kritik sosial ala Alangkah Lucunya (Negeri Ini) ?

Ketika mendengar judul film ini, dan mengetahui bahwa film ini dibesut langsung oleh Deddy Mizwar sesungguhnya hal itu saja sudah membuat saya penasaran. Beberapa film Dedy Mizwar belakangan ini selalu penuh pembelajaran yang kadang kurang kita perhatikan. Dan tentu saja nafas islam sangat tergambar dalam setiap karya Deddy Mizwar. Sebut saja Para Pencari Tuhan, Kiamat Sudah Dekat dan kali ini Alangkah Lucunya (Negeri Ini).

Dan benar saja, sepanjang film ini menceritakan fenomena sosial masyarakat Indonesia yang coba bertahan hidup, dalam kerasnya kehidupan,melawan kemiskinan dan meratapi ironi ada ketidakadilan bagi mereka yang sudah bercukupan. Di awal, saya sempat merasa bahwa moral ceritanya agak terpelintir. Bagaimana tidak, seorang sarjana manajemen mengatur sekelompok anak-anak pencopet, membeli motor, makanan dan menggaji dua temannya dari uang hasil copet. Seolah ingin memberikan kesan,tidak apa-apa jika sumbernya kurang baik namun jika ditujukan untuk hasil yang baik tampaknya dosa lebih sedikit. Katanya dapat dimaklumi jika dibandingkan dengan “pencopet” kelas kakap, yang tidak perlu mencuri uang di pasar, mall ,angkot namun tetap dapat hidup sejahtera, tanpa dikejar-kejar  tapi tetap hidup nyaman. Secara relatif iya. Tapi , tentu saja diakhir cerita dikisahkan sang sarjana sadar, sesuatu yang sudah ditetapkan di hukum agama, sifatnya mutlak. Tidak ada pembenaran yang sama sekali bisa dilakukan manusia.

Berikut pesan-pesan sosial yang berhasil saya tangkap dan coba disuarakan melalui film ini :

  • Korupsi menyengsarakan rakyat. Hal ini merupakan pesan terkuat yang dapat ditangkap. Begitu banyak adegan, dialog yang menggambarkan betapa muaknya masyarakat terhadap perilaku korupsi namun tidak dapat berbuat apa-apa. Koruptor itu pintar. Mencopet dalan jumlah besar, tidak ketahuan dan masih saja terus mencopet seolah tidak puas dengan kekayaaan yang didapatnya.
  • Banyak yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, kadang mereka harus hidup dengan mencopet. Ironis, ketika mereka berhenti mencopet dan mencoba mencari uang dengan cara halal, berjualan (ngasong) malah ditangkap satpol PP. Mencopet haram, mengasong di tangkap polisi. Opsi apakah yang mereka punya ?
  • Koruptor tidak mengganggu lalu lintas makanya tidak ditangkap satpol PP. Ayo2,siapa yang harus menangkap koruptor ?
  • Mencari pekerjaan sulit. Berarti lapangan pekerjaan kurang terbuka. Banyak yang nganggur, bahkan seorang sarjana sekalipun. Kita dituntut lebih kreatif , beternak cacing bisa jadi alternatif.
  • Banyak masyarakat yang berharap dengan undian dan kuis yang ada ditelevisi. Kebanyakan ikutan juga tampaknya kurang baik.
  • Kebanyakan aksi copet dilakukan secara bersama-sama, di pasar di mall di angkot. Jika merasa kehilangan barang dan merasa orang tertentu adalah pengambilnya, pasrah saja karena biasanya barang tersebut sudah tidak terdapat padanya.
  • Anggota DPR mendapat laptop tapi kurang begitu tahu manfaatnya. Biar asal keren. Dikisahkan calon anggota tersebut hanya bisa menonton screensaver berupa akuarium ikan dan sudah cukup bangga atas itu .
  • Ironis, bekerja halal dengan mengasong ternyata dapat berhadapan dengan satpol PP.
  • Ada perlindungan bagi mereka yang mengayomi kelompok pencopet itu. Katanya sama-sama mencari makan jadi ya tahu sama tahu saja.
  • Pendidikan itu penting, tapi cukup banyak masyarakat yang kurang memahami bahwa pendidikan yang mereka anggap tidak penting itu sebenarnya penting.
  • Hukum Allah jelas, Halal ya halal. Haram ya haram. Tidak ada excuse untuk hal itu. Tidak ada batas abu-abu untuk hal ini.
  • Pasal 34 masih sulit dilaksanakan oleh negara.
  • dan sesuai judulnya, terlalu banyak ironi di negeri ini, bahkan ironi itu bisa membuat kita tertawa pasrah dan hanya berkata “alangkah lucunya….”

2 thoughts on “kritik sosial ala Alangkah Lucunya (Negeri Ini) ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s