Time Freedom

Tiga tahun yang lalu,ketika saya masih berada ditingkat akhir kuliah sarjana saya, orang tua pernah beberapa kali datang ke Bandung untuk mengunjungi anak-anaknya dan nenek saya. Namun, karena waktu itu masih ada beberapa kuliah dan kegiatan, saya tidak bisa setiap hari menemani mereka selama mereka di Bandung. Kadang diajak makan siang pas sedang ada kuliah, atau kegiatan akademik. Singkat kata,waktunya terikat pada kegiatan-kegiatan lain.

Tapi keadaannya berbeda sekarang. Istilah timefreedom disebut pertama kali oleh om saya yang saat ini bekerja diperusahaan minyak di Sumatera Selatan. Kami biasa berkumpul pada hari pertama Idul Fitri di rumah Nenek , dan bertemu keluarga dari sisi Ibu, yang bersaudara ada 9. “Enak ya,sekarang walaupun bekerja tapi tetap timefreedom”. Jadi maksud om saya adalah meskipun bekerja, tapi punya waktu yang lebih fleksibel untuk melakukan sesuatu ditengah pekerjaan tersebut.

Setelah dipikir-dipikir ada benarnya juga. Saat ini,setelah saya dan teman-teman berusaha untuk menjalankan Radya Labs, ternyata kami tidak menerapkan pola jam kerja. Asasnya adalah “hasil”. Jadi Tito sendiri sebagai Direktur Utama,tidak memberikan batasan kepada saya untuk kapan harus masuk, kapan selesai (pulang dari Kantor dan sebagainya). Yang kita pegang ada “timeline” pekerjaan yang sedang dilakukan Radya Labs. Selama timeline itu terpenuhi, bagaimana waktu dimanfaatkan hari per harinya tidak dipermasalahkan.

Hasilnya, saya saat ini punya kebebasan untuk mengatur waktu setiap hari. Misalkan, waktu itu ibu dan tante saya sedang berada di Bandung. Saya atur agar selama mereka di Bandung, meskipun itu hari Senin-Rabu saya bisa menemani mereka. Mengantar melihat-lihat Bandung, Lembang dan sebagainya. Lain waktu,misalnya di tengah hari, ada kegiatan yang menarik,misalnya seminar atau konferensi, saya bisa keluar pada saat itu juga. Mungkin ini salah satu keunggulan membuka usaha sendiri,dimana kita bisa mengatur waktu kita sesuai dengan kebutuhan. Kata kuncinya adalah “bebas bertanggung jawab”.  Misalnya, suatu siang kepala lagi mumet, dan ingin hiburan, kita bisa langsung pergi ke bioskop terdekat untuk menonton film agar refresh kembali.

Timefreedom sangat mudah untuk dinikmati. Tapi kebebasan itu perlu bertanggung jawab. Nanti di post berikutnya akan saya coba ceritakan apa yang saya lakukan untuk mensiasati timefreedom ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s