Cermin bernama #KelasInspirasi

Mungkin ini akan menjadi cerita yang cukup panjang. Cerita ini adalah cerita tentang Kelas Inspirasi. Bagi yang belum mengetahui, dari website resminya , Kelas Inspirasi adalah program dari yayasan Indonesia Mengajar yang mengundang para profesional yang sukses karena pendidikan untuk turun tangan berbagi cerita dan pengalaman kerja. Cerita tersebut akan menjadi bibit untuk para siswa bermimpi dan merangsang tumbuhnya cita-cita tanpa batas pada diri mereka.

Sudah beberapa tahun ini saya mengikuti dengan cermat melalui online maupun bertemu langsung dengan beberapa pihak dari Yayasan Indonesia Mengajar. Bahkan beberapa teman saya ada yang mendaftar dan bertugas menjadi pengajar muda. Saya membaca blog-blog mereka setiap kali ada kesempatan dan yang terakhir saya membeli buku Indonesia Mengajar,berisi kumpulan cerita yang mengharukan, menghibur dan menginspirasi dari para pengajar muda ini.

Tapi , saya belum bisa bergabung menjadi pengajar muda. Mungkin , selama nya tidak akan pernah. Sehingga ketika Indonesia Mengajar mengumumkan program Kelas Inspirasi – mengajar selama sehari untuk bercerita mengenai apa yang kita kerjakan saat ini – saya tanpa ragu langsung mendaftar. Ternyata bukan hanya saya saja yang antusias, ada 600 profesional yang siap mengambil cuti selama satu hari  – ini salah satu syarat keikutsertaan – dan bercerita mengenai apa yang mereka kerjakan sehari-hari. Dari 600 pendaftar, disaringlah menjadi 200 yang terpilih, yang akhirnya disebut Inspirator.

Ternyata selain saya, ada nama-nama yang saya kenal seperti Najwa Sihab, Rene, Vokalis Efek Rumah Kaca,,dan kemudian saya dengar seperti CEO salah FMCG terkenal di Indonesia,eksekutif Bank Mandiri, dan manajer di perusahaan Software ternama di dunia. Sontak saya merasa dilema antara senang terpilih dan merasa kecil jika dibandingkan dengan para pengajar yang juga terpilih.

WP_000402

[SDN Duri Pulo , tempat pengajaran dilakukan]

Dan perjuangan pun dimulai. Sebelum mengajar, kita harus menyiapkan yang namanya lesson plan dan latihan mengajar. Lesson Plan berisi konten yang mau disampaikan, teknik-teknik untuk mengatur kondisi kelas, dan sebagainya. Latihan mengajar ya,,,coba latihan kontennya disampaikan di depan orang. Terus terang ini hal baru bagi saya. Untungnya saya mendapat bantuan dari dua psikolog rekan saya, @kanghelmi dan @psi_mimi yang memberikan teknik-teknik edukasi anak-anak dan bantuan  @irrrlanda yang membantu proses latihan ,  menyimak ‘bapak guru’ mengajar.

Dua puluh lima april 2012, secara serentak 200 orang dengan profesi yang berbeda-beda akan turun ke sekolah-sekolah untuk becerita. Saya bertugas di SDN Duri Pulo 3 di daerah Roxy Mas, dan bergabung dengan tim 15 dimana @anggriawan bertindak sebagai ketua kelompok. Disini saya berkenalan dengan anggota tim dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada mba Ferli, psikolog yang tampak keibuan dan siap bertemu dengan anak-anak. Ada Mba Omesh,yang jurnalis majalah wanita terkenal,menyiapkan simulasi menjadi wartawan. Ada mba Citra, banker, sudah menyiapkan berbagai cerita dan hadiah penghapus berbentuk uang yang lucu sekali. Ada mba Mitha yang membawa lampu-lampu hasil desainnya, untuk ditunjukkan bagaimana menariknya menjadi seorang lighting designer. Ada Rahmah yang menyiapkan simulasi perancang busana bagi anak-anak. Ada Kang Donni yang sudah menyiapkan slide-slide lucu untuk menginspirasi. Ada saya dan Anggriawan yang membawa, well , karena pekerjaan kami,,,cukup 1 laptop saja. Semuanya sudah luar biasa melakukan persiapan. Semuanya siap berkenalan dengan anak-anak Duplo 3. Semuanya sangat excited. Dan sayapun…gugup Smile . Meskipun dua tahun terakhir ini saya banyak mengisi seminar dan training,dimana saya berbicara di depan banyak orang,,,namun melihat anak-anak SD ini yang akan menjadi audience saya,,saya pun menjadi gugup.

DSC04840

[Tim 15 Kelas Inspirasi (dari kiri) : Puja Pramudya (Ahli Komputer), Mba Ferita ( Psikolog), Mba Imesh (Jurnalis), Mba Citra (Banker), Guru-guru SDN 03 Duren Pulo , Anggriawan (Software Engineer),Mba Tamara (Lighting Designer) , Rahmah (Fashion Designer) [kang Doni tidak ada di foto]

Saya kebagian mengajar di kelas 3, kelas 6 dan kelas 5 secara berurutan.

# Mengajar di Kelas 3

Kelas pertama yang akan saya masuki adalah kelas tiga. Saya pun masuk masih dengan kondisi gugup. Lima menit pertama saya memperkenalkan diri, nama saya dan asal kota. Saya lanjutkan dengan melakukan permainan namanya “Koboi Cita-Cita”. Masing-masing anak berdiri dan menyebutkan cita-citanya lalu anak disebelahnya harus mengingat cita-cita teman-temannya. Kelas sontak menjadi riuh dengan anak-anak yang dengan semangat mengacungkan tangannya dan mengumumkan cita-citanya dengan suara lantang. Saya pun harus mulai menenangkan kelas agar bisa tetap fokus. Untuk melakukan ini, saya menggunakan teknik Afika, yaitu ketika saya berkata “Adek – adeeeek…”, mereka harus menjawab “Iyaaaa,,,,” dengan style Afika Smile. Serius loh,mereka sangat senang dengan ‘permainan ini’ dan menjawab Iyaaa dengan sangat antusiasis sekali. Saya pun senang karena mendapat respon yang positif seperti itu.

Setelah permainan selesai, saya lanjutkan dengan bercerita apa yang dinamakan ahli komputer. Yep, saya sampaikan pekerjaan saya ahli komputer. Setelah bergumul dengan istilah coder, programmer, software programmer,software engineer,tukang komputer saya datang dengan istilah yang saya anggap cukup mewakili pekerjaan saya sekaligus istilahnya mudah dimengerti.  Bagaimana menjadi ahli komputer, apa saja yang dikerjakan bagaiman enak-nya dan apa tidak enaknya. Tentunya koding keseringan sampai bergadang tidak saya sampaikan sebagai bagian dari pekerjaan, karena yaaa,,,tidak sebaiknya mereka tahu sekarang Smile with tongue out.

Setelah satu jam saya berbicara, tiap berapa menit harus mengembalikan fokus, menegur anak yang terlalu “aktif” saya selesai menunaikan tugas dengan suara yang serak seperti diserang radang tenggorokan 2 hari dua malam.

Saya menjadi lebih salut dan kagum dengan para guru SD di seluruh dunia. Setelah mengajar di 1 kelas ini saya fikir kita harus lebih respek menghormati guru-guru kita. Mereka berdiri setiap hari di depan kelas, mengajarkan ilmu pengetahuan dan mengatur agar kita dapat belajar. Dan setiap hari pula mereka bersuara dengan lantang dan keras. Saya, yang baru berusia 25 tahun, biasa menjadi trainer yang berbicara berjam-jam, setelah 1 jam mengajar sudah menggadaikan suara saya hingga serak dan sulit berbicara lagi.

DSC04763

[anak-anak kelas 6 bermain VEDA]

# Mengajar di Kelas 6

Setelah jam istirahat, petualangan menjadi guru sehari dilanjutkan. Kali ini kebagian kelas 6. Karena saya mendengar kelas 6 ini anak-anaknya sudah lebih pintar dan aktif saya pun sedikit mengubah strategi. Afika style sudah tidak digunakan. Sebagai gantinya saya akan memperlihatkan satu game buatan saya dan tim Cahaya, yang nama nya Veda untuk memberikan gambaran dengan jelas apa yang sebenarnya bisa dihasilkan dari seorang ahli komputer.

Setelah itu saya bercerita proses pembuatan Veda dimulai dari apa saja. Mulai dari meyusun cerita,membuat karakter yang bisa dimainkan, membuat pertanyaan dan mengetik kode. Kalimat mengetik kode cukup membuat mereka mengerenyitkan dahi sehingga saya memberi penekanan lebih sebenarnya apa yang dilakukan selama mengetik kode tersebut.

Cerita lucu dari kelas ini adalah ketika saya memperkenalkan diri dan menyebutkan asal kota saya yaitu Bandung. Sontak anak-anak lelaki nya mengangkat tangan sambil teriak “Wah kakak nya The Viking niiih” dan langsung disambut riuh oleh temannya yang lain. Ternyata mereka semua pendukung the Jak dan sangat mengidolakan tim tersebut. Biar lebih bersahabat dan saya tidak”dikerjain” saya pun bilang sebenarnya saya berasal dari Pekanbaru. Nah mereka malah angkat tangan lagi dan berteriak “Asykar Theking niiii … “ . Haha,,gila bola ini mereka semua. Bahkan nama fans dari klub sepakbola saja mereka sampai hafal dan membuat saya tersenyum ketawa karena mereka protes saya mendukung tim sepakbola yang bukan mereka dukung.

Di kelas enam ini saya cukup kerepotan karena memang mereka sangat aktif dan lebih sulit diatur. Mungkin karena usia yang semakin dewasa dan lebih banyak mengerti membuat kita harus lebih punya strategi yang lebih jika mengajar di kelas 6.

Anak-anak SD jaman sekarang sudah luar biasa berkembangnya. Mereka juga banyak mendapatkan informasi selain dari bangku sekolah dan saya rasa ini indikator yang cukup baik. Saya saja terkejut karena anak-anak ini sudah mengetahui dan bermain facebook , bermain game PointBlank di warung internet dan banyak hal lain yang tidak saya duga sebelumnya.

 DSC04823

[seluruh siswa kelas 5 mengangkat tangan dan berkata “Saya bisa…” ketika saya menanyakan Siapa yang bisa mencapai cita-cita mereka, semangat yang luar biasa]

# Mengajar di Kelas 5

Jam terakhir adalah mengajar di kelas 5. Dikelas ini saya ditemani oleh ibu guru yang baik sekali dan membantu untuk menenangkan kelas jika terjadi suatu “keriuhan”. Tapi untungnya hal itu tidak sering terjadi, hanya jika mereka ingat bahwa saya berasal dari Bandung sehingga dikira pendukung Persib. Anak-anak ini gila bola dan gila dengan The Jak.

Dengan energi yang sudah sangat terkuras dan suara yang nyaris habis saya tetap berusaha “tegar” dihadapan anak-anak. Murid kelas lima lebih patuh dan lebih interaktif. Mereka juga sangat baik sekali sehingga membuat saja menjadi terpacu untuk bercerita.

Saya pun mulai bercerita mengenai apa itu ahli komputer dan apa yang harus dilakukan untuk jadi ahli komputer. Kemudian saya bercerita enak nya jadi programmer,apa saja yang pernah saya alami , dan hal apa yang tidak menyenangkan. Mungkin karena pembawaan saya yang kurang baik anak-anak tampak kurang memperhatikan dan fokus.

Sekelebat saya kepikiran untuk bercerita apa saja yang sudah saya alami sejak jadi “ahli komputer”. Saya bercerita bagaimana bisa pergi ke Polandia gratis karena membuat program komputer. Bagaimana saya bisa keliling Indonesia untuk melatih orang-orang belajar komputer ( aka training) dan terakhir pergi ke Amerika juga berhubungan dengan yang namanya komputer. Pada saat itu barulah mereka menjadi lebih menyimak, mata mereka berbinar dan antusiasme memenuhi ruang kelas. Mulai ada yang bertanya bagaimana saya bisa ke Amerika, sampai berapa gaji saya yang tidak bisa saya sampaikan supaya mereka tidak terkejut Smile. Lalu saya minta mereka menuliskan cita-cita mereka di kertas dan dilipat untuk disimpan dirumah sebagai pengingat untuk selalu meraih cita-cita yang mereka inginkan.

DSC04808

[hari ini mereka menulis cita-cita, hari esok mereka akan menggapainya]

Di akhir sesi , karena mereka berperilaku sangat baik sekali, saya memberikan banyak coklat sebagai hadiah dan mereka pun berteriak senang.  Lalu di akhir jam, ketua kelas mengambil komando dan serentak mereka mengucapkan terima kasih. Seketika itu juga saya diam dan terharu dalam hati, Luar biasa perasaan yang rasa dapatkan tidak bisa saya tulis dengan kata-kata.

Anak-anak terkadang tidak begitu tertarik dengan pekerjaan kita tapi mereka akan lebih tertarik dengan sosok yang menyampaikan dan hal-hal menarik yang bisa kita dapatkan. Perasaan ketika mereka mendengarkan dengan antusias dan mengucapkan terima kasih untuk kedatangan kita, selamanya tidak akan pernah bisa dilupakan.

Selama menunaikan tugas di kelas Inspirasi ini saya pun ditemani oleh @irrrlanda yang setia mengamati bagaimana saya mengajar. Satu hal yang menarik adalah ketika saya dan tim mengadakan evaluasi bersama bapak ibu guru di SDN Duri Pulo 3 . Saya sudah khawatir bahwa @irrrlanda akan bosan menunggu. Alih-alih bosan, ia malah menjiwai kegiatan hari itu dan malah sudah menjelma menjadi “guru” bagi anak-anak yang belum pulang sekolah tersebut. Malah menurut saya, lebih akrab dan lebih menjiwai dan lebih cocok jadi seorang ibu guru. Adakah memang wanita lebih mudah berinteraksi dengan anak-anak ? Adakah ini sebuah tanda-tanda dari alam semesta ? Foto ini adalah keadaan yang menggambarkan kedekatan mereka.

DSC04833

[ibu iir lagi mengajarkan IPS kepada anak-anak]

Sehari menjalani program Kelas Inspirasi merupakan salah satu pengalaman luar biasa yang pernah saya alami. Mungkin saya masih kurang baik dalam menyampaikan materi. Mungkin saya masih belum menyampaikan cerita yang menarik. Mungkin saya belum bisa menjadi inspirasi bagi mereka. Tapi Anda harus merasakan ketika anak-anak kecil itu menatap anda dan menantikan kata-kata yang akan keluar dari bibir kita.  Anda harus merasakan bagaimana mereka menantikan jawaban atas pertanyaan yang mereka tanyakan ke kita. Anda harus merasakan bagaimana mereka mengucapkan terima kasih kepada kita. Anda harus merasakan bagaimana mereka menciumi tangan anda layaknya ibu bapak guru mereka. Anda harus melihat bagaimana mereka protes karena kita harus menyudahi kegiatan karena waktu yang sudah siang dan bagaimana mereka menginginkan kita kembali untuk bercerita hal seru lainnya. Anda semua harus mencobanya.

DSC04826

[pose bersama anak-anak SD Duri Pulo 3]

Bagi saya, Kelas Inspirasi ini ibarat cermin. Anak-anak belajar dan berkaca serta menyadari bahwa mereka harus berjuang dan berusaha sebaik mungkin untuk meraih cita-cita mereka, karena di depan mereka , berdiri kakak-kakak yang sudah melakukan itu semua. Sedangkan, para pengajar kelas inspirasi berkaca kepada anak-anak agar supaya kita tidak boleh selamanya berbuat hanya untuk diri kita sendiri namun mulai berbagi dan menyadari pekerjaan kita sebagai orang terdidik ini belum selesai. Hari itu saya banyak belajar mengenai kondisi nyata pendidikan bangsa kita. Hari itu saya melihat dengan jelas . Dan Hari itu saya bercermin. Dan cermin itu bernama #Kelas Inspirasi.

WP_001122

 

Catatan pengajar di Kelas Inspirasi, 25 April 2012

Puja Pramudya, Ahli Komputer

11 thoughts on “Cermin bernama #KelasInspirasi

  1. SEXY!?
    As much as I love kids, I wouldn’t have stood it. 🙂
    Dan bu irlanda cantik deh di deket anak-anak. Mungkin sudah saatnya…… hmmm, jadi guru SD!? 😛

    1. gw sudah konfirm,,katanya itu memang naluri wanita,,jangan geer dulu apakah sebuah kode atau tidak :))

  2. Seperti yang saya bilang di twitter, suddenly want to run to the class (again)!
    Tapi saat ini kelas saya adalah gedung bertingkat di Ibukota, belajar lagi yang banyak, biar nanti bisa berbagi lebih banyak kepada yang lain, amin.
    Thanks Puj!
    😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s