Jalan-Jalan di Ho Chi Minh City (Saigon)

Jalanan sore Ho Chi Minh

Beberapa pekan yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi kota Ho Chi Minh City untuk mengikuti kegiatan Cross Platform Development Summit yang diselenggarakan Microsoft Vietnam, yang banyak membahas mengenai Xamarin sebagai salah satu opsi untuk mengembangkan aplikasi mobile. Namun di tulisan ini saya hanya menceritakan bagian pada saat melakukan eksplorasi Ho Chi Minh City untuk wisata saja, kegiatan seriusnya dibahas disini dan disini saja.

Saya sengaja meluangkan waktu satu hari sebelum kegiatan Summit diselenggarakan untuk berkeliling di Ho Chi Minh. Sebelum berangkat, saya sudah survey singkat dulu mengenai kegiatan apa saja yang biasanya dilakukan orang disana, terutama jika hanya memiliki waktu yang pendek. Dari survey singkat saya dapati informasi bahwa di Ho Chi Minh terdapat beberapa tempat yang menarik untuk dilihat, seperti bangunan peninggalan pada saat Prancis masih menguasai Vietnam, monumen dan peninggalan-peninggalan yang terkait perang Vietnam.

Satu hari berkeliling Ho Chi Minh membawa pengalaman baru terutama melihat bagaimana nasionalisme dan kecintaan mereka terhadap negeri sendiri. Perang saudara yang dialami selama satu dekade sangat membekas dan menjadi pijakan mereka ke depan. Beberapa tempat menarik untuk dikunjungi, bagi pecinta mie dan kopi kota ini menyediakan beberapa pilihan yang menarik meskipun saya kurang bisa menikmati namun dengan moda transportasi umum yang terbatas, jika Anda membawa keluarga, mungkin harus lebih prepare dan menggunakan angkutan yang layak.

Paket Data dan Mata Uang Vietnam Dong

Satu hal yang sulit ditinggalkan oleh generasi millenial saat ini tentu saja adalah koneksi internet. Karena itu, salah satu yang pertama kali saya lakukan ketika mendarat adalah mencari kartu telepon yang dapat digunakan di Vietnam. Dari informasi yang saya baca, ada beberapa operator telekomunikasi yang terkenal di Vietnam, salah dua nya adalah Viettel dan Mobifone. Anda tidak perlu khawatir kesulitan mencari tempat membeli kartu ini karena mereka tersedia persis di depan arrival hall bandara.

Saya sampai di konter kartu dan yang pertama kali terlihat adalah Viettel sehingga saya putuskan saja untuk membeli kartu Viettel. Petugasnya memasangkan dan melakukan konfigurasi langsung supaya kartu dapat langsung dipakai. Harganya kurang lebih USD 10 atau 228.000 d untuk paket data unlimited selama 2 minggu. Kalo Anda tidak membutuhkan koneksi 4G sebenarnya bisa saja membeli kartu Viettel untuk 2 minggu juga dengan harga yang lebih murah sekitar 150.000 d. Setelah membayar, perangkat saya sudah bisa digunakan dan siap membantu saya mengeksporasi Saigon.

Setelah kartu dipasang, saya juga sempat mengamati, kartu SIM Telkomsel saya berubah carrier name nya menjadi Mobifone. Agaknya, Telkomsel bekerjasama dengan Mobifone untuk wilayah Vietnam. Saya sengaja mengisi pulsa agak banyak buat jaga-jaga supaya dapat terus mengirimkan SMS jika paket data tidak bekerja untuk mengabari keluarga di Pekanbaru.

Setelah mengisi kartu, hal berikutnya tentu saja memiliki uang Vietnam, yaitu Dong. Untuk menukar Dong, lumayan susah kalau di Bandung. Di GMS, yang termasuk pedagang valas besar di Bandung, ternyata tidak memiliki mata uang Dong. Akhirnya saya tukar saja rupiah yang mau dibawa ke dollar Amerika, dengan harapan lebih mudah ditukar disana. Sebagai informasi mata uang rupiah itu lebih kuat dari Vietnam dong. Rp 1.000.000 setara kira-kira dengan Rp 1.700.000.

Untuk menukar mata uang juga tidak perlu khawatir. Di sekitar arrival hall itu banyak tersedia tempat penukarang uang. Lebih baik menukar di area itu dibandingkan di kota karena setelah saya bandingkan nilainya lebih besar tukaran yang di bandara. Karena saya bawa uang USD memang lebih mudah menukarnya. 1 USD itu setara dengan 22.720 d pada hari-hari tersebut. Dengan berbekal paket data dan mata uang lokal, kita sudah siap untuk berkeliling Ho Chi Minh.

Berkeliling Ho Chi Minh

Untuk berkeliling Ho Chi Minh ada beberapa opsi yang bisa digunakan. Dari bandara menuju pusat kota, jika tidak mau repot kita bisa menggunakan taksi. Taksi di Vietnam, ya mirip-mirip di Indonesialah. Ada dua merek taksi yang cukup terkenal dan sangat terpercaya,  yaitu Vinasun dan Mailinh.

https://i0.wp.com/hochiminhcityhighlights.com/wp-content/uploads/2014/08/SAM_7990.jpg
Taksi Vinasun, sumber : http://hochiminhcityhighlights.com/wp-content/uploads/2014/08/SAM_7990.jpg
https://i0.wp.com/hochiminhcityhighlights.com/wp-content/uploads/2014/08/SAM_7999.jpg
Taksi Mailinh, sumber : http://hochiminhcityhighlights.com/wp-content/uploads/2014/08/SAM_7999.jpg

Saya menguji berapa perbedaan harga tarif taksi jika menggunakan taksi tembak dan Vinasun. Pada taksi tembak, ketika petugas menyadari kita adalah bukan orang Vietnam, harganya langsung melonjak. Saya ditawari 350.000 d untuk sampai ke tempat saya menginap  yang jaraknya sekitar 8  km dari bandara Tan Son Nhat Internasional.

Sekilas pengamatan saya, Ho Chi Minh mirip Jakarta, kota metropolitan. HCMC memang merupakan kota terbesar di Vietnam yang lagi sibuk membangun dan berbenah. Cuacanya sedikit panas, mirip udara di Indonesia. Orang banyak yang bersepeda motor. Dan mirip Indonesia juga, lumayan serampangan. Suka melanggar lampu dan suka mengambil jalan trotoar. Dan dari informasi yang saya dapat, ternyata juga sedang ada pembangunan MRT yang akan mulai beroperasi di 2019. HCM sendiri merupakan kota dengan luas 30.000 m2 dengan jumlah penduduk sekitar 10 juta jiwa. Cukup padat. Makanya sedikit rasa-rasa Jakarta. Macet juga, panas dan penuh. Setidaknya itu pengalaman saya.

Selain menggunakan taksi, tentu saja bisa menggunakan transportasi publik seperti bus. Namun karena malas mencari informasi rute plus bahwa orang di sana jarang yang bisa berbahasa Inggris, saya malas berhadapan dengan situasi dimana sulit bertanya atau menjelaskan sesuatu. Dan yang populer saat ini dengan harga yang juga terjangkau adalah taksi online, yaitu Uber dan Grab. Supaya mendapatkan tarif yang tetap, saya menggunakan aplikasi Grab. Meskipun mereka tidak mengerti bahasa Inggris kita masih bisa menampilkan alamat tujuan di layar handphone dan mereka pun akan langsung mengerti.

City Tour : The Sight

Kantor Pos Central Ho Chi Minh City

Karena hanya punya waktu satu hari, saya memutuskan untuk menggunakan penyedia tour. Setelah googling sebentar, ketemulah XO Tour, penyedia jasa city tour menggunakan scooter yang sangat terkenal di Ho Chi Minh City. Terdapat beberapa tipe tour  yang disediakan, The Sight, The Foodie dan Saigon by Night. Saya sengaja pilih The Sight karena waktu tur nya mulai dari pagi hingga siang, sehingga masih punya waktu di siang hari jika ingin berkeliling sendiri.

Pagi jam 8.25 saya sudah dijemput XO Tour di hotel tempat saya menginap. Sebelum saya naik motor, diingatkan dulu beberapa aturan mengenai jangan mengeluarkan hape pas berkendara dan menari-nari diatas motor. OK, itu aneh. Siapa coba yang menari menari di atas motor. Ternyata banyak bule yang jarang mengendarai motor dan begitu naik motor begitu senangnya sampe menari-nari dan membahayakan warga sekitar . Tour The Sight akan membawa kami mengunjungi Kantor Pos dan Katedral, gedung peninggalan Prancis di HCMC, Reunification Palace, pasar pagi, Monumen Biksu dan Pagoda.

Peserta tur berkumpul di depan kantor Pos Ho Chi Minh. Total ada 4 orang peserta tur yang datang dari berbagai negara. Ada dari Taiwan, Belanda dan Australia. Pemimpin tur kami, Anh, fasih berbahasa Inggris sehingga mudah berkomunikasi dan mendengarkan penjelasannya mengenai tempat-tempat yang dikunjungi.

Kantor Pos Ho Chi Minh adalah tempat pertama yang di datangi. Ini merupakan kantor pos tertua di Ho Chi Minh dan mungkin di Vietnam. Tempat ini menjadi menarik karena menunjukkan bagaimana Prancis pernah berkoloni disini dan menghasilkan bangunan dengan arsitektur ala Eropa. Tampak luar memang gedungnya seperti gedung-gedung kolonial dan lebih mirip stasiun kereta ketimbang kantor pos. Gedung ini masih berfungsi sebagai kantor Pos. Dahulu, kantor Pos juga digunakan untuk tempat menelpon atau istila kerennya Wartel. Namun bilik-bilik telpon ini beberapa sudah berubah menjadi tempat ATM.

Bilik telepon, satu-satunya cara menghubungi kerabat jauh, dahulu

Di depan Gedung Pos ini berdiri katedral tua dengan arsitektur ala Eropa yang megah. Ketika saya berkunjung, sekitar 4 pasang muda mudi sedang melakukan pemotretan untuk pernikahan. Meskipun mayoritas penduduk Vietnam beragama Budha, gereja ini tetap terpelihara dan menjadi salah satu ikon kota HCMC. Setiap Minggu, gereja ini ramai didatangin orang yang ingin beribadah. Ada satu cerita mengenai patung Bunda Maria yang berada di depan gereja ini. Beberapa tahun yang lalu pernah ada mitos bahwa patung ini mengeluarkan air mata sehingga menyebabkan warga Vietnam yang beragama Kristen beramai-ramai ingin melihat kejadian tersebut sampai ada beberapa yang berkemah disekitar patung. Akhirnya, pemerintah Vietnam membubarkan aksi tersebut karena menyebabkan kemacetan.

Katedral Ho Chi Minh City

Dari kedua landmark bersejarah itu kami bergerak ke Reunification Palace. Ini merupakan istana bersejarah dimana menjadi simbol bersatunya Vietnam Utara dan Selatan setelah mengalami perang saudara yang cukup lama. Tahun 1975, gedung ini merupakan tempat tinggal presiden Vietnam Selatan yang didukung oleh Amerika Serikat, yang ingin menegakkan ideologi Barat. Sejarah menunjukkan bahwa usaha ini gagal. Vietnam Utara berhasil menaklukkan Amerika Serikat. Insiden didobraknya pintu pagar dengan menggunakan Tank baja merupakan simbolisasi runtuhnya perlawanan Amerika-Vietnam Selatan dan bersatunya kembali – reunification – warga Vietnam menjadi satu kesatuan. Sekarang gedung ini berfungsi layaknya suatu museum, dimana pengunjung dapat melihat-lihat interior dan furniture yang digunakan pada masa itu. Untuk masuk ke tempat ini kita perlu membayar 30.000 VND. Mungkin ini adalah salah satu gedung yang gagal didobrak Rambo .

Reunification Palace, simbol bersatunya Utara-Selatan

Dari Reunification Palace, rombongan bergerak dan berhenti sebentar di Gia Long Street. Lokasi ini tampak seperti jalan biasa saja. Namun ternyata di lokasi ini pernah terjadi sesuatu yang bersejarah dan mendebarkan. Perhatikan area yang saya lingkar merah di foto di bawah ini.

Pada lokasi itu, 29 April 1975, terjadi operasi evakuasi untuk warga US dan warga Vietnam yang pro US akibat jatuhnya kota HCMC – dulu disebut Saigon – ke tentara Vietnam Utara. Sebuah helikopter berkapasitas 10 orang mendarat di atas gedung yang disinyalir merupakan markas rahasia CIA. Helikoter ini merupakan helikopter terakhir, yang akan menyelamatkan mereka dari penangkapan oleh tentara musuh. Perhatikan foto di bawah ini. Puluhan orang mengantri untuk masuk ke helikopter yang hanya sanggup mengangkut sepertiga dari mereka. Helikopter ini tidak pernah kembali. Meninggalkan puluhan lainnya berharap dalam gelap. Dan akhirnya mereka menyelamatkan diri sendiri menyebar dan mencoba berbaur. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi kepada mereka. Bahkan Anh, sang tour leader tidak bisa menceritakan kejadian ini dengan mengacu ke sumber yang akurat. Bayangkan, penantian mereka yang berharap akan diselamatkan namun sebenarnya hal itu mustahil akan terjadi.

04_17_Nam_fall_01

Setelah dari lokasi rahasia markas CIA, kami diantar berkeliling ke pasar Pagi di District 1. Sebenarnya menurut saya pasar pagi ini biasa saja. Namun ternyata bagi warga Belanda dan Australia, melihat pasar pagi yang ramai, menjual apa saja dan sedikit becek adalah hal yang menarik. Di dalam pasar, kami duduk sebentar dan disuguhi yogurt dan pudding yang namanya saya lupa. Selepas makan dessert kami berkeliling kembali dan diantar ke Monumen Biksu.

Ini adalah kejadian bersejarah dimana seorang biksu melakukan aksi protes terhadap perlakukan pemerintah terhadap para Biksu dengan membakar dirinya sendiri hidup-hidup. Mengerikan membayangkan. Anh, sang tour leader menunjukkan foto detik-detik pembakaran biksu tersebut, mulai dari penyiraman kerosin hingga selesainya terbakar tubuh sang biksu yang memakan waktu 15 menit lamanya. Menurut legenda, sang biksu selama terbakar, tidak berteriak sama sekali tetap bermeditasi dan menyuarakan protesnya. Kejadian ini merupakah salah satu kejadian memilukan lainnya yang pernah terjadi di Vietnam.

Monumen biksu terbakar

Dari lokasi monumen, tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Pagoda Agung di Saigon. Ini merupakan pagoda tua yang sangat dihormati oleh warga Saigon. Setiap hari besar , tempat ini pasti ramai dikunjungi. Mereka datang untuk berdoa dan mengharapkan keberkahan dalam hidup mereka. Pagoda ini sudah berusia ratusan tahun dan merupakan cagar budaya Vietnam yang tergolong paling lama. Disini, kami berpisah dari rombongan dan saya pun kembali ke hotel.

Museum Peninggalan Perang dan Ben Thanh Market

Setelah selesai city tour, saya masih punya waktu setengah hari untuk berkeliling kota. Agenda saya tinggal dua yaitu mengunjungi museum dan berbelanja oleh-oleh di Ben Thanh Market. Dari hotel, saya menggunakan Grab menuju museum peninggalan perang – War Remnant Museum – yang berisikan peninggalan Perang Vietnam yang terkenal itu.

Untuk masuk museum kita cukup membayar 20.000 VND. Gedung museum terdiri dari empat lantai dan setiap lantai memiliki cerita yang berbeda. Lantai dasar misalnya menceritakan gelombang protes yang terjadi diseluruh dunia yang memprotes kebijakan Amerika yang ikut campur tangan mengenai kondisi dalam negeri Vietnam circa 1965 – 1975. Lantai berikutnya, menceritakan foto-foto korban gas Orange, gas beracun yang digunakan Tentara US untuk “membunuh” secara massal tentara dan sebagian juga warga sipil Vietnam Utara. Di lantai ini kita bisa melihat dengan jelas kekejaman dan penderitaan warga yang terkena efek gas beracun tersebut. Gas tersebut banyak menimbulkan bayi-bayi yang cacat sejak lahir karena efek syaraf-nya yang berbahaya. Berkunjung ke museum ini mengingatkan kembali rasa nasionalisme terhadap negeri sendiri. Betapa kemerdekaan tidak diperoleh dengan mudah. Dan pastinya disertai penderitaan dan perjuangan luar biasa. Bagi warga Vietnam, perang saudara masih menjadi duka yang mendalam karena masih belum terlalu lama masanya dan jejak-jejak perang tersebut masih sangat terasa di berbagai tempat.

Selepas dari museum, saya beralih ke pasar rakyat Ben Thanh, tempat turis membeli oleh-oleh. Tempat ini merupakan tempat berburu suvenir, mulai dari baju, kalung, kain hingga topi caping Vietnam yang unik tersebut. Berbelanja disini tentulah keahlian tawar-menawar patut digunakan karena mereka memberikan harga awal yang luar biasa besar. Tour guide kami sudah memberitahu untuk menawar sepertiga harga yang ditawarkan jika berbelanja disini. Saya tidak banyak berbelanja di Ben Thanh, karena sebelumnya sudah berkunjung ke Mekong Shop, semacam toko oleh-oleh yang harganya sudah fix. Ini merupakan alternatif bagi saya yang tidak bisa menawar dan ingin berbelanja berbagai barang di satu tempat. Konsepnya mirip Kresna di Denpasar ketimbang pasar Fatmawati. Di Ben Thanh, saya mencari barang yang tidak saya temukan di toko Mekong seperti baju untuk anak-anak.

Ben Than Market di kala senja

Kuliner Saigon

Bagi saya kuliner di Saigon tidak terlalu istimewa, meskipun saya sudah mencoba berkunjung ke tempat yang direkomendasikan tour guide. Panganan rakyatnya mirip-mirip dengan panganan tradisional kita. Kue basah dan minuman air tebu sangat terkenal disana. Teman tur Australia dan Belanda sangat kaget ada minuman semacam air tebu dan buah bernama rambutan. Tentu saja air tebu dan rambutan bukan barang asing bagi kita. Bahkan di rumah saya di Pekanbaru dulu terdapat pohon rambutan dan jambu yang jadi tempat saya nongkrong setiap sore.

Makanan dari bahan dasar mie merupakan favorit disini. Dikenal dengan istilah Pho. Namun menurut saya kuah mie disini agak asin. Baunya juga lebih tajam dibandingkan mie di Indonesia. Saya mencoba ke tempat mie yang direkomendasikan namun juga rasanya tidak terlalu istimewa.

Makan Pho di Hue Restaurant

Terakhir saya juga coba mengunjungi kedai kopi yang sangat terkenal di Ho Chi Minh, Trung Nguyen Coffee. Berhubung saya tidak begitu mengerti kopi yang enak seperti apa, saya hanya mencoba kopi rekomendasi dari pelayan dan menurut saya rasanya sangat pahit. Kata tulisan yang saya baca sih itu kopi premium Vietnam. Tapi tidak cocok di lidah saya. Mungkin karena saya bukan pecinta kopi seperti generasi muda masa kini.

Oiya, beberapa tempat yang direkomendasikan tour guide saya taro dibawah ini barangkali bisa jadi bahan pertimbangan teman-teman yang mau ke Ho Chi Minh suatu waktu nanti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Satu hari di Ho Chi Minh rasanya cukup untuk sedikit memahami dan merasakan atmosfer kota. Kota ini tergolong kota yang sangat dinamis. Pembangunan terjadi dimana-mana. Warga hilir mudik bising sibuk bekerja. Persis seperti kota besar lainnnya di negera berkembang. Mengingatkan akan kota-kota di Indonesia. Tidak terlalu terkenal sebagai kota wisata tapi juga bukan kota yang sama sekali tidak menarik untuk dikunjungi.

Akan tetapi, seenak-enaknya makanan di kota luar negeri, masih lebih enak ayam pecel sambel lalap di pinggir jalan negeri sendiri.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s