lucu dan lain-lain akan tetapi saya menyukai cerita cinta di balik film itu (selaen harianto, si kebo nangis dan kamar khayalan), yang membahas tentang LDR :dengan makna sebenarnya. Atau di dalam istilah Indonesianya adalah PJJ (Pacaran Jarak Jauh).

Jika memperhatikan statistik yang film ini berikan, dikatakan bahwa dalam hubungan jarak jauh ini menghasilkan 98% gagal dan 2% berhasil. Berangkat dari sana, saya teringat sejak SMU bagaimana teman-teman menghadapi hubungan yang berjarak seperti itu (Adelaide-Jakarta,Jakarta-Bandung,Jakarta-Jogja, yg penting berjarak pokoknya) dan mengatakan bahwa alasan terbesar yang dihadapi dalam hubungan jarak jauh itu adalah JARAK itu sendiri.

Sebelum mengeluarkan pendapat maka saya ungkap beberapa fakta (fakta : kejadian yang sebenarnya, tidak dibuat-buat) yang saya amati dan perhatikan disekeliling saya :

Kasus 1 :

Si X dan Y telah menjalin hubungan sejak masih SLTP kelas 2. Hubungan mereka bagai tidak bisa dipisahkan. Sampai ketika saatnya si X diterima di Universitas ternama di Jogjakarta. Pada awal-awal tahun pertama berpisah, saya menyaksikan sendiri usaha yang ditempuh si X agar hubungan yang ada dapat dijembatani, at least dengan teknologi yang tersedia sekarang ini. Misalnya , melengkapi webcam dan microphone. Setahun kemudian yang saya dengan adalah si X dan si Y berpisah dan tak lama dari itu si X mendapat pacar barunya di kota Jogja tersebut.

Kasus 2 :

Si A dan B, teman yang saya kenal di institusi ini. Meski mereka sudah kenal satu sama lain sejak zaman masi lucu dan imut di tingkat taman kanak-kanak, hubungan intens baru terjalin sejak tingkat satu. Dan, hubungan ini ibaratnya dapat saja dengan mulus terjalin karena toh tidak hanya satu kota, tp satu perguruan tinggi bahkan satu jurusan. Waktu bertemu yang banyak dan jarak yang dekat adalah atribut yang melekat dalam hubungan mereka. Tapi, toh, pada akhirnya di tingkat 3 ini saya mendengar kabar bahwa mereka telah berpisah. Entah apa alasannya saya pun kurang mengetahuinya.

Kasus 3:

Si J dan K telah menjalin hubungan sejak SMA disuatu kota satelit di sekitar Jakarta. Sampai pada akhirnya mereka berpisah karena diterima di perguruan tinggi yang sama-sama baik dan berjarak 8 jam perjalanan kereta api. Sejalan kemudian si J mulai mengemban kesibukan yang amat sangat di keorganisasian sehingga menyebabkan jarang mengunjungi si K. Walau demikian yang saya amati hubungan dapat terus berlangsung dengan baik, penuh kehangatan dan kebahagiaan.

Kasus 4 :

Si N diketahui sudah menjalin hubungan beberapa kali sebelum hijrah Jakarta untuk melanjutkan studi nya. Di kota besar ini, si N bertemu dengan si O, yang diklaim sebagai pasangan idealny. Hubungan pun terjalin dengan jarak hanya beberapa kos2-an saja. Beberapa kali saya diberitakan bahwa hubungan yang terjalin sangat ideal,bahagia  dan menyenangkan. Pada akhirnya yang saya ketahui hubungan ini berakhir dengan alasan yang tidak jelas (maksudnya tidak jelas adalah saya tidak mengetahui alasan sebenarnya).

Masih banyak kasus-kasus nyata yg ingin saya ungkapkan tapi takutnya malah mengaburkan maksud saya diawal. Coba perhatikan tiap kasus diatas. Ada yang hubungan di bina jarak jauh, ada yang satu kampus, ada yang cuma jarak 2 kos2-an ada yang beda kota dan semua nya menghasilkan akhir yang berbeda.

Yang ingin saya tekankan disini adalah bahwa menurut saya jarak bukanlah variabel yang perlu dihitung ketika menentukan apakah hubungan jarak jauh dapat berhasil atau tidak. Rasanya melihat pengalaman temen2 diatas saya berani mengatakan semua nya berpulang kepada dua orang yang sedang menjalankan hubungan tadi. Bagaimana masing-masing memiliki komitmen terhadap hubungan dan menyadari konsekuensi dari hubungan yang dijalin. Rasanya, agar sukses , masing-masing harus mempertanyakan kembali mengapa ingin berhubungan dan apa yang ingin dicapai dengan hubungan. Begitu itu bisa tercapai maka akan jelas lah segalanya. Lagipula untuk sesuatu yang menyangkut perasaan seperti ini  saya percaya sifatnya harus sukarela. Kalau tidak suka dan tidak rela, ya buat apa.

5 thoughts on “jarak :p

  1. Gw juga ada teman yg LDR. Teman waktu SMA, sebut aja si ce A dan si co C. Sekarang A di ITB dan C ada di univ di Jogja (if not wrong). A sih gw tau orangnya setia tapi C nya ini yg eye basket (A udah tau), kabar terakhir sih mereka masih jadian.

  2. Hmmmm.. Mungkin aku termasuk 2% orang yang berhasil ngejalanin LDR ini (Alhamdulillah). Dari 4,5 taun pacaran,dah 2,5 taunnya aku LDR. Taun pertama jaraknya tu Bandung-Bontang. Dan taun selanjutnya Bandung Jogja, tapi ya alhamdulillah masih jalan sampe sekarang:)

    Yang ingin saya tekankan disini adalah bahwa menurut saya jarak bukanlah variabel yang perlu dihitung ketika menentukan apakah hubungan jarak jauh dapat berhasil atau tidak. Rasanya melihat pengalaman temen2 diatas saya berani mengatakan semua nya berpulang kepada dua orang yang sedang menjalankan hubungan tadi. Bagaimana masing-masing memiliki komitmen terhadap hubungan dan menyadari konsekuensi dari hubungan yang dijalin. Rasanya, agar sukses , masing-masing harus mempertanyakan kembali mengapa ingin berhubungan dan apa yang ingin dicapai dengan hubungan. Begitu itu bisa tercapai maka akan jelas lah segalanya. Lagipula untuk sesuatu yang menyangkut perasaan seperti ini saya percaya sifatnya harus sukarela. Kalau tidak suka dan tidak rela, ya buat apa.

    Setuju banget, kalo emang niat, jarak itu bukan apa2 kok:)

  3. wuhooo…
    kalo mau LDR, belajar dari kakak gw, udah 8 taun LDR. dari zaman masuk kuliah ampe skarang udah nikah pun masih LDR, dan bukannya makin dket, udah nikah malah makin jauh… Hohhoohooo, hebat gila emang kakak gw…
    adeknya?? Hahahaa, adenya DSLR aja deh,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s