Memaknai Sang Pencerah

Ketika mendengar film Sang Pencerah akan dibuat, saya sedikit bertanya, mengapa tokoh yang akan dibuatkan filmnya kali ini adalah KH Ahmad Dahlan. Sepengetahuan saya ada banyak tokoh yang lebih terkenal namun tidak dijadikan sebuah film. Namun setelah menontonnya 2 kali, saya jadi mengerti.

Tentunya saya berasumsi pada pembuat film sudah melakkukan riset yang mumpuni untuk mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan dalam rangka membuat film ini. Secara garis besar, film ini menceritakan KH Ahmad Dahlan yang tinggal di daerah Kauman, belajar agama Islam hingga ke tanah Arab, pulang membawa ilmu nya dan ingin bermanfaat bagi keadaan sekitar. Namun disitulah seninya ketika kita ingin berbuat baik tidak serta merta segala sesuatunya dimudahkan. Banyak sekali hambatan yang ia terima dari lingkungan bahkan orang-orang terdekatnya sekalipun.

Dua hal pertama yang ingin saya maknai dari film ini adalah kedekatannya dengan kejadian di masa sekarang, yaitu perubahan arah kiblat dan kisah penghancuran rumah ibadah. Sebelum bulan ramadhan ini, kita pun mengerti terdapat perubahan arah kiblat yang diusulkan sebesar 2 derajat. Saya juga baru tahu hal ini pernah terjadi di masa sebelumnya. KH Ahmad Dahlan yang setelah pulang dari Arab merasa ganjal dengan arah kiblat dari Mesjid-mesjid yang ada disekitar Jogja. Ada yang menghadap ke Utara bahkan TImur Laut. Dari situ beliau berijtihad, dengan pengalaman yang ia miliki, pengetahuan yang ia dapatkan. Dan beliau mengusulkan perubahan arah kiblat dari yang sekarang. Tentu saja hal ini diprotes. Mesjid yang rata2 berusia lebih tua darinya, menyalahkan arah kiblat sama dengan mempertanyakan para pendahulu pendiri mesjid. Tidak mudah meyakinkan para ulama setempat. Saya menangkap dua argumen yang KH Dahlan sampaikan, yaitu arah kiblat yang menuju Arab berdasarkan ilmu falak dan pernah berpindahnya arah kiblat dari Aqsa ke Masjidil Haram dimana Rasulullah berputar bahkan hingga 180 derajat. Yang yakin dengan apa yang disampaikan KH Dahlan, mengikutinya, sejumlah besar yang meragukan tetap tidak melakukan perubahan. Begitu pula dengan penghancuran langgar kidul miliknya. Karena dianggap ajarannya menyimplifikasi Islam, akhirnya penduduk setempat dengan persetujuan pemuka ulama (ada saudaranya, saudara ipar, dan lain-lain) menghancurkan hingga rata dengan tanah, langgar yang ia jadi kan tempat berbuat untuk umat. Perbuatan yang sama sekali tidak dibenarkan tapi harus diterima dengan lapang dada.

Berbicara masalah simplifikasi ajaran yang sempat disinggung tadi, sejauh ini menurut saya apa yang disampaikan KH Dahlan sangat bijaksana. Kadang memang kita terlalu mengaitkan tradisi dengan ajaran hingga sulit membedakan mana yang sebenarnya ajaran, mana yang sebenarnya sebuah tradisi yang melekat pada kelompok tertentu. KH Dahlan menyikapi sebuah keluarga yang hendak menikah namun tidak mampu mengadakan syukuran. Perhatikan dalam Al Quran, untuk menikah diperlukan mahar, saksi dan wali,,,kemudian dikabarkan kepada para tetangga agar tidak timbul fitnah. Resepsi adalah tidak mutlak, terutama jika kita tidak mampu. Begitu juga dengan kewajiban untuk yasinan dalam 40 hari untuk mendoakan keluarga yang meninggal . Tidak ada suatu keharusan disana, boleh ada dan boleh tidak, setidaknya begitu KH Dahlan menyikapi.

Kemudian adalah cara KH Dahlan mengajar. Cara penyampaiannya. Sangat penting. Menurut saya terutama di jaman sekarang dimana anak-anak dan remaja sudah terekspos dengan hal-hal yang baru, yang mungkin di jaman sebelumnya tidak ada. Penyampaian ajaran pun harus disesuaikan. Penyampaiannya loh ya, bukan isi ajarannya. Kalo isi ajaran kan sudah saklek tidak boleh ada yang berubah. Tapi cara penyampaian ? Menurut saya hal ini bisa disesuaikan. Ingat ketika para wali menggunakan media wayang dan tradisi untuk menyampaikan ajaran Islam. KH Dahlan menggunakan cara-cara inovatif, menggunakan musik, cara penyampaian yang disesuaikan dengan interest anak-anak, dan kongkrit turun di lapangan. Ketika salah satu murid nya bertanya kenapa kok pengajian selalu membaca Surat Al Maun KH Dahlan berkata, selama membaca sudah diamalkan belom ? Jangan cuma NATO. Luar biasa sekali.

Dan puncak dari segala puncak kongkritisasi dari keinginan membuat perubahan adalah usaha pendirian organsiasi sosial dan pendidikan, Muhamadiyah. Sempat mendapat penolakan dari pemimpin setempat tapi pada akhirnya dapat berdiri juga. Organisasi yang menurut film itu pada awalnya hanya beranggotakan beberapa orang saja, yaitu murid-murid terdekat dan terbaiknya di akhir pada epilog disebutkan sudah menjadi salah satu organisasi yang sangat besar dan ribuan tempat pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, Politeknik, hingga Perguruan Tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kalau anda mau berbicara tentang KONGKRIT, bicaralah tentang KH Ahmad Dahlan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s