Hongkong Trip

Ini adalah blogpost yang tertunda, hampir 4 bulan lamanya. Kali ini saya ingin cerita mengenai pengalaman jalan-jalan ke negeri Hongkong, pada awal Januari lalu.

Keputusan memilih Hongkong sebagai target operasi adalah karena kali ini tim PvJ ingin jalan-jalan tapi mencoba destinasi di luar Indonesia. Karena ada yang sudah mencoba ke Thailand dan Taiwan, sementara beberapa dari kita sudah pernah ke Singapura dan Malaysia, maka dicoba mencari destinasi yang dari sisi jarak tidak terlalu jauh dan dari sisi harga masih masuk akal serta tidak perlu menggunakan visa

Kita berangkat tanggal 15 Januari 2014,pkul 01.00 dari Terminal 3 menggunakan pesawat maskapai Tiger Air. Tiger Air menyediakan penerbangan langsung tanpa transit. Kami bertiga, Saya, Tito dan Azby berangkat dari Bandung mulai tgl 14 sore dan bertemu Aqsath di bandara. Penerbangan memakan waktu sekitar 5 jam, kira-kira jam 6 pagi kami sampai di Bandara Hongkong,salah satu bandara yang terbaik katanya.

Hari Pertama- Tsim Sha Shui, Symphony of Light

Dari Bandara kita menuju Ngongping,  ambil paket kartu MRT khusus wisatawan sehingga dapat dipakai selama 3×24 jam sejak pembelian. Ngong Ping adalah lokasi dimana terdapat Patung Bhudda duduk terbesar di Asia. Sesampainya di Ngongping, kami terpaksa mengurungkan niat ke tempat wisata tersebut karena jalan akses ke Ngongping via Cable Car, sedang ditutup karena dalam masa perawatan.

Akhirnya kita langsung menuju daerah Tsim Sha Shui, menuju penginapan yang sudah kita pesan melalui Agoda. Ternyata Tsim Sha Shui adalah daerah yang sangat padat wisatawan, dari berbagai penjuru dunia. Kami menginap di suatu hostel di Chunking Mansion. Chungking Mansion adalah bangunan bertingkat banyak, dimana di tiap lantainya terdapat banyak hostel-hostel murah yang cocok dengan wisatawan berbudget rendah seperti kami. Di Lantai 1 dan 2, terdapat banyak pertokoan yang menjual kartu telephone, makanan, charger dan pernak pernik yang biasa dibutuhkan wisatawan.  Lalu di lantai sisanya, disitulah terletak banyak sekali penginapan. Bisa kita lihat banyak wisatawan dari berbagai penjuru dunia seperti dari Eropa, Afrika, Asia dan sebagainya.

Kami bersantai di area taman disekitar Kowloon, sembari menunggu anggota rombongan lainnya,yaitu Indra dan Afif yang menggunakan pesawat berbeda menuju Hongkong. Berbeda mungkin di kota-kota Indonesia – kecuali Surabaya – di daerah Hongkong taman menjadi senjata utama dari pemerintah untuk menyediakan lokasi terbuka dimana masyakarat bisa berkumpul dan melakukan aktivitasnya. Sekitar jam 5 sore, rombongan sudah lengkap dan kita beristirahat di penginapan sampai sekitar jam 7 malam.

Setelah Maghrib, kita segera menuju lokasi Avenue of Stars, tempat banyak para aktor/aktris membenamkan jejak telapak tangan di batu-batu yang tersedia di lokasi di dekat pelabuhan tersebut. Area ini mirip dengan Hollywood Wall of Fame-nya di USA. Salah satu jejak yang terkenal adalah jejak Bruce Lee, aktor silat kawanan tempo dulu. Tidak jauh dari lokasi Avenue of Stars, kita menuju tempat pelataran di pelabuhan, untuk menonton pertunjukan yang menjadi tontonan wajib wisatawan yaitu Symphony of Light.

Symphony of Light adalah pertunjukan menggunakan laser yang dipasang di berbagai gedung pencakar langit. Selama 40 menit kita dapat menikmati permainan laser yang menerangi langit malam. Pertunjukan juga disertai dengan irama musik yang diputar menggunakan pengeras suara . Pertunjukan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya di Indonesia dan memberikan pengalaman tersendiri bagi saya. Tidak jauh dari lokasi menonton, terdapat Jam Besar, salah satu titik yang cukup ramai dikelilingi wisatawan. Jam ini merupakan jam kolonial peninggalan Inggris, yang berbentuk seperti Big Ben.

WP_20140115_20_05_51_ProWP_20140115_18_41_00_ProWP_20140115_18_14_07_Pro

Hari Kedua – Disneyland

Hari Kedua,kamis, kita berencana mengunjungi Disneyland dan berencana seharian bermain disana. Sekitar pukul 10 pagi kita bertolak dari Tsim Tsa Shui menggunakan MRT kembali. Menuju Disneyland, kita harus berpindah 2x, karena menggunakan 3 jalur MRT yang berbeda. Perjalanan tidak memakan waktu lama karena memang moda transportasi ini sangat cepat dan tepat waktu.

Sesampainya di Disneyland kita langsung menuju berbagai atraksi yang disediakan. Intinya Disneyland seperti Dufan dalam versi yang lebih besar. Ada 7 area tema permainan yang bisa kita nikmati. Saya cukup menikmati atraksi-atraksi yang tersedia, tapi saya yakin jika Anda mengajak anak-anak, dia akan lebih senang lagi.

WP_20140116_11_33_20_ProWP_20140116_19_02_21_ProWP_20140116_19_16_04_ProWP_20140116_19_27_06_Pro

Selesai bermain di Disneyland,sekitar pukul 7 malam kami pulang dan mencari makanan-makanan khas Hongkong. Akhirnya kita menemukan salah satu toko yang menjual masakan khas,yaitu Mieeeeeee. Entah karena lapar atau karena hal yang lain, kami semua berpendapat mie yang dijual disana enak sekali dan otentik Smile.

 

Hari Ketiga – Ngongping+Causeway Bay

Hari ketiga, kami berencana pergi ke Ngongping, tempat yang tutup pada hari pertama kami tiba di Hongkong. Nah, menuju Ngongping kami juga harus berpindah 2x, karena lokasinya yang juga berada di dekat  menuju Bandara. Dari Tsim Tsa Shui perjalanan menuju Ngongping

Sesampainya di meeting point Ngongping, kita membeli tiket masuk dan Cable Car. Jadi Ngongping adalah pulau kecil yang terpisah dari pulau utama Hongkong sehingga untuk menuju kesana ya melalui semacam Gondola yang membawa kita melintasi jarak sejauh 2-3 km.

WP_20140117_14_33_02_ProWP_20140117_13_02_02_Pro

Sesampainya di Ngongping, kita mulai berjalan-jalan di area wisata. Di dekat terminal Ngongping disisi atas terdapat pusat jajanan sehinga kita bisa mengisi perut terlebih dahulu. Setelah selesai makan, kita bergerak menuju patung Budha duduk tersebut. Menuju patung Budha kita akan melalui semacam taman yang terdiri dari banyak patung dan gerbang. Tempat yang cukup menarik.

Setelah selesai eksplorasi tempat wisata patung Budha,terdapat kuil di depannya. Di kuli ini jika kita tertarik dapat melihat bagaimana para biksu berdoa. Namun sayang, ketika kami kesana, kuilsedang dalam proses renovasi sehingga banyak palang kayu yang melintang dan mengurangi keindahan bangunan tersebut.

WP_20140117_14_08_57_ProWP_20140117_12_39_17_Pro

Selesai dari Ngongping,kita bergerak menuju the Peak, tempat tertinggi di Hongkong untuk menikmati pemandangan laut dan gedung pencakar langit dari area pegunungan. Namun sayang seribu sayang, untuk menuju the Peak kita harus menggunakan Trem khusus dan stasiun tersebut sudah penuh sekali dan antriannya sangat panjang. Karena tidak ‘tertarik’ melihat antrian tersebut, kita akhirnya menuju Causeway Bay,tempat yang penuh dengan pusat perbelanjaan.

Di Causeway Bay, terdapat banyak mall dan pertokoan. Kalau Anda orang yang suka berbelanja pasti suka sekali kesini. Katanya sih,barang-barangnya dijual lebih murah daripada harga di Indonesia. Tapi bagi saya sih ya biasa saja. Memang banyak sekali toko disini menjual barang-barang mewah yang juga diminati di Indonesia. Selesai dari Causeway Bay, kita menuju Mongkok Night Market.

Mong Kok Night Market menjual banyak benda-benda dengan harga miring. Jika Anda mencari oleh-oleh seperti gantungan kunci,kaos-kaos dan barang lain dengan budget terbatas, Anda bisa pergi kesini. Night Market sendiri merupakan salah satu tradisi juga di Hongkong, dimana masyarakat akan suka sekali berkumpul disana, untuk sekedar makan, berkumpul atau bernyanyi dengan pertunjukan musik jalanan.

Hari Keempat – The Peak

Akhirnya rencana ke The Peak tercapai juga di hari ke-4. Kita sudah belajar dari hari sebelumnnya sehingga memutuskan untuk pegi ke the Peak dari pagi. Untungnya rencana kali ini benar, sekitar pukul 10, antrian ke the Peak tidak ‘segila’ jika antrian pada sore hari. Kami membeli tiket terusan Trem+Madame Tussaud , yaitu museum lilin yang didalamnya terdapat banyak replika orang terkenal.

Perjalanan ke the Peak memakan waktu 25 menit, menggunakan Trem yang ditarik dengan kemiringan cukup curam. Begitu curamnya sehingga kita duduk dengan posisi miring menghadap ke atas. Sampai di stasiun atas, kita masuk duluan ke museum Madame Tussaud untuk melihat koleksi replika tokoh yang mereka miliki.

Di Madame Tussaud Hongkong kami mendapati beberapa artis Hollywood, tokoh politik terkenal seperti Obama, Saddam Husein Gandhi serta olahragawa seperti Yao Ming dan Tiger Woods.

WP_20140118_11_16_34_Pro

Selain itu juga terdapat tokoh Marvel seperti Spiderman, Hulk dan Wolverin. Oiya,semoga pose saya bersama Robert Pattinson (Edward Cullen) tidak membuat penggemar vampir ini marah.

WP_20140118_11_51_55_Pro

Puas mengelilingi Madame Tussaud dan berfoto dengan koleksi yang ada kami keluar untuk melihat pemandangan Hongkong dari the Peak. Memang the Peak adalah lokasi favorit untuk melihat Hongkong dari ketinggian. Tampak gedung tinggi berjejer dengan megah, berhiaskan laut biru di bawah dan langit biru diatas. Pemandangan yang menarik. Kata orang, belum ke Hongkong kalau kita belum ke the Peak. Kira-kira pemandangannya seperti dibawah ini.

WP_20140118_12_20_02_Pro

WP_20140118_12_23_33_Pro

Selesai dari the Peak,kami kembali ke daerah Causeway Bay dan Mongkok untuk beli oleh-oleh.

 

Hari Kelima – Pulang

Hari ke-5 adalah hari terakhir di Hongkong. Pesawat kami akan mengudara pukul 2 siang. Untuk menuju bandara, kita mencari rute lain, kali ini menggunakan feri terlebih dahulu lalu menyambung MRT ke bandara. Feri adalah salah satu moda transportasi utama yang menghubungkan pulau Kowloon dan Hongkong. Saya sarankan jika ada waktu Anda dapat mencoba menyebrang menggunakan feri, untuk melihat pemdangan dari kapal, kedua pulau ini yang dipisahkan oleh laut kecil. Harganyapun sangat murah, hanya 2 HKD saja sekali jalan.

Di pulau Kowloon, terdapat satu MRT besar yang langsung terhubung ke jalur Bandara, dimana kita bisa menggunakannya untuk pergi ke airport. Begitu sampai di kowloon kita masuk dulu ke satu pusat perbelanjaan yang besar sekali, karena stasiun MRT ini persis berada di bawah mall tersebut.

WP_20140119_10_52_31_Pro

Tidak terasa perjalanan ke Hongkong sudah hampir berakhir dan kami akan segera kembali ke Indonesia. Perjalanan ke Indonesia kembali ditempuh dengan menggunakan Tiger Air, mendarat di terminal 3 bandara Soekarno-Hatta.

 

Lain-Lain

Hongkong merupakan salah satu tempat berlibur yang menjadi tujuan orang Indonesia. Setelah kesana saya jadi sedikit dapat menduga kenapa. Yang pertama tentu saja banyak pusat perbelanjaan, yang akan memanjakan orang-orang yang suka belanja. Kedua, karena moda transportasinya sangat lengkap, jelas dan terukur. Dengan sedikit pengetahuan bahasa Inggris, dijamin Anda tidak akan tersasar karena memang jalur MRT-nya sangat lengkap,informasinya sangat jelas dan tepat waktu. Saya sendiri sangat puas dengan pelayanan MRT di Hongkong ini. Ketiga, tentu saja karena jarak perjalanan yang masih ditempuh dibawah 8 jam,sehingga dari sisi harga pesawat masih masuk dikantong para muda-mudi seperti kita.

Oiya, selama perencaan perjalanan saya banyak membaca artikel disini  http://javamilk.com/panduan-jalan-hemat-ke-hong-kong-macau/. Silahkan bagi yang tertarik ke Hongkong juga membacanya karena memang sangat jelas dan runut sekali. Terakhir saya rangkum biaya-biaya yang masih saya ingat dikeluarkan selama bepergian di Hongkong, tentunya di luar biaya makan dan biaya oleh-oleh :

  • Tiket PP  (Jakarta-Hongkong): 2.6 juta
  • Tiket MRT : 180 HKD
  • Hostel :  900.000 / malam (kamar ber-4)
  • Disneyland : 450 HKD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s