[CERPEN] Aku, Ratih dan Kartini

Tadi malam ketika mencari sebuah berkas,saya tidak sengaja menemukan kembali satu cerpen saya yang berjudul Aku,Ratih dan Kartini. Cerpen ini saya tulis sekitar 8 tahun yang lalu untuk mengikuti kegiatan lomba menulis cerita pendek tingkat Sumatera yang diselenggarakan website iSekolah.org. Yang tidak saya perkirakan adalah bahwa tulisan ini berhasil memperoleh juara kedua kategori pelajar. Mengingat hari ini adalah hari Kartini maka saya putuskan untuk memuatnya di blog ini. Enjoy Smile

********************************************************************************************************************

Aku, Ratih dan Kartini

Kebebasan adalah buah dari pikiran untuk maju. Berpikir untuk bebas, berarti telah melangkahkan satu kaki menuju kebaikan di masa datang. Ikatan dan belenggu itu cuma khayalan. Cuma sampah. Jangan terlalu dipikirakan. Yang harus kita pikirkan adalah menemukan cara agar hidup ini berjalan dengan baik walau tidak semestinya. Bagaimana caranya agar hidup benar-benar kelihatan seperti hidup. Bukan hidup yang seperti mati atau hidup tapi sesungguhnya mati suri.

Manusia hidup dalam dua kesadaran. Kesadaran akan dirinya sendiri dan kesadaran akan dirinya bersama orang lain. Egosentrisme sekaligus kebersamaan. Keduanya, bersanding seperti dua sisi mata uang. Tidak dapat terpisahkan. Sama halnya dengan segala ciptaan Tuhan yang ada di muka bumi,baik itu nyata maupun yang gaib. Semuanya berpasangan. Siang-malam, bumi-langit,baik-buruk,hitam-putih,perempuan dan laki-laki. Betapa keterpaduan itu merupakan hal yang serasi dan harmonis. Sebaiknya,kita meghormati hal tersebut. Sadar ataupun tidak,kita bergerak di atas realita,yang memaksa kita mengakui perbedaan itu justru sebagai hiasan yang memperindah persamaan. Beda itu indah. Itu intinya, beda itu indah.

Tiba-tiba seorang siswi di pojok kanan ruangan mengangkat tangannya dan berkata. “Maaf Ibu ! Boleh saya bertanya ?”

“Yak,silahkan”

“Apa saya boleh memperkuat teori ibu tersebut dengan cerita saya ?”, siswi itu terkesan tahu lebih banyak tentang hal yang baru saja aku sampaikan.

“Tentu,apa ada hal yang ingin kamu koreksi ?”, aku mencoba bersikap demokratis. Bagiku memiliki siswa-siswi yang krtis dan vokal adalah dambaan bagi kemajuan pendidikan bangsa ini. Betapa aku menyenangi saat-saat dimana aku harus berdiskusi dan beradu fikir dengan siswa-siswiku.

“Boleh saya minta waktu lima belas menit untuk bercerita sedikit, bu ? Ini tentang kenyataan yang saya alami sendiri”,pintanya.

“Baik…nama kamu, Ratih kan ?” “Iya bu”

“Baik Ratih,waktu kamu dua puluh menit. Dan, saya harap hal yang kamu sampaikan mempunyai korelasi yang jelas dan pantas untuk didengarkan di ruangan ini”.

Ratih mengangguk dengan pasti. Dan,gadis itu mulai bercerita. Cerita yang penuh inspirasi.

R.A. Ratih Sanggarwuni begitu nama lengkapnya. Terlahir dari turunan keluarga ningrat di kalangan keraton Solo yang masih memegang teguh adat-istiadat dan kebudayaan jawa. Di daerah Solo, keluarganya masih tergolong bangsawan yang cukup dihormati masyarakat. Kehidupan remajanya jelas dilewati dengan perkembangan zaman yang kelewat modern namun tetap tidak mampu menembus dinding pembatas bernama kebudayaan. Sebagai keluaraga pembesar, otomatis orangtuanya masih bersikap kaku dan keras. Kurang bisa diajak bermusyawarah dan terlalu otoriter. Gaya lama ini tidak lain dan tidak bukan adalah perwujudan pengasuhan anak yang masih kuno dan ketinggalan zaman.

Juni,1987. Ratih lahir sebagai seorang perempuan. Perempuan yang diharuskan mendapatkan berbagai cobaan dan tantangan dalam kehidupan. Ayah dan ibunya sangat menantikan kelahiran anaknya tersebut. Lebih lagi, selama ini mereka belum mendapatkan seorang anak perempuan pun.Begitu mengetahui bahwa anak tersebut perempuan, sudah terbayang jelas apa yag akan dilakukan Prabowosutedjo – ayah Ratih – untuk mendidik anaknya dengan baik.

Bak pepatah lama, orang tua sudah banyak makan asam garam. Meski zaman modern sudah ikut menyentuh sendi-sendi kehidupan daerah Solo, kultur Jawa yang keras adalah metode yang dipilih Prabowo untuk mendidik anaknya. Dan, sebagai seorang anak Ratih tentu menurut kepada kedua orangtuanya. Terlalu menurut malah.

Kehidupan masa kecilnya berjalan dengan baik sekali meski ia dididik dengan keras di rumahnya. Belum dirasakannya konflik maupun masalah yang berkenaan dengan metode yang diterimanya dari kedua orangtuanya. Ratih tumbuh menjadi gadis cilik Jawa yang anggun,sesuai dengan gelar darah biru yang disandang keluarganya.

Usia Ratih pun bertambah seiring dengan tahun demi tahun yang dilewatinya. Seperti kebanyakan anak seusianya, Ratih juga bersekolah. Ia masuk sekolah dasar di dekat rumahnya. Bukan main senangnya, Ratih. Selama ini dunia yang ia kenal hanyalah bangunan segiempat besar seperti limas – rumah Joglo – dan halaman luas penuh kebun bunga melati yang tak lain adalah rumahnya sendiri. Begitulah ia,pada masa kecilnya rasa melindungi dan pengajaran dari kedua orangtua Ratih tumbuh berlebihan sehingga mereka tidak mengizinkan Ratih meninggalkan rumah.

Jadilah ia bagai burung dalam sangkar. Burung yang sangat merindukan kebebeasan untuk terbang. Padahal,jika dibiarkan saja ia terbang, ia tentu tidak akan menghilang. Masalahnya hanya sang ayah dan ibu yang tidak mau bersikap sedikit lunak kepada Ratih.

Ratih sekarang adalah siswi SD yang lucu. Berpakaian putih merah dan tas sandang model terbaru, pergi ke sekolah, bermain dan bercanda dengan teman-teman seusianya. Tak pelak lagi ketika ia berada di tingkat sekolah dasar adalah masa-masa indah penuh ilmu pengetahuan dan kesenangan. Suatu hari,menjelang peringatan Hari Kartini 21 April ketika ia masih duduk di kelas tiga, wali kelasnya bercerita tentang salah seorang pahlawan wanita, R.A.Kartini. Cerita yang ia dengar itu perlahan mengilhaminya untuk mulai menyadari, bahwa ia perlu melakukan sesuatu demi dirinya sendiri. Bukan berarti egois.Namun, sesungguhnya manusia hidup dalam dua kesadaran. Kesadaran akan dirinya sendiri dan kesadaran akan dirinya bersama orang lain. Egosentrisme sekaligus kebersamaan. Dan R.A. Kartini berhasil mewujudkan keduanya, meski ia tidak merasakan hal tersebut sama sekali.

R.A. Kartini tercatat sebagai orang yang giat mengedepankan keadilan gender dan emansipasi wanita. Lahir sebagai bangsawan Jepara, Kartini tumbuh di

lingkungan yang sangat kental memahami dan mempraktekkan adat-istiadat Jawa. Tahun-tahun awal kehidupannya merupakan saat yang penting dalam proses pemahaman dan pemaknaan identitasnya kelak.

Relatif sedikit waktu yang beliau habiskan bersama ibunya, Ngasirah. Hal ini dikarenakan Ngasirah bukanlah isteri utama – atau disebut selir – sehingga ia tinggal di luar keraton. Bentuk interaksi yang efektif justru Kartini rasakan bersama para pengasuhnya. Ayahnya ? Sama saja. Meski feodalisme telah runtuh bersamaan dengan Revolusi Prancis, namun sistem itu masih belum punah total dari tanah Jawa. Dan Ayah Kartini begitu sibuk dengan urusan keraton dan masyarakat, dan malah melupakan urusan terpenting, yaitu keluarga. Dari para pengasuhnya inilah, Kartini menerima banyak nilai-nilai kultural yang kelak menentukan identifikasi dirinya.

Ketika Kartini mulai menyadari untuk mengidentifikasikan dirinya berbeda dari ayahnya, ketika itu pula ia menyadari kondisi lingkungan disekitarnya. Ideologi patriarki yang kental di masyarakat Jawa menyebabkan Kartini – sebagai seorang perempuan – memiliki kekuatan yang lemah dan tidak perlu diberdayakan. Masa bersekolah di sekolah pembesar selama usia 6 –12 tahun merupakan pengalaman khusus di saat ia membentuk landasan pola pikir konfrontasi terhadap keresahan yang selama ini ia rasakan, ketidakadilan. Ketidakadilan, hanya karena ia seorang perempuan.

Namun disitulah masalahnya. Kartini menyadari betul konsep pembawaan dirinya dan orang lain,yang harus menurut pada perbedaan gender di kalangan masyarakatnya. Namun di sisi lain, hal itu sangat menentang keinginan egoisnya akan kebebasan. Menentang hasratnya untuk mengetahui dunia luar yang ada.

Lalu, lahirlah persepsi ia untuk bergerak. Pada saat zaman Pergerakan Nasional, ia mendirikan sekolah-sekolah untuk rakyat dan wanita. Dengan giat ia memberikan nilai-nilai baru kepada wanita Jawa, agar jangan hanya mau bergerak di rumah. Dunia luar masih luas. Namun, lagi-lagi Kartini mesti menerima kenyataan. Sikapnya yang baik itu sangat butuh stabilitas. Resistensinya berakhir buruk karena ia sendiri masih terikat dengan ideologi tersebut.

Kumpulan surat-suratnya bersama teman penanya Stella – seorang Belanda – dan surat-suratnya yang lain sekarang telah dibukukan, dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Dan, emansipasi yang ia bentuk mulai berkembang pesat setelah kemerdekaan yang kita raih. Meski ia belum merasakannya pada saat ia masih hidup, namun semua orang percaya bahwa ia pasti merasa bahagia,karena buah pikiran dan perjuangannya telah mengantarkan wanita kepada kedudukan yang sejajar dengan laki-laki di masa kini.

Bukan main seriusnya Ratih mendengar cerita tentang kartini itu. Matanya berbinar-binar dan bibirnya tersenyum. Seolah ia mendapat sebuah kekuatan baru untuk bergerak.

“Nah,sekarang ibu mau bertanya. Siapa yang bisa menjawab akan ibu beri buku Habis Gelap Terbitlah Terang ini” kata guru Ratih saat itu.

“Pertanyaannya, apakah pada masa sekarang ini emansipasi sudah mulai disikapi di daerah Jawa?”

Pada saat itu Ratih hanya diam. Ia tidak menjawab pertanyaan wali kelasnya. Karena saat itu ia belum tahu. Atau lebih tepatnya, belum merasakan. Merasakan apa ? Sebuah ketidakadilan.

Ratih tidak pernah menduga bahwa masa-masa Kartini belum usai. Zaman belenggu itu masih ada. Setamatnya dari sekolah dasar, Ratih memang masih diperbolehkan melanjutkan ke SMP. Namun tidak untuk ke SMU. Itulah awal dari pemberontakan Ratih.

Ayah Ratih pada suatu malam setelah Ratih merayakan ulangtahunnya yang ke lima belas memanggilnya ke beranda. Dan mereka berdua terlibat pembicaraan yang serius.

“Ratih…ini tentang kehidupan masa depanmu”, kata ayahnya “Ada apa, Yah ?”, Ratih bertanya.

“Ayah sudah bicara dengan ibumu, dan ibumu setuju dengan keputusan ayah. Kamu tidak usah melanjutkan pendidikanmu ke SMU”.

“Memang kenapa, Yah ?”

“Ini sudah menjadi kebiasaan dan adat-istiadat kita, Ratih. Perempuan itidak perlu bersekolah terlalu tinggi. Perempuan hanya perlu tahu cara mengasuh anak

dan keluarga. Bukankah dari kecil, mbahmu sering berkata demikian “, kata ayah

Ratih. Kali ini dengan nada sangat tegas.

“Iya Yah…yang itu, Ratih paham. Tapi, sekarang kan sudah berbeda. Sekarang mestinya anak perempuan sudah boleh bersekolah, sudah boleh bekerja. Kan,nggak mungkin selalu seperti ini. Yang namanya kebiasaan kan juga bisa berubah, Yah “

“Ratih, cukup ! Kamu jangan sok tahu. Anak kecil seperti kamu tahu apa?”, potong ayahnya

“Ayah,Ratih tidak sok tahu. Ratih hanya mengatakan apa yang Ratih inginkan dan Ratih rasakan. Ratih masih ingin bersekolah, Yah. Ratih ingin belajar “

“Ratih, kamu jangan melawan !” bentak ayahnya. “Ratih tidak melawan, Yah…Ratih..” ”Sudah,cukup ! Kamu masuk saja sana ke dalam”

Ratih berhenti bersikeras. Meski dengan muka merengut, Ratih tetap patuh pada ayahnya. Ia masuk ke dalam dan pergi mengadu ke tempat ibunya.

”Bu, Ratih masih ingin sekolah, Bu. Ratih mau belajar “, rengek Ratih.

“Ibu mengerti ,Ratih. Tapi, itu sudah menjadi keputusan ayahmu. Sudah, turuti saja”, kata ibunya lembut.

“Bu…”

Keduanya saling berpandangan. Wajah ibu Ratih juga tampak sedih. Ia tatap anak kesayangannya itu. Masih jelas wajah tidak menerima keputusan ayahnya di sana. Bagaimana ya? Begitulah adanya. Ayah adalah simbol kekuasaan sekaligus pemimpin di sistem masyarakat Jawa.

***

Suasana kelas hening. Yang terdengar hanya riuh rendah ribut di kelas sebelah. Bahkan akupun terkesima mendengar penuturan Ratih. Aku kira kisah seperti itu hanya terjadi pada zaman dulu atau sinetron di televisi. Namun, ternyata masih ada perempuan yang tersiksa karena ideologi lama.

Apa sih salahnya jadi perempuan. Toh, kami juga tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai perempuan. Semuanyakan kehendak Allah. Harusnya kalau begitu, berarti mereka memblokir kehendak Allah dengan mendiskriminasikan perempuan.

“Baik, terima kasih Ratih…cerita kamu barusan sangat membantu kita disini untuk lebih memahami pelaksanaan dari nilai-nilai emansipasi wanita pada zaman sekarang ini”

Ternyata, rencana dan pelaksanaan terkadang berjalan dalam rel berbeda. Searah namun tidak pernah saling berpotongan, tidak pernah akan bertemu. Wahai, ibu Kartini yang kukagumi, di hadapanku ada gadis yang merasakan penderitaan sepertimu juga.

Tiba-tiba ada siswa yang bertanya,”Lalu bagaimana bisa kamu sekarang bersekolah ?”

Yap! Pertanyaan menarik. Kejadian itu berarti baru saja terjadi setahun yang lalu. Pertanyaan cerdas, dan cuma satu orang yang memikirkannya.

“Bagaimana Ratih, apa kamu masih ingin berbagi cerita ?“, sebagai gurunya tentu aku juga tidak akan memaksa.

“Tidak apa-apa, Bu. Biar saya lanjutkan sebentar”,katanya. “Mungkin teman-teman sangat bertanya-tanya kenapa sekarang saya boleh bersekolah ? Saya saja tidak tahu harus bagaimana merasakannya ? Entah saya harus senang atau sedih bisa bersekolah. Karena beberapa bulan setelah kejadian itu, kesehatan Ayah saya memburuk akibat penyakit jantung yang dideritanya. Dan, tak lama kemudian beliau wafat. Tragis ya, aku bisa bersekolah karena ayahku sudah meninggal”, kalimatnya berakhir dengan gemetar.

Ini lebih menyakitkan. Mendengar kenyataannya saja sudah perih, apalagi ia, yang merasakannya. Di umur tanggung, gadis berusia lima belas tahun harus rela kehilangan ayahnya dulu baru ia bisa sekolah. Ideologi apa itu ? Ideologi sampah. Betapa mahalnya kita harus membayar,jika untuk bersekolah kita harus kehilangan orang yang sangat kita cintai.

Ya Allah.Kuatkan ia. Pendidikan butuh manusia seperti Ratih. Seorang gadis yang menjalankan prinsipnya dengan baik. Seperti Kartini. Tapi, bukan kartini biasa. Yang ini, sudah luar biasa. Amin.

*********************************************************************************************************************

© Puja Pramudya . 2004

3 thoughts on “[CERPEN] Aku, Ratih dan Kartini

  1. ppujaaa, gue nangis baca iniiii… 😥
    ini harusnya juara satu! well, tapi endingnya ga pure happy ending sih.. mungkin kalo dikasi happy ending lo juara satu. 😛
    u r such a great writer!

    1. ndru,jaman SMA gw belum bisa nulis kode,,jadi cuma nulis tulisan tulisan seperti ini 🙂 . Nanti gw akan post cerpen berikutnya siapa tau lu suka juga 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s