Mr Taxi

Bukan, bukan. Post ini tidak akan menceritakan mengenai salah satu judul lagi girlgroup fenomenal asal Korea yang sebentar lagi akan manggung di Indonesia. Post ini akan menceritakan kisah yang kurang sedap ketika menggunakan salah satu armada taksi di kota kembang.

Kita sudah tahu sama tahu bahwa jika ingin menggunakan armada taksi dari Bandara Husein Sastranegara hanya dapat menggunakan satu armada yang sudah menguasai daerah tersebut. Bisa sih taksi lain hanya kita harus berjalan kaki dulu ke luar area bandara, yang mana kalau anda membawa barang, bisa membuat anda berpikir ulang.

Karena aspek monopoli tersebut, armada dapat menarik bayaran dengan harga yang jauh lebih tinggi dari biasanya. Misalnya, dari rumah saya di Cicadas menuju Bandara jika menggunakan argo hanya memakan 25-30 ribu. Namun jika menggunakan taksi tersebut kita akan dikenakan biaya 60 ribu, yang mana cukup besar. Makan malam cak kohar saja bisa 3x.

OKlah, saya lagi sedikit malas untuk berjalan kaki keluar area bandara, meski tidak membawa barang bawaan. Okelah, tidak apa-apa membayar lebih,yang penting bisa cepat naik taksi dan tidak kepanasan, karena udara Bandung hari ini masih panas sekali. Okelah, saya mahfum saja dengan kondisi taksi yang kurang layak yang saya naiki. Tidak masalah.

Sesampainya di rumah, saya pun mengeluarkan ongkos yang sudah tertera di tiket taksi, sebesar 60 ribu. Pak sopir berkata datar “ Kurang Aa, 70 ribu seharusnya”. Sebagai warga negara yang baik saya bertanya “10 ribunya lagi buat apa ?”. Pak sopir menjawab : “Soalnya nanti saya dipotong lagi sama manajemen, dan sekalian untuk ongkos parkir”. Saya menjawab "Parkirnya biar saya bayar pak, tapi 10 ribu lagi itu biaya apa “. Dengan nada kasar pak sopir langsung berkata : “Ya sudah, sudah keluar saja”. Karena diminta keluar saya pun beringsut dari posisi duduk dan mengeluarkan kaki kiri saya keluar mobil. Baru saja kaki kanan saya mau ikut saya keluarkan dan belum dalam posisi sepenuhnya keluar, pak Sopir sudah menginjak gas seakan hendak beradu balap lalu memindahkan gigi dan maju dengan kencang bahkan tidak membiarkan saya menutup pintu taksinya.

Saya kaget,dan termenung melihat kejadian tersebut. Positive thinking : Pak sopir tidak melihat saya secara penuh dan dia pikir saya sudah keluar sepenuhnya lalu mengebut karena terburu-buru mungkin karena sedang lapar. Negative thinking : Pak sopir marah karena tidak mendapatkan 10 ribu yang ia inginkan dan dengan sengaja hendak mengagetkan saya. Dalam kasus seperti ini saya berpikir : “Bukan urusan saya 10 ribunya mau dipotong manajemen, karena saya akan membayar hanya sebesar biaya tiket yang sudah diberikan di awal”.

Begitulah. Saya pun tak habis pikir tabiat seperti itu. Lantas janganlah bertanya-tanya dengan bingung jika kustomer malas menggunakan jasa armada ini. Jika muka buruk, jangan kaca yang dipecahkan. Meskipun mungkin ini hanya kelakuan oknum, namun jika ada teman atau kolega yang bertanya tanpa pikir panjang saya tidak akan merekomendasikan armada ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s