Saya cukup sering travelling Bandung-Jakarta menggunakan shuttle. Dan jika ini dilakukan, musik adalah teman setia untuk menemani perjalanan beberapa jam tersebut. Dan akhir-akhir ini, saya sedang sering mendengarkan Album Tulus yang ke-3, yaitu Monokrom. Hampir semua lagunya saya suka.

Saya tipe-nya memang begitu senang satu album akan mendengarkan secara terus menerus. Sehingga lagu-lagunya menjadi selalu teringat, liriknya jadi hafal sendiri dan irama-nya bahkan sering saya senandungkan. Terkadang, malah membuat warga sekitar (baca : anak-anak Kantor) menjadi terganggu.

Sudah lama tidak menemukan musisi seperti Tulus. Lagunya bisa bercerita. Bukan hanya sekedar tentang cinta yang sering diperdengarkan oleh banyak band dan penyanyai lainnya. Tapi cinta secara umum. Cinta terhadap pacar, istri, teman, lingkungan, orang tua dan bahkan terhadap diri sendiri. Pemilihan diksi-nya  menarik. Tidak terlalu puitis. Kata-kata biasa, sederhana, lugas tapi dirangkai menjadi luar biasa. Bercerita dari hati. Saya suka lagunya, liriknya, melodinya dan cerita di balik lagunya.

Di album terakhir ini, saya paling suka lagi Monokrom. Iramanya enak. Kalau tidak muncul video klipnya, mungkin saya terlewat bahwa lagu ini sebenarnya dipersembahkan untuk orang tua, bukan untuk teman-teman masa kecil. Di video klip tersebut, digambarkan hubungan hangat antara anak dan ibu. Syahdu sekali didengarkan. Sambil merenung melihat perbukitan antara Purwakarta-Bandung.

Sudah lama tidak menemukan musisi seperti ini. Terakhir kali, adalah ketika mendengarkan lagu-lagu dari Katon Bagaskara sekitar tahun 2002. Tulus berbeda dari lagu-lagu Katon, yang sangat puitis dan sering sekali membahas cinta, meskipun terkadang juga membahas hal lain. Musiknya juga enak. Waktu itu malah membeli backdate  album-album Katon dan KLA di tahun-tahun lama.

Saya suka musik dan lirik yang filosofis. Lirik-lirik Tulus sarat makna. Misalnya, untuk lagu monokrom ini dia ingin bercerita bagaimana ia lebih senang dengan foto hitam putih ketimbang foto berwarna. Foto hitam putih mengharuskan kita untuk lebih berusaha menghidupkan kembali kenangan, karena warna dan situasi tidak tergambarkan sempurna hanya melalui gambar. Kok kepikiran ya ?

Jangan lupa untuk dukung musik Indonesia dengan membeli lagu-lagu ketimbang membajaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s