Jalan-Jalan ke Lombok

Setelah menikah, saya dan istri memutuskan untuk pergi jalan-jalan sekitar dua minggu dengan pemikiran nanti kita akan tinggal pisah kota dulu untuk sementara waktu. Namanya juga pengantin baru, bersemangat sekali memilih lokasi yang ingin didatangi. Setelah menimbang-nimbang, kita memutuskan untuk pergi ke Lombok dan Bali Smile

Pantai Selong Belanak

Hari pertama kunjungan ke Lombok, kita ambil pesawat pagi dari Pekanbaru, jam 6.25. Pesawat lalu transit di Jakarta, dan berangkat ke Lombok pukul 12.00.  Sesampainya di Lombok, kita sudah dijemput mobil jemputan untuk pergi ke daerah Selong Belanak. Selong Belanak adalah pantai yang masih sepi di daerah selatan Pulau Lombok, deket Pantai Kuta dan Tanjung Aan yang sudah lebih duluan terkenal itu.

Di Selong Belanak, kita akan menginap di Sempiak Villa (http://www.sempiakvillas.com/), komplek villa yang dimiliki pengusaha asing yang memiliki istri orang Indonesia. Pantai Selong Belanak karena masih sepi, pemandangan pantai-nya jadi terkesan lebih bersih. Dari Villa terlihat langsung bukit di belakang pantai yang membentuk pemandangan pantai dengan air yang biru sekali. Tentu saja pemandangan matahari terbenam adalah hal yang tidak boleh dilewatkan disini.

IMG_0057IMG_0067

Setelah menikmati pemandangan sunset yang indah tersebut, kita bersiap untuk makan malam di tepi pantai. Romantic dinner istilahnya. Saya sudah sempat baca-baca pengalaman pasangan yang pernah menginap disini sebelumnya. Katanya, jangan lewatkan makan malam di tepi pantai dengan suasana romantis ala Sempiak Villa.

IMG_0095

Dan ternyata memang benar. Saya tidak kepikiran bahwa set makan malamnya akan dihias sedemikian rupa. Begitu kami sampai dekat lokasi, sudah terlihat hiasan lilin yang memandu kami ke area meja kursi yang sudah disiapkan. Tidak jauh dari kursi tersebut, ada dua kursi malas yang disediakan jika kita ingin bersantai terlebih dahulu melihat pemandangan pantai dan api unggun di tepi yang sudah dinyalakan. Luar biasa pikir saya. Untuk menu makan malam, diberikan set dinner layaknya di restoran, yang terdiri dari makanan pembuka, penutup dan dessert. Makanannya tentu saja enak, ditambah dengan suasana yang remang-remang dan hembusan angin serta debur ombak menambah keromantisan suasana malam itu. Pengalalaman baru bagi saya menikmati dinner on the beach.

Besok paginya, kita coba jalan-jalan ke area pantai tersebut untuk melihat pemandangan, bermain air dan tentu saja mengambil beberapa foto. Berbeda dari pantai-pantai di Bali yang relatif lebih rame, disini suasanya tenang sekali, berasa pantai milik sendiri.

IMG_0175

IMG_0180

IMG_0262

Sempiak Villa dan kawasan Selong Belanak relatif jarang dikunjungi oleh wisawatan lokal,begitu kata mba Nining, receptionist Villa yang ramah menceritakan tamu-tamu villa tersebut. Benar saja. Saya periksa guest book di sana dan banyak sekali orang Eropa dan Korea yang berkunjung disini dan sedikit juga orang Indonesia. Memang kawasannya yang cukup jauh dari tempat keramaian seperti pub atau restaurant membuatnya tidak cocok bagi wisawatan yang senang hiburan. Bagi Anda yang mencari pilihan makanan kuliner, bukan disini tempatnya. Hanya ada satu restoran milik Villa, yaitu Laut Biru dan jika anda malas kemana-mana, hanya restoran itu lah pilihan anda satu-satunya. Suasana disini justru tenang dan cocok bagi orang yang ingin menikmati waktu yang berjalan pelan-pelan. Saya membayangkan penulis novel atau pekerjaan yang membutuhkan inspirasi dan ketenangan akan sangat cocok untuk tinggal disini beberapa waktu mendapatkan kearifan lokal dan suasana Selong Belanak. Tentu saja kawasan ini cocok sekali bagi pasangan bulan madu yang ingin menikmati suasana berdua saja tanpa banyak gangguan dan keramaian Smile.

Gili Trawangan

Puas berlibur di daerah Selong Belanak, tujuan berikutnya adalah 3 Gili di utara pulau Lombok, yaitu Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Dari Selong Belanak kita diantar transportasi dari Villa menuju pelabuhan Bangsal. Perjalanan dari selatan ke pelabuhan memakan waktu hampir 3 jam lamanya. Sekitar pukul 2 siang kita sampai di Bangsal dan bersiap untuk menyeberang ke Gili Trawangan.

Untuk menyebrang kita memiliki beberapa alternatif. Bisa menggunakan kapal cepat (fast boat) dan kapal motor. Tentu saja dari sisi biaya berbeda juga. Kami membeli tiket kapal motor, hanya sekitar 30 ribu untuk dua orang. Murah meriah. Bagi Anda yang mabuk laut dan butuh perjalanan lebih cepat, mungkin lebih baik ambil kapal cepat. Lalu sedikit saran juga, sebaiknya jangan membawa barang terlalu banyak agar tidak kerepotan pada saat naik-turun kapal motor. Kasihan, kalau istri harus ikutan gotong-gotong koperkan ?

Perjalanan ke Gili Trawangan memakan waktu sekitar 40 menit. Tenang saja, kita tidak akan bosan karena sepanjang perjalanan Anda dapat menikmati banyak pemandangan. Air laut yang beriuh dengan warna biru yang jernih. Pemandangan dari jauh Gunung Rinjani yang megah. Biasanya, jika menuju Gili Trawangan, kita akan mendapati banyak sekali turis luar yang menuju ke pulau tersebut. Ya, 3 Gili merupakan salah satu tujuan wisata yang memang cukup digandrungi wisawatan asing. Mungkin karena lokasinya yang terpencil, suasanya yang bebas kendaraan bermotor dan tentu saja : pantai, bar dan restoran. Ditambak lagi Gili-gili ini dapat dicapai hanya 2 jam perjalanan dari Bali, atau penerbangan langsung ke Lombok disambung perjalanan darat 1,5 jam. Sampai di Trawangan, kami bergegas menuju penginapan untuk menyimpan barang-barang. Pilihan menginap di Trawngan jatuh di Villa Ombak (http://www.hotelombak.com/) selama dua malam.

IMG_0267

Selesai menaruh barang, kita jalan-jalan di sepanjang pantai sambil mencari makan sore. Suasana Trawangan jauh berbeda dengan Selong Belanak. Disini sangat ramai dengan orang lalu lalang, ada yang menggunakan Cidomo, ada yang menggunakan sepeda dan banyak juga yang berjalan kaki. Uniknya trawangan memang, di daerah ini tidak diizinkan sama sekali penggunaan kendaraan bermotor, membuat udara disini dijamin bersih. Di tengah area Trawangan, terdapat pasar malam yang ramai sekali dikunjungi wisatawan. Menarik sekali melihat banyak wisatawan asing dengan penuh semangat mencoba berbagai kuliner seperti ikan bakar, dan panganan-panganan yang mungkin di negaranya tidak tersedia. Malam ini kami tidak banyak beraktivitas untuk persiapan besok snorkling.

Kegiatan snorking di Gili Trawangan merupakan menu wajib bagi wisatawan. Di sepanjang area pantai Barat, berjejer kios-kios penjual tiket snorkling  yang bisa anda beli dengan harga Rp 100.000-120.000 untuk yang publik. Publik disini maksudnya bercampur dengan orang lain. Bisa juga snorkling privat,misalnya Anda hanya ingin berdua saja dengan pasangan, namun dipastikan harganya melambung jauh ke angka Rp 1jt. Kami memilih paket publik sehingga bergabung dengan kelompok wisatawan lain-nya. Setelah saya perhatikan dari sekitar 30 orang di dalam satu kapal, hanya saya dan istri yang asli Indonesia. Sisanya ada yang beraksen Australia, Inggris dan dan tentu saja Singlish yang paling mudah dikenali.

WP_20140410_12_35_15_ProWP_20140410_12_36_18_ProWP_20140410_12_36_48_Pro

Kegiatan snorkling dilakukan di tiga tempat di sekitar perairan 3 Gili. Lautnya memang jernih sekali tapi saya tidak terlalu takjub dengan pemandangan bawah lautnya. Ada yang bilang, kalau karang di sekitar Gili sudah mulai rusak. Tapi kalau kita berbicara pemandangan ikan, nah baru lumayan menyegarkan mata. Ikan warna warni melintas kesana kemari ketika kita menyelam. Jangan lupa membawa roti tawar jika Anda memang berniat snorkling disini. Pada titik terakhir, itu adalah tempat yang sangat ramai dengan ikan-ikan. Jika anda memegang roti saja di tangan anda,ikan-ikan akan segera berenang ke arah anda. Selain itu,  Di satu titik snorkling katanya ada beberapa penyu namun sayang saya tidak berhasil melihatnya. Setelah 3 jam lamanya ber-snorkling ria, kita diantar ke Gili Air untuk santap siang. Tentu saja hidangan spesial-nya adalah seafood.

Puas bersnorkling ria, kita diantar pulang kembali ke Gili. Rencana kami hari ini adalah menyewa sepeda lalu bergerak ke sisi barat pulau Trawangan untuk melihat pemandangan matahari terbenam. Perjalanan ke titik sunset point hanya 10 menit saja menggunakan sepeda dengan medan yang tidak terlalu sulit kecuali beberapa gundukan pasir yang memaksa harus kita mendorong sepeda. Di titik sunset kita berfoto-foto sebentar. Setelah berfoto-foto, jiwa ingin tahu menuntun kami terus menyusuri area Barat hingga menemui beberapa properti yang sedang dikembangkan. Kami sempat mampir di properti Aston yang baru saja dibuka hari itu. Lokasinya sih sepi dari keramaian namun persis menghadap pantai. Semburat jingga dari sana sangat indah sekali. Area Barat memang belum terlalu dikembangkan sehingga belum terlalu ramai seperti di area Timur.

IMG_0383

IMG_0405

Puas mengitari sisi Barat Trawangan, perut sudah berbunyi dan itu artinya saat-nya makan. Kita memang sudah mengincar satu tempat makan seafood yang katanya enak di sana, yaitu Scallywag. Sampai disana, kita pesan beberapa hidangan seafood dan mulai santap malam. Memang enak sekali hidangannya dengan bumbunya yang pas. Meskipun cukup menggores isi kantong tapi memang makanannya sangat enak disana. Bagi Anda pecinta seafood mungkin sekali waktu bisa mencoba hidangan laut dan ribs disana.

Pantai Sengigi & Mataram

Setelah dua malam menginap di Trawangan, hari berikutnya adalah kembali ke pulau Lombok. Agenda di Lombok hari pertama adalah berjalan-jalan di sekitar Sengigi dan Mataram. Secara khusus saya menggunakan jasa rental mobil dan tur dari http://www.lombokfriendly.com/. Pemandu wisata yang menemani kami hari ini adalah Pak Azis dan Pak Sabri. Keduanya ramah sekali. Selama di perjalanan beliau berdua tidak ada habisnya menceritakan berbagai hal tentang Lombok, mulai dari asal muasal nama Lombok, makanan-makanan yang enak hingga barang favorit untuk oleh-oleh.

Jalur hari itu adalah mencari oleh-oleh baju dan benda-benda dari Lombok seperti mutiara dan pajangan. Selain mencari oleh-oleh juga kita diantar untuk menikmati kuliner Lombok yang terkenal itu apalagi kalau bukan Ayam Taliwang. Ayam Taliwang adalah resep ayam yang berasal dari desa Taliwang lombok. Ayam-nya cukup pedas dan sesuai dengan selera kami berdua Smile. Hidangan ayam Taliwang di restauran yang saya lupa namanya itu harganya tidak terlalu mahal untuk ukuran liburan, kurang lebih 150++ ribu rupiah. Selewai dari Taliwang kami diantar untuk membeli Sate Rembiga. Mungkin banyak yang belum mengetahui perihal Sate Rembiga ini. Begitu juga dengan saya, baru pertama kalinya mendengar masakan tersebut.

Sate Rembiga, adalah masakan sate yang berasal dari desa Rembiga, Lombok. Ini adalah berbagai aneka sate seperti ayam atau sapi namun daging-daginnya sudah direndam semalaman di dalam bumbu pedas. Harga sate Rembiga sangat ramah sekali, sekitar 15 ribuan saja. Akibat daging yang sudah direndam semalaman itu, untuk memakannya kita tidak memerlukan bumbu tambahan seperti kacang atau kecap. Saya sendiri sangat menikmati cita rasa hidangan sate Rembiga ini karena rasanya yang pedas pedas manis. Ketiga dagingnya kita gigit, seketika itu wangi sambal dan rasa pedas mulai menyerang. Luar biasa Smile.

WP_20140411_14_57_09_Pro

Selesai dari kota Mataram, kami diantar menyusuri daerah Sengigi. Kita berhenti di Malibu I dan Malibu II untuk berfoto-foto sejenak. Malimbu I dan Malimbu II adalah daerah di tepi jalan di area Sengigi yang menjadi tempat favorit masyarakat untuk berkumpul menikmati pemandangan sunset. Selain ke Malimbu kita juga diantar ke Sengigi Art Market untuk melihat lagi jualan khas Lombok. Puas seharian saatnya kembali ke penginapan.

Untuk dua malam di Sengigi, kita akan menginap di Villa The Puncak (http://www.the-puncak.com/). Jujur, waktu istri memberikan informasi mengenai tempat menginap ini saya tidak ada kesan yang apa-apa. Ternyata sang istri dapat referensi dari kakak kelas-nya yang pernah kesana. Mencari lokasinya pun susah-susah gampang. Berbeda dari area penginapan yang berjejer menyusur pantai Sengigi, The Puncak berlokasi di Bukit yang menghadap langsung Sengigi sehingga daerahnya cukup tinggi. Sampai di penginapan, saya pun langsung diam saja dan mengamini pilihan istri saya.

Dari ketinggian, pemandangan pantai Sengigi dari kejauhan benar-benar mempesona. Penginap tersebut hanya memiliki lima kamar, sangat personal sekali. Kebetulan pada saat kami menginap, hanya ada dua kamar yang terisi, membuat privasi-nya menjadi lebih terjaga sekali. Bagi pasangan yang honeymoon atau merayakan ulang tahun pernikahan dan membutuhkan suasana baru di area Sengigi mungkin bisa mencoba menginap disini.

WP_20140412_06_53_05_Pro

IMG_0607IMG_0616

 

Pantai Pink

Hari berikutnya yang menjadi target operasi adalah Pantai Pink. Ini menu pesanan istri yang penasaran sekali dengan Pantai Pink yang sering diliput di acara-acara televisi. Menuju pantai Pink dari Sengigi adalah perjuangan tersendiri. Pantai Pink terletak di lokasi yang bersebrangan, yaitu di timur pulau Lombok. Untuk menuju kesana kita punya dua opsi, opsi 1 menggunakan jalan darat selama 4 jam perjalanan. Atau opsi 2, menggunakan jalan darat 2 jam hingga pelabuhan yang saya lupa namanya disambung dengan jalan laut 45 menit menggunakan kapan motor nelayan.

Dari Pak Sobri dan Pak Azis, kami disarankan menggunakan opsi kedua. Selain karena waktu tempuh lebih pendek jadi tidak perlu melewati jalan hutan yang cukup menguras kesabaran. Memang, untuk menyewa kapan kita dikenai biaya yang sedikit mahal, yaitu 600,000 untuk satu hari tersebut. Tapi apa boleh buat, tidak ada penyewaan lain disekitar sana jadi kita pun ambil paketnya.

Perjalanan ke Pantai Pink dari pelabuhan benar-benar menyegarkan mata kita. Pemandangan air laut yang jernih, pulau-pulau kecil dan burung di udara yang beterbangan asyik sekali. Tentu saja tidak lupa berfoto disini memastikan bahwa pasir pantai Pink memang berwarna merah muda.

IMG_0710IMG_0712IMG_0722IMG_0793IMG_0809

Selain ke Pantai Pink kita juga mengunjungi beberapa titik yang menjadi ‘jualan’nya tur Pantai Pink, yaitu Pantai Sebui, Gili Petelu, Gili Sunut dan Pulau Pasir. Tidak lupa di dekat Gili Petelu kita snorkling untuk menikmati pemandangan bawah laut. Harus saya akui, pemandangan karang di area ini jauh-jauh lebih bagus dibandingkan dengan Trawangan. Warnanya lebih cerah warna-warni dengan ikan-ikan yang beraneka rupa. Selain itu ombaknya tenang sekali jadi kita sangat aman berenang disana. Ditambah dengan hidangan seafood rumahan dan ikan bakar dari pak Nelayan, yang menjadi paket makan siang hari itu benar-benar melengkapi kegiatan hari itu. Paket makan siang tidak termasuk biaya sewa perahu, kita cukup merogoh 65 ribu per orang dan mendapatkan hidangan segar asli tangakapan nelayan.

IMG_0875

IMG_0989IMG_0991

IMG_1017

IMG_1025

IMG_1003IMG_1076

Tur Pantai Pink memang mengasyikkan tanpa terasa waktu sudah semakin sore saja. Selesai bersih-bersih kita kembali pulang ke Sengigi. Di tengah perjalanan, kami diantar membeli satu lagi kuliner khas Lombok yaitu Nasi Balappuyung. Nasi Balappuyung adalah nasi campur dengan sambal tempe,alam suir dan campuran sayuran resep asli dari Desa Puyung. Sekali lagi saya kaget, karena untuk hidangan kuliner khas seperti ini harganya cukup murah, yaitu 15,000 per bungkus-nya. Kita tidak makan di tempat, jadi nanti akan dimakan di tempat menginap. Hari ini cukup melelahkan sebenarnya tapi sangat-sangat menyenangkan. Kamipun istirahat karena besok hari kita akan melanjutkan perjalanan ke pulau Bali.

3 thoughts on “Jalan-Jalan ke Lombok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s