Keping 3 – The Battlefield

Saya pernah bercerita mengenai keinginan saya untuk menjadi rakyat di masa kuliah pada keping 1. Dan pada keping 2 saya sempat menyinggung sebenarnya paradigma itu kian lama kian bergeser. Dan inkonsistensi itu arkhinya menyeruak di tingkat 3. Ya, it was anything you called Epic, Awesome,Great,Magnificient. But, it is a big battlefield for me.

Pejabat Organisasi

Ketika akhir kepengurusan kahim Iqbal berakhir, dan HMIF memiliki Nanto sebagai kahim baru. Posisi para kadiv pun kosong. Entah apa yang waktu itu merasuk ke dalam pikir saya…tanpa saya sadari satu buah essay dan cv serta merta dikirimkan ke email sang ketua dan jajaran utama. Tak lama kemudian, saya pun diangkut menjadi Kepala Divisi Media.

Tidak pernah terpikir tadinya bahwa saya akan menjabat posisi ini. Bukan berarti jabatan ini lebih strategis, Kadivkel dan Kadivpro pastinya lebih punya tanggung jawab besar. Tapi, menjadi seorang kadiv, diorganisasi HMIF ini bisa saya pastikan menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan diri saya.

fotoTapi saya belajar banyak hal. Bagaimana membuat program kerja yang disesuaikan dengan visi misi organisasi dan arahan dari ketua himpunan. Tidak boleh asal-asalan. Saya pun belajar berpikir struktur, mulai dari akhir (goal) lalu tarik ke depan, bagaimana langkah-langkah mencapai tujuan tersebut. Saya pun sangat terbantu dengan rekan-rekan seangkatan yang meskipun sibuk tapi begitu saya perlukan dapat hadir meminjamkan tangan. Belum lagi, anak-anak divisi, yang saya sebut kru media angkatan 2007. Merekalah laskar media saat itu. Saya pun tidak mengerti, tapi yang jelas, menurut saya kru media dari angkatan 2007 begitu mumpuni dalam bidangnya. Bahkan saya tidak perlu menyentuh tataran teknis. Mereka sudah mengerti. Mereka sudah memahami. Dengan kemampuan juga yang luar biasa. Bahkan ketuanya saja hanya bisa Word =)). Jadi hasil pekerjaan proker selama setahun ini benar- benar terlaksana berkat kerja keras mereka.

Disamping itu, selain masalah divisi adalah bagaimana bertindak sebagai pemimpin dalam himpunan. Rapat hari minggu dengan denda 1000 per menit jika telat. Benar-benar weekdays untuk kuliah dan weekend untuk himpunan. Pacar pun sempat marah mengenai kesibukan baru ini.  Tapi, sekali lagi , HMIF menjadi media pembelajaran yang luar biasa bagi diri saya dan pastinya teman-teman semua. Rekan-rekan DE ketika saya menjabat, Fahmi, Austin, Ncus, Tito, Upan, Obi, Ivan, Vinta, Aji, Mel,Ernest, Ipong, Dara, dan Nanto tentunya. Terima kasih untuk pembelajarannya yang begitu berharga.

Selain di himpunan, saya pun mengurusi pula sebuah Unit Kebudayaan baru, yaitu UKMR. Karena jumlah anggota yang masih sangat minim saat itu maka sebagai salah satu dari anggota termuda kami pun turut serta mengurus unit dan saya dianugerahi jabatan Kepala Divisi Seni dan Budaya, di bawah pimpinan teman kami Trisna (AR 06). Lain dihimpunan lain pula di unit. Disini kegiatannya lebih tidak teratur dan terjadwal. Dapat dimengerti akibat organisasi yang belum begitu beres plus tidak tersedianya sekre. Kami baru berumur 1 tahun saja.

Tentunya keadaan demikian memaksa kami untuk berpikir mengenai kelangsungan organisasi, termasuk didalamnya bagaimana menjaga anggota. Maka lahirlah yang kami namakan GJJ atau Ganesha Jalan-Jalan. Sebagai yang memberikan usul kegiatan ini saya pun didapuk menjadi ketua pelaksana kegiatan. Sebuah acara untuk mengenalkan ITB ke pihak sekolah di Riau. Disela-sela mengurus himpunan saya harus menyempatkan mengurusi acara perdana UKMR ini. Dukungan dari BP UKMR begitu besar hingga kami rasa mampu menyelenggarakan kegiatan ini dengan baik plus meningkatnya keakraban dan kekeluargaan diangara anggota. 2006, 2007 dan 2008 begitu menyatu. Saya senang aroma kekeluargaan yang berhasil dibangun di dalam panitia.

image

Selain itu fakta unit ini masih baru justru itu yang menjadi motiviasi bagi kami semua apalagi trisna. Di akhir jabatan kami pun berhasil mendapatkan sekre unit. Sekarang ? Setiap tahunnya diselenggarakan acara kunjungan ke Riau,pagelaran pertama di Aula Barat, bahkan akan menyelenggarakan lustrum pula. Saya bangga dengan teman-teman unit angkatan muda yang berhasil mewujudkan itu semua. Selain himpunan dan unit, di tahun ini saya juga mulai mengembangkan …

 

Karir Keprofesian

Awal tahun ketiga juga menjadi perjuangan memasuki suatu organisasi teknologi yaitu Microsoft Innovation Center ITB, yang notabene merupakan hasil kerja sama ITB dengan Microsoft Indonesia untuk mendirikan sebuah center of excellence bagi mahasiswa untuk eksplorasi teknologi Microsoft. Lebih lanjut lagi, pertemuan dengan Ronald, Manager saat itu juga menjadi tipping point dalam karir keprofesian saya.

Disini saya mengenal framework .NET untuk pertama kalinya lantas jatuh cinta hingga sekarang. Disini saya pula mengenal Silverlight. Disini saya mengenal ASP.NET. Disini saya mengenal Windows Multipoint. Disini saya berkesempatan untuk belajar teknologi terbaru dari Microsoft. Disini saya berkesempatan untuk menggunakan fasilitas yang tersedia.

Berkat pengalaman ini saya pun mengenal proyek ala mahasiswa pertama saya. Saat itu bekerja bersama Damas, Fabul, Lea dan Gege.Tidak begitu besar tapi menghasilkan duit sendiri dengan bekerja (tidak dengan lomba) memiliki sensasi sendiri. Tidak lama berselang, Ronald meneruskan sebuah project Silverlight dan menjadi project kedua saya selama kuliah ini. Dan untuk yang satu ini, benar-benar berbeda. Bekerja dengan tim yang sudah terbiasa mengerjakan software begitu berbeda. Saya seorang diri di-inject ke dalam proyek yang sudah berjalan dan ikut mengerjakan 2 page yang harus di bangun di atas Silverlight, sesuatu yang hanya saya pegang tidak lebih dari 1 bulan sebelumnya. Tapi pengalaman hands-on langsung di lapangan benar-benar berbeda. Benar-benar memaksa kita untuk belajar hal-hal baru. Saya tadinya tidak tahu apa itu SQL Server, Web Service, XML dan sebagainya. Proyek lah yang mengajarkan saya itu. Dan selanjutnya adalah proyek ketiga , Multipoint Apps untuk salah satu vendor di Indonesia. Lagi-lagi Ronald yang memberikan informasi ini. Dan saya bekerja dengan Ferry Jansen Ume dan Ronal sendiri. Saya belajar lagi bagaimana me-manage sebuah tim dalam project.

Masuk di MIC, membuat saya menjadi makin cinta dengan teknologi, khurusnya pemrograman aplikasi. Benar kata orang, cinta karena biasa. Selain MIC, pada tahun yang sama juga saya berkesempatan untuk menjadi Asisten di Laboratorium Sistem Informasi ITB setelah melalui beberapa proses yang tidak sederhana. Menjadi asisten kuliah, memberikan tugas, menyiapkan presentasi, dan knowledge shareing adalah hal-hal yang menyenangkan yang didapat selama menjadi asisten lab. Tapi kegiatan masa kuliah ini kadang suka sulit akibat oleh …

 

Badai Deadlineimage

Kata orang TPB adalah Tahap Paling Bahagia. Katanya tingkat dua adalah masa adaptasi. Maka tingkat 3 di IF, kami menamainya Badai Deadline. Tugas besar tidak berhenti dari satu kuliah ke kuliah lainnya. Benar-benar menyiksa. Mendengar kata tubes lama-lama hanya seperti mendengar adzan saja. Sudah terbiasa. Tapi terpanggil juga untuk mengerjakannya.

Tim Tubes tentunya besar sekali dan berbeda-beda untuk setiap tugas. Yang menjadi sulit tentu saja adalah   pembagian waktu karena sering kali terjadi tugas yang bersamaan dan dengan orang-orang yang berbeda. Tapi rumah terbaik untuk mengerjakan tubes ini tentu saja adalah Sekre 2.

Sekre 2 HMIF menjadi tempat yang paham dan menyaksikan semua seluk beluk pengerjaan tugas besar. Dan saya biasanya memiliki ke-khasan yaitu bekerja pada pojok ruangan, diatas kotak amal berwarna coklat. Nyaman dan PW. Dan membuat semangat tubes tetap terjaga dengan posisi ergonomis yang sesuai.

Dan tentu saja begadang menjadi suatu keharusan. Tidur di kampus menjadi kebiasaan. Tidak mandi pagi untuk pergi kuliah pun kadang dilakukan. Demi tugas yang selesai. Demi nilai yang lebih baik. Demi memenuhi harapan orang tua di rumah :).

Saat ini menyaksikan teman-teman angkatan muda mengalami tubes-tubes itu kadang timbul rasa kangen. Meski pun kadang saya suka eMTe dalam mengerjakan tugas. Bahkan Jarkom pun tanpa ical entah bagaimana caranya. OS tanpa Samsi entah seperti apa ceritanya. Disatu waktu saya hanya bertindak sebagai pelengkap, sebagai tim doa. Disisi lain saya menjadi programmer yang baik. Di tempat lain kadang hanya jadi dokumentasi. Semua posisi coba dijalani. Dan kalau dipikir-pikir, tingkat tiga, saya belajar banyak bahasa, belajar banyak teknik pemrograman dan menghasilkan banyak program. Sebut nama kuliah di tingkat 3 dan kalikan dua untuk jumlah tubesnya. Begitu padatnya kuliah di tingkat tiga tapi saya berusaha untuk tidak hanya terpaku di akademik saja tetapi juga mengikuti hal lain seperti lomba dan pemilihan yang…

 

(Belum) Bisa disebut Prestasi

imagePada tingkat 3 ini juga saya mulai memberanikan diri untuk mengikuti lomba. Puncak yang ingin dicapai  dari mahasiswa informatika adalah Imagine Cup. Lomba yang ditaja oleh Microsoft dan sudah dimenangkan 3 kali berturut-turut oleh Informatika iTB.

Mengenal lomba ini setahun sebelumnya , menjadi tertarik dan sedikit berambisi. Meski dibekali dengan teknologi minim dan pengalaman yang belum mumpuni, saya memberanikan diri untuk ikut. Mulai dengan mencari teman-teman yang siap diajak berjuang.

Akhirnya tim kami, Darah Biru terbentuk dengan formasi sebagai berikut : Andru (Core Programmer, Database Guru), Ernest (Analyst,Presentar), Tito (Programmer, Desainer), Puja (Programmer,Project Manager) dengan proyek Vena , vaccine support system. Yang tidak kami sangka adalah bahwa kami berhasil maju ke semifinal. Meski dengan pengalaman minim dan project yang menurut kami unggul di konsep minim implementasi kami dapat kesempatan untuk presentasi di depan para juri : pakar teknologi dari Microsoft. Benar-benar sebuah pengalaman lain lagi. Meski dibantai dalam artian yang baik, kami tetap senang. Dan tidak hanya itu, tapi kebersamaan selama mengerjakan proyek ini yang benar-benar membuatnya begitu menyenangkan. Bermalam di rumah andru, membuat video, kumpul rapat progress, makan-makan dan lainnya. Hohoho…so memorable.

Sebenarnya selain Imagine Cup, pada tingkat tiga saya juga mengikuti lomba yang lain,yaitu INAICTA. Kali ini bersama dengan Andru, Ical , Aloy dan DIlla. Tapi sayang sekali konsep yang kami bawa tidak berhasil mendapatkan pengakuan dari panitia. Big lost, here.

Dan tentu saja pengalaman berikutnya adalah mengikuti pemilihan mahasiswa berprestasi ITB. Dimulai di tingkat jurusan dimana saya Alhamdulillah berhasil mendapat peringkat kedua, dan maju untuk tingkat fakultas. Bersama Davsam dan Restya. Waktu itu saya membawa makalah tentang pemanfaatan Multipoint untuk aplikasi edukasi. Di tingkat fakultas, Alhamdillah kembali mendapat peringkat kedua sehingga mendapat titel Mahasiswa Berprestasi tingkat STEI peringkat 2, dibelakang Davsam.

Meski pencapaian tersebut bukanlah berhasil menjadi yang tertinggi namun demikian memberikan begitu banyak pemebalajaran dan manfaat bagi diri pribadi. Ayo, ikuti hal lain di luar akademik, dapat dipastikan memberikan perspektif dan pengalaman baru. Dan pada akhirnya sampailah pada saat …

 

Kerja Praktek

Pada akhir tingkat 3 maka saya pun bersama rekan Nadhira mulai melaksanakan KP, atau kerja praktek. Dengan bekal informasi tertentu, Nadira berhasil mendapatkan tempat kerja praktek di Mitrais, ISV yang terletak di Kuta, Bali.

Kerja Praktek ini juga menjadi ajang liburan yang menyenangkan . Guys, we’re in Bali so we supposed to enjoy it well. And I think we did it. Selain saya dan Nadhira, juga ada rekan Davsam-Andri-Ical, rekan Camok-Tony-imageTepan, rekan Aloy-Harbag, rekan Eka-Gandi yang berkesempatan untuk mencicip Bali. Senin sampe jumat kami pun sibuk dengan pekerjaan kami. Tapi ketika weekend, itu saatnya bersenang-senang.

Carter mobil, lalu berkeliling Bali . Dari ujung selatan hingga ujung utara. Dari laut hingga gunung. Pantai hingga danau. Hampir semua objek Wisata di Bali kami kunjungi. Masa  KP merupakan masa yang sangat menyenangkan. Hingga sekarang pun saya sendiri masih sering rindu dengan KP, dengan Bali, sate lilit dan tentu saja para bule kece yang berjemur di pantai.

Selama KP di Mitrais kami di asuh oleh Pak Mone dan bekerja sama dengan dua rekan dari ITS, yaitu Grand dan Mario.

 

Kira-kira highlight tingkat tiga masa perkuliahan adalah seperti itu. Menyibukan diri dengan kegiatan organisasi, UKMR dan HMIF, hingga sampai mengorbankan RK. Sempat juga mengikuti panitia dari Olimpiade dan beberapa kegiatan kemahasiswaan terpusat. Disisi lain coba pula mengembangkan diri sesuai dengan bidang yang digeluti, menjadi asisten dan mencoba mengikuti beberapa lomba. Dan tubes, ya…tubes. Badai deadline itu tidak terelakkan. Saya pun lumayan sering sakit-sakitan pada tingkat 3 ini. It is really a battlefield for me.

2 thoughts on “Keping 3 – The Battlefield

  1. Puncak dari semua prestasi Puja adalah diwisuda pada Hari Sabtu 23 Oktober 2010 dengan predikat “Cum Laude”. Selamat ya dengan predikat yang luar biasa itu. Seluruh kerja keras dan keihkhlasan pasti berbuah manis.

    1. Alhamdulillah semoga bisa berguna di masyarakat. Terima kasih untuk Pak Rin yang sudah membimbing kami, saya ikut kuliah Pak Rin sampai 3 kali :).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s