mengapa selera (film,lagu,makanan) sebaiknya tidak diperdebatkan

Sebenarnya, sudah lama saya ingin membahas selera dari sudut pandang sedikit ilmiah. Pemicunya adalah kasus-kasus semacam ini :

A: “Aduh film/lagu/makanan ini jelek, gak usah ditonton/dengar/makan…”

B: “Kata siapa jelek?  kata temen gw bagus … “

A : “Bener2 jelek,,banyak kok yang bilang jelek, rating xxxx juga mengatakan demikian ….”

B: “Ooooh….”

Diawal ini saya katakan, saya datang dengan kesimpulan bahwa untuk suatu hal yang bernilai subjektif, seperti selera tidak dapat dikatakan suatu hal (film,lagu,makanan) itu bener-bener bagus atau bener-bener jelek, apalagi jika dasar pernyataan “bener-bener bagus” atau “bener-bener jelek” itu datangnya dari rating,survey dan semacamnya. Lebih lanjut lagi akan menjadi tidak baik jika rating tadi digunakan untuk keperluan mendiskreditkan sesuatu dan mengatai-ngatai sesuatu. Saya lebih melihatnya bahwa hal rating/survey sangat menggambarkan apa yang orang2 yang berkontribusi dalam rating/survey nilai terhadap sesuatu, tapi tidak menyatakan bahwa nilai itu berlaku untuk semua orang.

Mari kita mulai dengan memahami apa yang dinamakan hasil rating yang sering disebut sebagai suatu opini publik. Opini publik merupakan kumpulan dari kelakuan/pendapat/kepercayaan individu terhadap sesuatu. Dalam kaitannya dengan penilaian terhadap sesuatu yang dilakukan melalui rating, maka kita harus melihat bahwa apa yang ingin dicapai dari rating itu sendiri. Rating atau lebih umum lagi, opinion poll adalah suatu cara untuk menilai sesuatu untuk menggambarkan kecenderungan populasi dan seringkali di-generalisasi ,dimana suatu hasil polling melekat padanya suatu nilai tingkat kepercayaan (margin error).  Namun perlu dipahami, rating/polling semacam ini, terutama jika dilakukan terhadap sampel dari populasi adalah sesuatu yang memiliki kesalahan sampling yang memberikan suatu level ketidakpastian (uncertainty).

Jika kita melihatnya lebih dalam lagi, maka sistem rating seperti im*b dan semacamnya, sesungguhnya merupakan aproksimasi atau suatu cara untuk melakukan statistika inferensi. Ingat, disini saya katakan sebuah aproksimasi karena tidak didesain dengan benar-benar mengikuti kaidah ilmu statistika inferensi , seperti kriteria sampling, jumlah sampling dan sebagainya. Padahal, dalam statistika inferensi secara jelas menyatakan bahwa suatu penilaian berdasarkan sampling (dikenal dengan hipotesis statistik) adalah suatu anggapan atau pernyataan yang mungkin benar atau tidak, mengenai satu populasi atau lebih. Kebenaran atau ketidak benaran suatu hipotesis statistik tidak akan pernah diketahui dengan pasti kecuali bila seluruh populasi diamati. Dan, suatu penerimaan hipotesis statistik hanyalah menegaskan bahwa data tidak cukup memberi kenyataan untuk menolaknya, dalam kata lain  hipotesis benar tapi ada kemungkinan, bahwa informasi dari sampel bertentangan hipotesis.

Jika kita ‘menghargai’ sistem rating yang kita jadikan dasar tadi, maka ketika kita menyatakan bahwa “sesuatu” itu benar-benar bagus atau jelek marilah coba dilihat lagi, bagaimana rating itu dilakukan. Pertama, dari populasi yang dianggap oleh rating tersebut. Jika, anda tidak termasuk sebagai bagian dari populasi rating tsb maka sudah sangat jelas hasil rating gagal menggambarkan suatu nilai objek relatif terhadap anda. Bagaimana bisa rating terhadap populasi pemain sepakbola menggambarkan kecenderungan pemain basket. Dan definisi populasi ini sangat menentukan suatu hasil rating itu valid bagi seseorang. Apalagi, teknik untuk menggambarkan populasi ini dilakukan melalui sampling, yaitu dipilih  beberapa individu dari populasi total. Jika tekniknya saja tidak diperhatikan (dan rating semacam itu seringkali menggunakan random sampling) maka sudah jelas lagi sangat sulit hasil-nya dikatakan sebagai opini publik (dimana anda sebagai bagian dari publik itu dan tidak ikut berkontribusi pada penilaian).

Aspek berikutnya, yang perlu kita lihat lagi adalah objek yang dinilai. Dalam kasus objek yang dinilai adalah “pendapat terhadap sesuatu” maka hal semacam itu akan mengandung suatu nilai subjektivitas. Berbeda misalnya, jika objek yang dinilai adalah fakta. Misalnya penilaian terhadap sejumlah kejadian gempa, atau sejumlah reaksi kimia. Suatu objek yang mengandung nilai subjektivitas maka disana berlakulah yang namanya logika subjektivitas. Suatu aspek fundamental tentang logika subjektivitas adalah tidak ada seorang pun yang dapat menentukan kebenaran apakah suatu proposisi (objek) di dunia ini benar atau salah. Ketika suatu kebenaran dari suatu proposisi diekpresikan atau dinyatakan (misal film ini jelek, lagu itu bagus) maka tidak akan pernah bisa merepresentasikannya dalam suatu keadaan umum atau kondisi yang objektif.

Kembali pada rating yang dihargai tadi, kita harus pahami sistem semacam ini termasuk dalam kelas reputation system. Sistem reputasi menghitung reputasi atau skor dari sekumpulan objek, dalam suatu komunitas yang berdasarkan pada kumpulan pendapat terhadap sesuatu. Enititas didalam komunitas menggunakan nilai reputasi tadi untuk penetapan keputusan ex apakah membeli/tidak membeli suatu barang. Jadi, sama sekali tidak digunakan untuk menyatakan bahwa suatu objek memiliki nilai benar-benar bagus/salah.

Maka mari kita kumpulkan apa yang sudah dijelaskan panjang lebar pada tulisan diatas. Rating memiliki karakteristik penilaian terhadap suatu objek yang mengandung unsur subjektivitas, dilakukan menggunakan aproksimasi teknik statistika inferensi dimana statistika inferensi itu memiliki tingkat kepercayaan , dan ditujukan untuk penetapan keputusan. Sehingga rating gagal menyatakan sesuatu terutama jika anda sendiri tidak termasuk dalam populasi rating tersebut.

Itulah mengapa sebaiknya selera (film,lagu , makanan) tidak udah diperdebatkan, apalagi sampai memberikan suatu label “benar-benar bagus” atau “benar-benar jelek”. Justru akan lebih elegan lagi rasanya jika ada parameter yang secara global dapat diterima. Misalkan untuk suatu lagu dikatakan bagus diparameterisasi dengan “jumlah RBT yang didownload”, “periode bertahan dichart”, dan sebagainya. Setidaknya itu memberikan gambaran yang realistis meski lagi-lagi tidak menyatakan apakah “benar-benar bagus” atau tidak. Misalkan banyak orang berpendapat lagu2 ST 12 itu tidak bagus padahal kita ketahui penjualan dan donlotan RBT lagu2 ST 12 itu sangat fantastis. Maka apakah kita mengikuti kata2 orang tadi atau melihat parameter penjualan dan sebagainya tadi ? Your choice. Hanya saja semakin menegaskan bahwa tidak ada kebenaran absolut apalagi terhadap sesuatu yang mengandung nilai subjektif.

*disarikan dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s