Kraniaktomi

Saya rasa sebagian besar pembaca baru pertama kali mendengar istilah tersebut. Saya akan memandu pelan-pelan sampai kita semua mengerti dengan istilah kraniaktomi.

Tanggal 1 Febuari 2011, saya pastikan akan selalu menjadi bagian penting dalam sejarah hidup saya. Itu hanya satu hari setelah saya berulang tahun, dan hanya satu hari sebelum ayah saya berulang tahun. Itulah ditanggal saya mendapatkan mungkin peringatan, mungkin juga cobaan dari Allah SWT.

Tidak ada firasat apa pun. Saya menuju YPKP seperti biasa, menggunakan motor supra hitam saya. Sudah lama tidak bermain futsal, rindu rasanya. Karena itu ajakan untuk memperkuat HMIF dalam pertandingan persahabatan kontra Fasilkom UI menjadi pengobat rindu. Harusnya.

Hujan pun turun. Sialnya, kami bermain di lapangan luar YPKP, yang dilingkup oleh kerangkeng dan air hujan dapat merembes. Bagian sisi kanan lapangan mulai tergenang air tipis. Saya pun sempat sekali terjatuh disana karena lantai yang licin. Mungkin itu salah satu pertanda bahwa bermain disaat seperti itu berbahaya. Apa daya, nafsu untuk bermain kepalang tinggi. Tidak lama kemudian, saya keluar dari lapangan.

Entah apa yang ada dalam pikiran saya, karena saya tidak ingin terlalu capai, saya minta Maul yang saat itu menjadi kiper untuk digantikan. Jadilah saya kiper HMIF. Menggunakan kostum nomor 5 favorit saya. Dasarnya punya darah pemain bukannya seorang kiper,,,ketika terdapat bola lambung yang mengarah ke sisi kiri lapangan dan tidak terdapat pemain kami disana, saya memutuskan maju. Saya lari menyongsong bola…sedikit melompat, melepaskan tendangan kaki kanan, bola keluar lapangan. Naasnya, ketika saya mendarat, ada genangan air tipis, saya terpeleset, saya lupa tangan saya berada dimana,,,kepala bagian depan membentur lantai futsal dengan sangat keras. Kejadian itu hanya beberapa detik saja. Saya tergolek di lapangan, meringis memegangi kepala saya.

Ketika saya membuka mata, sudah ramai orang yang mengelilingi saya, sempat mendengar Arif 08 bertanya sambil mengacungkan telunjuk “Ini berapa ja,” , sambil ketawa kecil, “ya satulah emang kenapa sih”. Sambil memegang kepala yang rasanya mulai nyut2x, saya dipapah teman-teman keluar dari lapangan dan saya tiduran di luar. Saya minta tolong Pudi untuk memintakan es batu untuk mengkompres kepala saya ketika saya sadar dan memegangi bagian dahi saya, sudah cekung seukuran koin 100 besar. Dekok, kalo kata orang sunda. Masuk ke dalam. Bah.

Tanpa babibu lagi saya meminta tolong Tito untuk mengantarkan saya ke rumah sakit, takut telah terjadi sesuatu dengan kepala saya. Buset, ini investasi bertahun-tahun, sekolah dari SD ampe kuliah . Akhirnya Roy maju karena saat itu ia membawa kendaraan roda empat. Hujan masih turun , kepala dekok, saya dipapah Fabul menuju mobil dan selalu oleng ke kanan ketika berjalan. Tidak seimbang. Ibarat pesawat patah sayap di sebelah kiri, kalau jalan jadi berat ke kenan. Saat itu juga kepala mulai pusing. Pusing. Yah, tahu kan ya rasanya pusing.

Sepanjang perjalanan, saya hanya tiduran di jok belakang, rebahan, sambil sesekali meraba dahi saya yang dekok. Cekungnya dalam hati saya. Karena pusing sekali saya hanya dapat menutup mata sambil menahan rasa sakit. Sambil terus berdoa,semoga tidak terjadi apa-apa yang membahayakan saya. Jalanan Bandung pukul 5 sore, tidak bisa diharapkan. Macet, ditambah hujan. YPKP- Borromeus, dengan rasa sakit dikepala terasa sangat jauh sekali. 20 menit yang begitu menyiksa.

Masuk UGD. Saya tidur di kereta dorong pesakitan itu. Sambil memegangi kepala yang masih sakit ini. Mulai didatangi suster,dikasi infus, dikasi alat bantu pernafasan. Di injeksi obat anti nyeri. Perlahan sakit nya mulai berkurang akibat pengaruh obat tersebut. Tito, Roy dan Fabul menemani saya di UGD sambil mengabari kecelakaan ini kepada keluarga di Pekanbaru,Bandung dan Jakarta. Mata saya di cek, ditanyakan beberapa hal,pusing, mual, muntah dan sebagainya.

Saya pun disuruh CT-Scan, rontgen hanya menampakkan susunan tulang kepala tanpa bisa melihat isi dari rongga kepala tersebut. Takutnya ada sesuatu terjadi di dalam sana. Sumpah, membayangkannya saja sudah takut duluan. Digotonglah saya ke ruang CT-Scan setelah prosedur yang rumit, masalah birokrasi tanda tangan keluarga yang akhirnya diselesaikan si Fabul.

Ketika Uwa telah datang, hasil CT-Scan keluar,dan diberitahukanlah hasil sementara. Tulang dahi saya PATAH. Interlocking. Bayangkan tulang dahi kita lurus seperti – dan sekarang bayangkan setelah patah tulang dahi saya seperti v . Interlocking.

Datanglah dokter bedah saraf tersebut menghampiri saya, melakukan serangkaian tes. Mata saya , ke kiri, ke kanan. Tangan diangkat, pose terbang. Kaki diangkat, di tekuk, sikap lilin dan sebagainya. Setelah serangkaian tes dia pun berkesimpulan “Sudah, tidak apa-apa kok. Saraf dan otaknya bagus”. Alhamdulillah. That’s the good news.

Kemudian beliau menjelaskan lebih detail bahwa tulang dahi saya patah dan membentuk huruf V. Untungnya, patahan tersebut terjadi didaerah yang berongga sehingga petahan tidak melukai organ lain di dalamnya. Otak saya selamat. Tidak ada luka luar tapi bisa dipastikan terjadi pendarahan di dalam. Beliau berkesimpulan tidak ada kerusakanan pada otak saya. “Untung kamu jatuhnya ke depan,bukan ke belakang”. Orang Indonesia, selalu dapat melihat hikmah dari semua kejadian. Selalu masih ada untung yang patut untuk disyukuri. Itu berita baik berikutnya.

Tapi untuk mengembalikan posisi tulang saya tersebut,jalan satu-satunya adalah operasi yang disebut Kraniaktomi. Dokter menjelaskan, jika tidak operasi pada dasarnya tidak apa-apa, pendarahan dapat diobati dengan obat minum, namun jidat saya akan dekok selamanya . Karena interlocking,posisi terkunci sehingga tulang tidak bisa kembali seperti semula. Operasi bertujuan untuk mengembalikan posisi tulang tersebut, dan memberikan obat agar tersambung kembali. Mendengar kata operasi, otak saya yang sudah dinyatakan selamat mengirimkan sinyal merinding ke seluruh tubuh saya. Agak takut juga mendengar kata operasi. Tapi jika memang demikian adanya ya saya menurut saya. Uwa pun setuju. Masih di ruang UGD teman-teman bola datang, manajer,Obi dan Andru juga

Saya pun menjalani rawat Inap. Operasi akan dilaksanakan besok sore, bertepatan dengan ulang tahun ayah saya.

image

Waah…ternyata bagian dari maen futsal sampe UGD nya saja sudah sepanjang ini. Baiklah, saya akan mempersingkat detail ceritanya. Alhamdulillah operasi berjalan lancar, dibius total dan baru sadar 3 jam kemudian, tulang saya dikembalikan pada posisinya sebagai imbalananya di dahi terdapat 14 jahitan sepanjang 8 cm di atas alis kiri. Setelah operasi saya dirawat lagi selama 3 hari. Terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah datang menjenguk selama saya dirawat, membawa segala macam makanan (sudah habis loh sekarang). Setelah rawat inap 4 hari, saya bed rest di rumah nenek di cibereum agar dapat diurus uwa dan orang tua disana. Setelah 10 hari, jahitan di buka dan diminta untuk tidak melakukan olahraga yang berat, yang bisa menyebabkan guncanan pada kepala. Setidaknya pantangan tersebut dilakukan sampai evaluasi dua bulan lagi, untuk melihat kondisi terkini dari bekas patahan tersebut.

Begitulah kisah saya di awal febuari ini. Sungguh , sakit itu tidak enak rasanya. Sehat itu berharga sekali. Dan sekarang saya bersyukur sekali meskipun mengalami kecelakaan sedemikian rupa, tidak menimbulkan efek terhadap sistem saraf saya. Mari bersyukur pada Allah SWT. Dan terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah merawat saya, mengantarkan ke rumah sakit, menjenguk , sms ,tweet , email dan ucapan di fb yang tidak bisa dibalas satu-satu.

Jika rekan sudah membaca hingga baris ini, sudah mengerti dong apa yang namanya kraniaktomi ?

3 thoughts on “Kraniaktomi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s