Seputar IT Startup

Belakangan ini, untuk mengisi waktu sembari menunggu panggilan kerja dari beberapa perusahaan yang saya apply, saya cukup giat mengikuti perkembangan geliat IT Startup lokal di Indonesia, via blog dan event yang diselenggarakan. Terdapat kecenderungan yang menarik , mirip dengan bubble.com di era 2000-an, era kaum muda IT juga sedang ramai-ramainya mendirikan IT Startup. Definisi startup sendiri, mari kita pandang secara sederhana sebagai suatu company, yang belum lama beroperasi dengan resource yang terbatas. Tentunya geliat ini sedikit banyak dipicu oleh akuisisi Yahoo terhadap layanan web startup Koprol dan menggelontornya dana venture capital pada layanan Urbanesia.

Beragam komunitas di beberapa kota pun tumbuh, masing-masing menjadi penggiat di daerahnya, melakukan update mengenai info terkini, kemungkinan-kemungkinan bisnis dan terutama menjalin networking. Di Jakarta ada komunitas #startuplokal yang setiap bulan mengadakan meetup gratis dan memberikan update dari sisi non teknis. Di bandung ada FOWAB,kabarnya dalam waktu dekat akan mengadakan event. Ada Suwec di Surabaya dan Bancakan di Jogja. Masing-masing komunitas tumbuh dan saling mendukung satu lama lain. Di dalam negeri (baca : informatika) ternyata juga memiliki semacam paguyubannya yang dinamakan if-association, tempat berkumpulnya alumni-alumni if yang memilih jalan hidup untuk berusaha dan membangun perusahaannya sendiri. Tidak jauh-jauh, beberapa diantaranya adalah orang-orang yang sudah sangat saya kenal dan malah biasa bermain bersama. Bermain bola. Bermain di SI 🙂 .

Beberapa startup company, bertindak sebagai ISV, sebagai vendor yang menghasilkan custom development tergantung keinginan klien. Beberapa diantaranya melakukan pengembangan produk. Banyak perdebatan mengenai ini , tapi secara umum banyak yang mengambil kesimpulan akankah sangat baik jika sebuah startup memiliki produk yang bermutu, punya daya tarik yang kuat, market dan plan untuk monetisasi yang jelas dan melakukan project untuk tetap menjaga kelangsungan perusahaan. Saya tertarik untuk beropini mengenai bagaimana produk yang dihasilkan oleh startup.

Startup di Indonesia saat ini banyak bermain di area web service. Layanan yang berjalan diatas web. Mungkin saya salah, tapi saya rasa ini ada dipengaruhi oleh suksesnya layanan Google, Facebook , Twitter dan lainnya. Sebagian ada yang melakukan naturalisasi terhadap produk yang serupa di luar negeri dan di-wrap sedemikian rupa menjadi konten lokal. Biasanya produk tipe ini disebut clone. Rasanya tidak ada hal yang salah mengenai cara ini. Yang paling penting adalah bagaimana produk harus tetap memiliki identitias, pembeda dari layanan yang sudah ada. Area boleh sama, tapi KTP tetap harus ada. Toh, facebook bukan merupakan yang pertama bermain di area social network tapi sangat sukses seperti sekarang ini. Yang paling penting adalah bukan siapa yang pertama tapi siapa yang terbaik. Memang, akan lebih baik jika kita menjadi yang pertama. Tipe produk seperti ini , yang bertipe consumer application pada dasarnya memiliki tingkat kesulitan yang relatif. Lebih banyak bermain dari sisi ide. Oleh karenanya sangatlah dituntut untuk terus berinovasi, penambahan fitur, perbaikan interaksi dan lain-lain untuk tetap menjaga user yang ada. Karena ada kemungkinan ditempat lain, ada company lain yang akan mengeluarkan produk serupa dan dalam waktu yang tidak berbeda jauh. It’s good to be the first, but it’s important to be the Best.

Tapi pembicaraan saya dengan seorang senior yang sedang melanglang buana di negeri nun jauh disana memberikan insight yang menarik. Adanya keinginan untuk membangun startup yang menghasilkan produk tapi tidak bersifat consumer apps. Salah satu kunci nya adalah penggunaan teknologi yang terkini, segmented dan dari sisi teknis relatif lebih sulit. Tipe produk seperti ini menurut saya walau memiliki market yang lebih kecil namun jika bisa perform bagus dapat menciptakan monopoli pasar tersendiri, atau standar baru. Dan dari sisi teknologi relatif lebih lama dapat dikejar oleh para pesaing. Contoh yang kita ambil waktu itu adalah produk DMR (Digital Mark Reader) , hasil karya salah satu dosen di if. Dimasa awal keluarnya produk tersebut tentunya merupakan suatu produk yang bisa dibilang sangat inovatif. Performa tinggi, easy to use, dan buatan lokal :D. Sekarang kita dapat melihat standar ujian akhirnya semua beralih menggunakan alat pembaca jawaban ini. Produk ini pun sudah di ekspor ke beberapa negara tetangga. DMR merupakan contoh tepat untuk menunjukkan suatu produk yang memiliki teknologi yang maju dan inovatif. Saya pastikan pengembangan produk seperti ini tidak dapat memakan waktu yang singat. There’s science behind the the software.

Tentunya pemilihan tipe produk sangat bergantung dari strategi masing-masing perusahaan. Tapi saya rasa cukup penting untuk perusahaan memiliki produk sendiri. Glad to know, beberapa teman di if sudah banyak yang mengeluarkan produknya sembari tetap mengerjakan project. Mari sebut saja ada RuangMain dari Starqle, Ponporon dari Agate, Gapala dari Nuesto, Nusol dari Sangkuriang, dan yang teranyar adalah CapCipCup dari Layang-Layang. Untuk informasi mengenai startup saya sendiri mengikuti blog Dailysocial.net dan teknojurnal.com. Bisa juga untuk follow twitter @startuplokal, @fowab,@bancakan,@suwec , banyak orang-orang hebat disana. Berada di lingkungan yang tepat juga dapat mengasah diri kita.

Sayangnya , masih terdapat beberapa hambatan untuk geliat pengusaha startup. Yang utama adalah dukungan modal. Karena sifatnya yang masih perusahaan baru biasanya dari sisi modal juga tidak begitu bisa berfoya-foya. Tulisan rekan Paw disini mungkin bisa memberika gambaran sumber-sumber pendanaan yang dapat diselidiki. Yang jelas, sampai saat ini pinjaman lunak dari Bank masih sulit diproses akibat tipe startup yang tidak memiliki fixed asset untuk dijadikan jaminan. Entah kapan, intelijen asset kita alias otak dapat menjadi jaminan untuk peminjaman (which is itu harusnya lebih mahal). Dan angle investor dan venture capital yang menjadi enabler yang baik bagi startup di luar negeri misalnya Amerika , terdapat di Indonesia. Pemerintah ? Harunya justru disini bisa banyak berperan. Toh, dari pidato SBY di awal 2009 menyatakan bahwa industru kreatif (dalam kepala saya startup IT masuk golongan ini) akan menjadi ekonomi baru. Beberapa kita lihat pemda memiliki program inkubasi untuk UKM-UKM tipe ini. Dan beberapa ajang kompetisi untuk meningkatkan eksposure juga sering diadakan sebagai support. Tapi rencana pengenaan pajak untuk web dan software yang kabarnya pernah muncul mungkin bukan langkah bijak. Alih-alih membantu, itu justru dapat menekan semangat yang sedang bertumbuh. Di Singapura, pemerintah punya alokasi sendiri untuk bantu dana pengembangan startup company, di Indo masak sih mau dipajakin T.T. Selain itu ada lagi masalah konsumen di Indo yang masih “jarang” aware bahwa untuk software itu ada biaya yang harus dilakukan pun itu sebuah layanan web application, dan pun kalo mau bayar sayangnya epayment dan ecommerce di Indo belum begitu menggeliat.

Semoga akan terus ada perbaikan ke depannya dan startup-startup di Indonesia dapat terus berkembang. Semoga perkembangan ini membawa perubahan yang baik bagi Indonesia. Saya ikut mendoakan.

3 thoughts on “Seputar IT Startup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s