Keping 2 – Reboot Strategy

Pada keping-1, yang mana menceritakan masa perkuliahan tahun pertama saya, telah diceritakan bagaimana saya bisa sampai di ITB, tidak memilih teknik sipil dan bercita-cita menjadi ‘rakyat’. Tapi pada keping ini akan ditemukan sejumlah inkonsistensi. Err,,,bukan, mari kita sebut saja itu sebagai sebuah reboot strategy.

Teknik Informatika dan NIM 135…

Uniknya kuliah di ITB adalah pada tahun pertama kita akan dikembalikan ke kantung-kantung fakultas atau sekolah (untuk fakultas dengan 2 program studi). Jadi, pada tahun pertama, saya hanya dapat bercerita bahwa “Yah, saya kuliah di STEI. Program studinya belum ada …” . Dan, ketika masa semester tiga dimulai, sepucuk surat diterima dan berisi kurang lebih “ Anda diterima di program studi Teknik Informatika “. Akhirnya, tercapai juga hal itu. Tapi itu artinya, adalah perjuangan baru dimulai.

Ternyata teman-teman bermain saya pada masa TPB semuanya masuk teknik elektro. Hoho…tapi sebenarnya ada dua orang yang berbalik arah, tadinya ingin ke IF namun akhirnya memilih EL. Walhasil, saya sedikit merasa asing. Kembali ke lingkungan yang baru. Tanya kenapa ? Ya karena pada tahun pertama i’m not make friends a lot. Namun demikian berbekal sikap saya yang senang ngobrol , ngumpul dan memberi senyuman ketika berkenalan, saya mulai mengenal satu-dua orang disini.

Tidak hanya itu, masuk ke teknik informatika artinya masuk ke dunia yang benar-benar baru bagi saya. Teknik Sipil dalam bayangan saya akan banyak berhubungan dengan matematika dan fisika terapan. Tapi disini ? Satu kata yang menghantui programming!!!  Saya merasa rendah diri sekali. Saya melihat beberapa teman saya, memang ada yang sejak dulu menyenangi dunia programming dan memang cita-citanya masuk ke sini. Artinya, mereka sudah memiliki dasar. Ditambah lagi, kuliah daspro yang diasuh oleh legenda IF membuat saya berpikir kok programming itu sulit banget ya. Tapi teman-teman, yah…memang tidak ada yang mudah di dunia ini. Meski dari kecil hingga masa SMA saya tidak pernah menyentuh itu yang namanya program tapi ketika disini, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus belajar.

FYI, sekarang programming sudah menjadi bagian hidup saya, dan dapat dikatakan, hidup tidak lengkap tanpa program 🙂 .

 

Tampil Pertama di Publik : OHU 2007

Oh ya, pada tahun pertama saya tidak hanya mengikuti RK atau Radio Kampus, tetapi juga UKMR, unit kebudayaan melayu riau. Unit yang baru resmi berdiri pada tahun 2006 ini dikhususkan bagi mahasiswa yang ingin mempelajari dan melestarikan budaya Riau. Tapi, seperti layaknya unit baru kegiatannya boleh dikatakan belum begitu banyak. Namun tentu saja, OHU adalah cerita lain.

OHU atau open house unit merupakan acara di ITB yang diselenggarakan dalam rangka menyambut, dan menyosialisasikan unit-unit kegiatan yang ada di ITB. Jadilah, para anak UKMR mendapatkan satu stand untuk dihias dengan ornamen melayu. Setelah sehari semalam melakukan dekor jadi-jadian, dengan kain panjang pinjaman dari gaharu dan nanas manggar yang di beli di depan UPI, stand kami pun jadi. Yang kurang adalah : Penjaga stand.

Picture 003Nah inilah kawan, sebagian besar warga UKMR yang hadir saat itu adalah kolega saya di SMA. Dan, tentu saja mereka paham betapa hiperaktifnya saya dulu. Tanpa pikir panjang, mereka tunjuk saya untuk menjaga stand. Tugasnya tentu saja menggunakan baju melayu hingga sore, menjaga stand , bercerita dan sebagainya. Tadinya saya sempat tidak mau lho, tapi akhirnya saya putuskan okelah. Toh, demi Riau juga :p. Lagipula dapat bonus ditemani oleh wanita di samping ini.

Satu permasalahan lagi muncul, setiap unit diberikan kesempatan 1,5 menit pada saat defile untuk meneriakkan yel-yel, atau kata-kata semangat, bunyi2an. Apapun. Nah itu masalah kawan. Masalah. Kita tidak ada yel-yel maupun nyanyian yang sudah dilatih. Lalu apa yang kami lakukan ? Pencak silat 🙂

Idenya adalah, tiga teman saya akan memainkan santing (jenis pukulan di musik melayu) sementara saya akan melakukan gerak silat selama 1,5 menit. Pertanyaannya adalah apakah saya bisa silat ? Jawabannya adalah TIDAK.

Maka saya pun tidak mengerti mengapa massa pada saat itu memberikan tepuk tangan yang cukup meriah atas gerakan yang saya lakukan. Tahukah kalian bahwa itu adalah gerakan yang ngasal ? Satu-satunya yang benar adalah permainan santing yang dilakukan oleh teman saya, yang mana ketiganya juga baru sekali itu memainkan santing. Ketika mengingat lagi masa itu, saya bisa tertawa sampai keluar air mata bersama teman-teman UKMR ini. Tapi, disitulah awal pengabdian saya dengan UKMR.

Picture 002 Picture 036_resize

 

Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF)

imageDengan diterimanya di Teknik Informatika dan kelulusan saya pada kaderisasi STEI tingkat satu, itu artinya gerbang menuju HMIF pun semakin terbuka. Dan memang, tidak lama di awal Agustus angkatan 2006 dilantik menjadi anggota biasa HMIF. Menjadi anggota biasa HMIF, diterima di HMIF, beraktivitas di HMIF bertemu orang-orang hebat di HMIF saya akan menyebutnya salah satu milestone dalam hidup saya. Himpunannya yang lebih modern, demokratis dan mengedepankan rasionalitas dalam setiap agenda kegiatan. Cocok dengan value yang saya pegang.

Pada tahun pertama di HMIF, anggota 2006 didistribusikan ke dalam kantong-kantong divisi, dan saya berlabuh di divisi MEDIA. Saat itu di ketuai oleh Alsa. Lucunya, ketika saya menilik ke belakang, saya merasa kontribusi saya ke divisi ini cukup minim. Justru saya menyenangi membantu divisi lain mengadakan acara. Yah, divisi bantu-bantulah. Boleh dibilang kegiatan divisi lain cukup seru juga, dan dinamika nya begitu cepat. Dan tentu saja beberapa tugas angkatan yang harus diselesaikan dalam angkatan. Rasanya tiap minggu selalu ada acara mari kita sebut saja  Wisuda,Mukrab,Musik Sore,TETAPI,seminar keprofesian,sharing alumni, latihan rutin dan sebagainya.

Sudah lumrah sekali bahwa di tahun pertama kita dihimpunan maka jobdesk sebagian besar adalah sebagai eksekutor. Artinya kasarnya yang bekerja di lapangan lah. Sementara konsep dan proker sudah dibuat oleh pengurus sebelumnya. Tapi, menjadi eksekutor ada keuntungannya juga. Tidak perlu berpikir apa-apa langsung kerja. Kerja kasar. Angkut sana sini, survey ini itu, beli benda bendi. Hehe…menyenangkan. Di tahun ini saya merasa hari Sabtu dan Minggu saya juga habis di kampus, di himpunan. Disini juga kekeluargaan begitu dekat. Himpunan menjadi tempat ‘pulang’ kembali ketika kosan terasa tidak nyaman. Rumah kedua. dengan internet super cepat :p. 

 DSC08190DSC08246

 

Martabak Ultra

image Teman sekalian, sudah sewajarnya ketika kita melaksanakan perkuliahan kita memiliki teman-teman yang super banyak. Ada empat tahun di masa ini untuk bergaul dengan siapa pun , lintas angkatan, lintas jurusan atau lintas universitas. Dan tentu diantara teman-teman itu ada beberapa orang yang kalian sering menghabiskan waktu super banyak bersama mereka. Dalam kasus saya, waktu yang super banyak itu bernama Tugas Besar dan orang-orang itu adalah mereka disamping ini.

Aahhh…so memorable. Perhatikan hanya ada satu anak daerah disini (misalkan Tito yang dari Depok dianggap cukup kota). Bagaimana ceritanya ? dan apa itu martabak ultra ?

Mari kita mulai dengan definisi tubes terlebih dahulu. Hal ini akan menjadi penting untuk tahun-tahun berikutnya. Tubes adalah tugas yang akan menyita waktu kita siang dan malam, mempertemukan kita pada orang-orang yang itu saja dalam jangka waktu lama dan di depan laptop berjam-jam lamanya. Flashdisk, email dan internet adalah teman sejati di kala ini. Dan martabak ultra ? Ya, martabak ultra adalah tombo lapar di kala mengerjakan tubes. Ketika perut anda sudah mulai keroncongan sementara barisan kode masih begitu jauh dari kata selesai, martabak ultra niscaya akan menjadi teman yang sejati. Martabak Ultra, dulunya terletak di jalan Dipatiukur yang berdekatan dengan markas kami mengerjakan tugas : Kosan Agus. Kelompok ini begitu mencintai martabak ultra hingga menamai kelompok tugas nya dengan nama K22-Ultra. K22 adalah pemberian dari asisten, artinya Kelompok nomor 22 dan Ultra artinya adalah martabak ultra. Teman dikala lapar.

Tercatat dari tubes 1 , algoritma dan struktur data. Membuat simulasi email. Haha…ini adalah masa nista. Terus terang kontribusi boleh dibilang minim. Saya harus katakan programming ini belum menjadi hal yang saya mengerti saat itu. Terlalu banyak ikon-ikon senyum yang muncul ketika di-compile yang artinya ada kebocoran memori. Tubes OOP kuliah semester berikutnya kembali dengan formasi yang sama, dan meluncur dengan produk bernama fantasista. Nah, sebelum tugas OOP kedua nan berdarah ini kita juga menyelesaikan spreadsheet dengan tidak sempurna pada tugas OOP pertama. Masih ingat rasanya ketika hendak menggondol komputer agus gara-gara dikosannya listri mati, sementara kode terakhir masih ada di komputer desktopnya dan kita akan pindah ke kosan saya. Dan untuk tugas-tugas kelompok berikutnya, seringkali adalah subset dari kelompok ini hingga kami akhiri dengan manis di tugas PPL dengan pak de cale sebagai project manager-nya.

 

imageTahun kedua adalah tahun yang menyenangkan, hmm … tidak sepenuhnya sih. Ada kepahitan juga terjadi di kehidupan pribadi, sebut saja kehidupan percintaan sedang tidak pada musimnya. Tapi saya menikmati itu semua.

Pekerjaan utama saya adalah menjadi dokumentasi disetiap acara yang diselenggarakan HMIF, kebanyakan di acara divkel. Masuk ke dalam DSC00172_resizetim sepak bola HMIF, latihan penuh semangat, bermain di sabuga dan mencetak gol. Jalan-jalan, keliling Bandung, makan di luar dan mulai sering banget nonton film. Berkenalan dengan yang namanya Imagine Cup menonton final ke Jakarta, melihat ITB menjadi juara, terinspirasi dan tumbuh semangat belajar. Menjuarai turnamen internal dengan tim Andalas, bermain futsal, menantang himpunan lain untuk bermain sampai di kalahkan telak oleh himpunan di dengan kantin barat laut. Meskipun di dalam hal akademik tendensinya  menurun menurut tapi itu bukan menjadi hal yang besar.

DSC00190_resizeKegiatan unit, latihan  UKMR untuk persiapan tampil  PSB, menerima anggota 2007, membuat properti kapal segede kapal :). Siaran di RK, mencoba mengikuti kegiatan terpusat di kampus ITB, PSB, DAT, menghadiri satu forum kampus, malam hari  menjadi pengobatnya.

Tahun kedua adalah tahun mengabdi kepada himpunan dan unit kegiatan. Tahun kedua adalah ketika kampus menjadi tempat yang begitu nyaman hingga berlama-lama sampai larut. Tahun kedua benar-benar sebuah reboot strategy dari apa yang sudah dicanangkan di awal kuliah.

What’s next ?

 

 

Dewan Eksekutif ?

image

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sampai jumpa di keping 3. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s