Langkah Setahun Ini

Hari ini genap satu tahun saya lulus dari kampus , menanggalkan status mahasiswa dan menjadi bagian masyarakat Indonesia seutuhnya. Ada yang bilang “baru” satu tahun . Ada yang bilang “sudah” setahun. Berapa relatifnya waktu.

Selama setahun ini, seingat saya, saya selalu berusaha menjalani setiap hari yang saya lewati dengan penuh semangat . Berusaha konsisten menjalani setiap keputusan yang sudah saya ambil.

Tidak bekerja dikantoran terlebih dahulu. Sebenarnya hal ini terjadi secara tidak sengaja. Pada awalnya saya justru sempat melamar ke beberapa perusahaan, seperti dua perusahaan management consulting , dua perusahaan oil company,  dua bank BUMN dan satu perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia. Tidak semuanya berjalan sesuai rencana. Tidak semua yang kita harapkan dapat kejadian. Jika saya tidak salah ingat, dari tujuh perusahaan yang saya daftarkan itu, empat diantaranya tidak berhasil saya dapatkan. Bahkan, saya selalu terhenti di tahap 1 tes yang diselenggarakan.Satu perusahaan telco itu tidak jelas rimbanya. Dua bank BUMN di tengah jalan saya hentikan prosesnya karena entah mengapa ketika proses rekrutmen berlangsung, ada rasa kecamuk di dalam diri mengenai apakah saya harus meneruskan proses itu dan bekerja minimal 3-5 tahun di perusahaan tersebut. Disatu sisi, kebutuhan saat itu sebenarnya cukup mengharuskan saya untuk segera mendapatkan pekerjaan tetap. Tapi disisi lain, entah kenapa hati kecil saya sedikit mengeluh jika “terpaksa” bekerja secepat itu,dalam kondisi saat itu, perasaan masih bebas selepas mahasiswa. Betapa relatifnya perasaan.

Semuanya terjadi begitu cepat dan tanpa sadar banyak hal yang membentuk jalan yang sekarang ini sedang ditempuh. Beberapa kegiatan yang membuat saya berkenalan dengan dunia enterpreneur, dunia yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Membawa excitement tersendiri. Membawa semangat yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Di sisi lain, ada kesempatan-kesempatan yang terbuka, dan hanya terbuka jika saya tidak bekerja di kantoran saat itu. Pilihan sulit. Akhirnya saya memilih menjadi freelancer terlebih dahulu dengan berbagai pertimbangan.

Menjadi freelancer ada enaknya ada tidaknya. Enaknya, saya bebas mengatur waktu saya. Karena pekerjaan nya tidak mengharuskan saya mengalami rutinitas 9-5 setiap harinya. Siang hari bisa saya gunakan untuk hal lain. Pekerjaan bisa menunggu dimalam hari. Tidak harus terpaku pada jam yang biasa digunakan orang untuk bekerja. Tidak enaknya, saya tetap butuh uang tiap bulannya untuk kebutuhan hidup. Menjadi freelancer berarti punya resiko pemasukan tidak stabil. Bisa jadi bulan ini mendapat kan jumlah yang cukup lumayan, tapi bulan berikutnya terpaksa pengetatan ikat pinggang karena sepi proyek.

Untungnya saya merasa gaya hidup saya tidaklah terlalu glamor alias foya-foya. Bagi sebagian orang mungkin jumlah yang diterima sebagai freelancer relatif lebih kecil dari pada penerimaan orang kantoran. Tapi menurut saya Alhamdulillah masih mencukupi. Betapa relatifnya uang.

Menjadi freelancer juga  berarti mengerjakaan beberapa project dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dalam jeda waktu itu kurang lebih 4 project yang saya kerjakan, berpartner sama rekan @fakhriaf. Ini merupakan salah satu impian saya, yaitu membuat  software yang benar-benar digunakan oleh orang. Menjadi freelancer  juga berarti punya waktu yang cukup untuk mengerjakan hal-hal di luar pekerjaan. Saya bersama beberapa rekan berusaha untuk meneruskan apa yang pernah kami lakukan di masa kuliah dulu. Membuat sebuah solusi untuk permasalahan olahraga. Detailnya mungkin lain waktu dapat saya ceritakan. Lalu saya bersama rekan yang lain juga membentuk tim yang fokus dalam mengembangkan aplikasi di platform Windows Phone. Sesekali saya menulis, kadang tutorial, kadang ebook,pernah juga artikel di majalah. Beberapa kali mengikuti perlombaan, ada yang berhasil dimenangkan, ada yang bermuara pada kegagalan.

Padahal jika mengikuti rencana yang dulu pernah saya rancang, harusnya saya saat ini mungkin duduk di meja kubikel, berjibaku dengan pekerjaan setiap harinya. Alih-alih, saat ini saya masih bolak-balik ke jl ganeca 10 untuk menyelesaikan studi S2 saya. Sesuatu, yang tadinya tidak pernah terfikirkan akan dijalani begitu lulus S1. Tapi disinilah saya sekarang berada. Betapa relatifnya perencanaan.

Dan yang membuat saya tetap gembira untuk bangun setiap pagi adalah karena petualangan-petualangan yang saja jalani. Ketidakteraturan yang masuk dalam hidup saya yang tadinya serba teratur. Saya punya kesempatan untuk berkunjung ke beberapa tempat, berdiam selama 1-2 hari lalu kembali lagi dalam rutinitas. Saya bisa bolak-balik ke Jakarta untuk menemui teman, rekan, pacar atau keluarga. Kemudian esok nya saya kembali masuk kuliah karena ada dosen yang bersikeras untuk mengadakan kuliah tapi nyatanya beliau tidak datang pada hari yang dijanjikan. Dan, bukan hanya petulangan saya, tapi juga melihat petualangan-petualangan teman-teman.

Ada yang sudah bekerja di perusahaan dan tampak menikmati pekerjaannya meski harus sering lembur sampai malam. Ada yang sabar mengerjakan setiap tugas di kantornya. Ada yang mengalami kejadian-kejadian tidak diduga. Ada yang akhirnya menemukan passion nya ditempat ia bekerja. Ada yang sakit ketika baru memulai pekerjaan. Macam-macam. Ada yang mendapatkan beasiswa dan melanjutkan studi nya keluar negeri. Ada yang ke Asia Timur, Cina,dan Eropa. Bukan berarti meski berpetualang masing-masing tidak bisa saling menghubungi. Meski ribuan kilometer terbentang, dengan teknologi semuanya masih mungkin. Bekerja secara kolaboratif dapat dilakukan. Bertemu walau dibatasi ukuran layar . Itu dapat terjadi. Betapa relatifnya jarak.

Manusia berkembang seiring dengan banyak nya waktu yang ia putar dan banyaknya langkah yang ia perbuat. Manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing, yang jika sekarang dilihat belum terlihat ujungnya seperti apa. Kita hanya dapat mengurainya dengan melihat ke belakang. Setiap kita unik, dan spesial.

Meskipun saya akhirnya sekarang, dengan berbagai pertimbangan, memilih bekerja juga ( parttime) dan harus datang ke kantor (meski tidak setiap hari) tapi sedapat mungkin saya memilih dan mengerjakan apa yang saya suka dan bisa kerjakan. Pernah orang tua saya datang ke Bandung dan bertemu selepas saya pulang kerja. Masih dengan stelan yang sama dengan tahun-tahun yang lalu. Jeans, sandal jepit converse dan jaket himpunan, dengan rambut acak-acakan. Motor masih kotor karena kena hujan hari sebelumnya.

Ada hal-hal yang tidak berubah. Ada keputusan yang sedikit saya belokkan. Kata orang bekerja itu harus terhadap hal yang kita cintai. Ya, itu satu hal. Tapi setelah satu tahun ini, saya rasa saya sampai pada pemikiran, dan ini berlaku terhadap segala hal. Lakukan apa yang kamu cintai, lakukan apa yang yang harus kamu lakukan, lakukan hal yang mungkin tidak kamu senangi. Bisa salah satunya, atau semua nya sekaligus.

Karena tidak ada yang salah. Dan karena orang lain hanya dapat menonton apa yang kita alami tanpa sejatinya merasakan tiap detik yang kita rasakan. Mendengar pendapat orang lain itu adalah suatu kebutuhan. Tapi adalah keharusan, menentukan pilihan hidup itu menjadi hak orang yang menjalani hidupnya. Bukan orang lain. Lakukan apa yang perlu kita lakukan karena pada akhirnya semua orang ingin bahagia, dan membuat orang disekitar nya juga bahagia. Kalau Allah menghendaki usia kita agaknya masih banyak yang dapat kita lakukan. Masih panjang jalannya.

Mungkin ada yang merasa setahun setelah kelulusannya belum mencapai apa yang ia inginkan. Belum naik pangkat. Belum dapat kerja di perusahaan. Belum kuliah di luar negeri. Belum menikah.  Tapi mungkin ada yang merasa selama setahun ini sudah melewati lagi satu tahun yang luar biasa. Teman baru, komunitas baru, buku baru, aplikasi baru, dan petualangan-petualangan baru. Dan merasa berterima kasih kepada-Nya. Berapa relatifnya kepuasan.

 

Hari ini genap satu tahun saya lulus dari kampus , menanggalkan status mahasiswa dan menjadi bagian masyarakat Indonesia seutuhnya. Ada yang bilang “baru” satu tahun . Ada yang bilang “sudah” setahun.

Saya bilang, saya berterima kasih kepada-Nya dan berdoa untuk yang terbaik di masa – masa yang akan datang.

Amin.

8 thoughts on “Langkah Setahun Ini

  1. menarik! dan inspiratif!
    pudja memang ga cuma pnter bicara & presentasi, tp jg menyajikannya dlm bentuk tulisan ya. sebuah tulisan yg hrusnya dibaca para fresh grad (termasuk gue :p ) yang sedang mencari jati diri, terutama sehabis lulus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s