Mengunjungi Kota Pahlawan

Dua minggu lalu, saya dan istri menghabiskan waktu selama tiga hari untuk berlibur ke daerah Jawa Timur. Target kita adalah mengunjungi Bromo dan Batu, lalu tempat-tempat disekitar-nya. Sepanjang perjalanan kita mengunjungi beberapa tempat yang menarik, tempat-tempat yang bagus untuk difoto lalu tentu saja tempat-tempat kuliner. Tidak lupa membeli oleh-oleh khas Jawa Timur sebelum pulang. Tulisan ini adalah bagian pertama dari tiga tulisan yang saya rencanakan. Bagian kedua di Bromo dapat dilihat disini, bagian ketiga di Batu dapat dilihat disini.

Kami tiba di Surabaya sekitar pukul sembilan pagi menggunakan pesawat terbang dari Jakarta. Tidak lama kemudian, jemputan mobil kami tiba dan perjalanan pun dimulai. Awalnya kami ingin mencari tempat sarapan khas di Surabaya, pencarian di internet menghasilkan Lontong Balap. Di Surabaya – menurut pencarian di internet – terdapat beberapa tempat makan lontong Balap yang terkenal enak, yaitu Lontong Balap Garuda dan Lontong Balap Rajawali.

Entah apa pasalnya, namun di hari Minggu yang cerah itu, kedua tempat makan ini tutup. Gagal mencari lontong Balap,kita berkunjung sebentar ke Monumen Pahlawan. Seperti yang kita ketahui, bahwa kota Surabaya dikenal sebagai kota Pahlawan,salah satunya karena momen di Hotel Yamato dan tokoh terkenal Bung Tomo. Monumen Pahlawan terletak di area utara Surabaya. Area ini berupa lapangan besar, dengan patung tokoh proklamator dan museum perjuangan. Di hari Minggu pagi, lokasi ini sangat ramai dikunjungi oleh warga,terutama tampak menggunakan pakaian olahraga.

IMG_2226_thumb[1]

Usai mengunjungi monumen pahlawan, karena perut yang sudah keroncongan kita akhirnya berhenti di pusat jajanan disekitar museum dan memesan hidangan telur tahu dan rujak cingur. Baru pertama kali saya mencoba makanan rujak cingur. Setelah mencoba, bukannya saya tidak suka, tapi rasa kuah kacangnya kurang pas di lidah saya.

Selesai sarapan, kita diajak berkeliling sama pak Subadi, menuju jembatan Suramadu yang terkenal itu. Jembatan Suramadu sebenarnya bukanlah obyek wisata namun menurut pak Subadi adalah tempat yang sering dikunjungi oleh warga sekitar. Sebagai wisatawan yang baik, kami patuh kepada pemandu wisata dan ketika akhirnya kita berhenti di tengah jembatan – mengikuti mobil lain yang berhenti – kami tidak melewatkan kesempatan untuk mengambil beberapa foto. Kata Pak Subadi, pada hari-hari biasa sepanjang jembatan yang menghubungkan Surabaya dan pulau Madura ini sering terdapat polisi patroli yang akan menghalau orang-orang yang berhenti di tengah jembatan. Namun hari itu, tak tampak patroli seperti yang dikisahkan pak Subadi sehingga memang cukup banyak mobil yang berhenti disana.

IMG_2273_thumb[1]

Jembatan Suramadu sudah, Monumen Pahlawan sudah. Karena memang harus menghabiskan hari itu di Surabaya, kita kembali mencari tempat perhentian selanjutnya. Setelah mencari lagi diinternet bertemulah dengan blog om @mrezafaisal dimana dia mengisahkan kunjungannya ke House of Sampoerna. Bagi teman-teman yang baru mendengar House of Sampoerna, tempat ini adalah sebuah museum yang dimiliki keluarga Sampoerna, dimana di dalam-nya dikisahkan sejarah perjalanan pendiri Sampoerna Group hingga menjadi salah satu raksasa bisnis di Indonesia.  Terdapat berbagai peralatan, repliksa dan benda-benda yang dulu pernah menjadi saksi bisu perjalanan bisnis ini.

IMG_2286_thumb[1]IMG_2287_thumb[1]

Masuk ke museum ini tidak dipungut biaya. Di dalam museum saya melihat berbagai foto kenangan, jenis tembakau hingga mesin cetak kuno yang dulu digunakan untuk membuat bungkus rokok tersebut. Di balik museum ini juga terdapat satu workshop yang masih digunakan hingga sekarang untuk pembuatan rokok kretek tangan (SKT). Usai berkeliling di museum, kami lanjut menuju kebun binatang Surabaya dengan satu tujuan, berfoto di dekat Monumen Suro dan Boyo.

Mungkin sudah banyak yang tahu, bahwa Surabaya konon berasal dari dua kata yang berarti Hiu dan Buaya. Maka hewat ini dijadikan tugu di dua tempat, di dekat balai kota dan di dekat kebun binatang. Usai melihat tugu ini kita beranjak untuk menikmati hidangan es krim ala Zangradi.

IMG_2294_thumb[1]

IMG_2329_thumb[1]

Bagi yang sudah mencicip tempat makan es krim Ragusa di daerah Veteran, Jakarta, pastinya tidak asing dengan model restoran seperti ini. Tempatnya masih ‘tempoe doeloe’ dan banyak foto-foto kota Surabaya di masa lampau. Ini bukan kunjungan pertama saya ke Zangradi tapi tentu kunjungan pertama bersama istri. Mungkin karena itu rasa es krim-nya jadi lebih manis dari biasanya.

Tidak terasa hari sudah sore dan kita segera bergerak ke arah Bromo, agar bisa sampai di Bromo sebelum jam 9 malam. Perjalanan dari Surabaya menuju Bromo ditempuh selama 3 jam. Sampai di penginapan, hari sudah gelap dan kita segera beristirahat. Malam itu kami menginap di Lava View, salah satu penginapan di puncak Bromo. Lokasi-nya memiliki pemandangan langsung ke arah gunung Bromo. Tentu saja hawa dingin Bromo memberikan kesegaran yang berbeda, jika tidak ingin dikatakan begitu dingin, jauh berbeda seperti daerah Surabaya yang sebelumnya kami kunjungi. Penginapan-nya sudah lebih dari cukup. Namun jika Anda mencari penginapan yang lebih premium mungkin bisa mencoba Java Banana Smile.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s