Selamat Hari Ibu

Selamat Hari Ibu

Selamat Hari Ibu.

Saya ingin mengucapkan selamat hari ibu, terutama kepada dua orang ibu yang luar biasa, Mama, orang tua saya dan Irlanda, ibu dari anak-anak saya Smile.

904175_10151398563314531_1342001053_o

Mama sejak kecil sudah belajar mandiri termasuk ketika di tahun 70-an mengambil kuliah sendiri ke Jogja, jauh dari Pekanbaru, kota tempat tinggalnya. Setelah sekolah, ia mengabdi menjadi pelayan publik di daerah, menjadi PNS yang berpindah-pindah di beberapa kantor. Dahulu, kalau ia naik pesawat maka biaya naik pesawatnya digratiskan oleh maskapai, karena hari ulang tahunnya sama dengan ulang tahun hari raya kemerdekaan kita.

Beliau kemauannya sangat keras, mungkin karena didikan kakek kami yang memang eks-veteran perang kemerdekaan. Si mamah yang sejak dulu sukanya nantangin saya untuk memilih sesuatu yang saya anggap sulit untuk dilakukan. Dulu, yang memaksa saya untuk mencoba mendaftar ke ITB juga karena tantangan si mamah. Beliau juga yang bersikeras bahwa itu bisa dilakukan dan mencoba mencari beasiswa dari daerah.

Waktu saya tingkat akhir, sempat kepikiran ingin jadi PNS juga, pulang ke Riau dan membangun daerah. Tapi si mamah yang meyakinkan juga bahwa peluang IT disana masih belum baik sehingga sebaiknya berkarya dulu saja di Bandung sembari memperhatikan perkembangan di daerah.

Sering kali saya merasa si Mamah ini jarang bangga dengan prestasi anaknya. Karena kalau setiap saya laporan, habis ini, sudah ini, abis begitu…tanggapannya biasa saja. Tapi ternyata, menurut si papah, tanpa sadar itu cara si mamah untuk terus memecut anaknya terus berusaha dan tidak puas dengan kondisi saat ini. Karena ternyata di kesempatan yang berbeda, dibelakang saya, si mamah selalu membanggakan anak-anaknya kepada teman-temannya.

 

img-20161222-wa0022

Irlanda, istri saya Smile. Sekarang menjadi bunda dari kedua anak kami. Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara mungkin banyak yang berpikir Iir akan menjadi gadis manja. Tapi kenyataannya tidak demikian. Ia pekerja keras, cerdas dan penuh keinginan untuk menjadi lebih baik meski kadang sering kurang percaya diri. Bagian saya mudah, mengingatkan ia untuk selalu percaya diri dan bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.

Pertama kali ketemu di SMA, selama 3 tahun sekolah, baru dia satu-satu-nya wanita yang bisa mengalahkan saya di kelas. Hehe. Rajin. Suka kurang pede tidak bisa tapi kalau keluar ulangan taunya nilainya tinggi semua.

Tinggal mandiri di Jakarta dan berhasil menaklukkan Universitas Indonesia. Saya ingat perjuangannya untuk berhasil lulus dan lolos dari kedokteran gigi. Rasanya setiap malam ada saja yang diceritakan mengenai hambatan yang ia hadapi tapi saya yakin toh akhirnya pasti akan dapat dilalui juga.

Saat ini lagi beradaptasi, untuk mengurusi dua anak kami yang masih mungil-mungil. Ditambah beberapa bulan ke depan saya masih harus di Bandung, tidak terbayang betapa rempongnya ia disana. Tapi, lagi-lagi ia menjanjikan usaha untuk bisa berbuat yang terbaik menjadi bunda.

Dua wanita yang luar biasa.

Selamat hari Ibu. Saya yakin usaha ibu ganjarannya surga.

Bandung Developer Day #5

Tanggal 20 Desember yang lalu, A/BITS didukung oleh Microsoft Indonesia menyelenggarakan kegiatan Bandung Developer Day #5, acara yang bertujuan meberikan berbagai pengetahuan terbaru bagi para developer khususnya di kota Bandung mengenai teknologi pengembangan aplikasi menggunakan Xamarin.

Pada gelaran kali ini, format yang digunakan adalah workshop. Peserta diberikan materi satu sesi oleh Puja Pramudya, mengenai pengenalan teknologi Xamarin, kapan sebagainya digunakan dan kakas pendukung untuk pengembangan aplikasi. Setelah itu, dilanjutkan dengan sesi Hands-on-Labs, dimana para peserta mencoba secara langsung pengembangan aplikasi menggunakan teknologi Xamarin. Untuk sesi ini, dipandu langsung oleh Xamarin Developer Radya Labs Teknologi, yaitu Albilaga.

Berbeda dengan workshop-workshop sebelumnya, acara yang diberi tajuk Xamarin Party ini memang mengusung suasana ‘pesta’ karena panitia menyediakan pizza, soft drink dan snack kepada para peserta agar dapat mengerjakan aplikasi dengan semangat karena asupan gizi roti panggang italia . Acara ini dihadiri oleh 26 peserta dengan latar belakang kebanyakan mahasiswa dan developer perorangan.

img20161220133208 img20161220152955 img20161220163010 img20161220163026

whatsapp-image-2016-12-21-at-00-09-56

Menikmati Musik Tulus

Menikmati Musik Tulus

Saya cukup sering travelling Bandung-Jakarta menggunakan shuttle. Dan jika ini dilakukan, musik adalah teman setia untuk menemani perjalanan beberapa jam tersebut. Dan akhir-akhir ini, saya sedang sering mendengarkan Album Tulus yang ke-3, yaitu Monokrom. Hampir semua lagunya saya suka.

Saya tipe-nya memang begitu senang satu album akan mendengarkan secara terus menerus. Sehingga lagu-lagunya menjadi selalu teringat, liriknya jadi hafal sendiri dan irama-nya bahkan sering saya senandungkan. Terkadang, malah membuat warga sekitar (baca : anak-anak Kantor) menjadi terganggu.

Sudah lama tidak menemukan musisi seperti Tulus. Lagunya bisa bercerita. Bukan hanya sekedar tentang cinta yang sering diperdengarkan oleh banyak band dan penyanyai lainnya. Tapi cinta secara umum. Cinta terhadap pacar, istri, teman, lingkungan, orang tua dan bahkan terhadap diri sendiri. Pemilihan diksi-nya  menarik. Tidak terlalu puitis. Kata-kata biasa, sederhana, lugas tapi dirangkai menjadi luar biasa. Bercerita dari hati. Saya suka lagunya, liriknya, melodinya dan cerita di balik lagunya.

Di album terakhir ini, saya paling suka lagi Monokrom. Iramanya enak. Kalau tidak muncul video klipnya, mungkin saya terlewat bahwa lagu ini sebenarnya dipersembahkan untuk orang tua, bukan untuk teman-teman masa kecil. Di video klip tersebut, digambarkan hubungan hangat antara anak dan ibu. Syahdu sekali didengarkan. Sambil merenung melihat perbukitan antara Purwakarta-Bandung.

Sudah lama tidak menemukan musisi seperti ini. Terakhir kali, adalah ketika mendengarkan lagu-lagu dari Katon Bagaskara sekitar tahun 2002. Tulus berbeda dari lagu-lagu Katon, yang sangat puitis dan sering sekali membahas cinta, meskipun terkadang juga membahas hal lain. Musiknya juga enak. Waktu itu malah membeli backdate  album-album Katon dan KLA di tahun-tahun lama.

Saya suka musik dan lirik yang filosofis. Lirik-lirik Tulus sarat makna. Misalnya, untuk lagu monokrom ini dia ingin bercerita bagaimana ia lebih senang dengan foto hitam putih ketimbang foto berwarna. Foto hitam putih mengharuskan kita untuk lebih berusaha menghidupkan kembali kenangan, karena warna dan situasi tidak tergambarkan sempurna hanya melalui gambar. Kok kepikiran ya ?

Jangan lupa untuk dukung musik Indonesia dengan membeli lagu-lagu ketimbang membajaknya.

Kiana Farfalla Pramudya

Kiana Farfalla Pramudya

Setelah Razki – anak pertama kami –  lahir, beberapa hal ternyata menjadi berubah. Sekarang, perhatian tidak hanya tertuju sama istri saja tetapi kepada anggota keluarga baru. Pekerjaan membagi waktu menjadi hal yang harus dilakukan dengan sebaik mungkin. Mungkin karena itu juga, waktu untuk ngeblog seriuspun menjadi jauh berkurang.

Dan pasca Razky lahir, saya dan istri memang tidak memasang KB. Istilahnya tidak menunda dan juga tidak mengejar. Jadi berjalan begitu saja. Seperti air mengalir. Dan percayalah, yang namanya Rezeki Allah itu tidak akan pernah terlambat dan tertukar.

Berita Hamil Anak Ke-2

Waktu itu saya dan rekan-rekan Radya Labs memutuskan untuk mengikuti kegiatan Hackathon Educode yang diselenggarakan Depdiknas dan DailySocial. Sebelum pergi, istri bilang bahwa sudah dua hari terakhir ia flek dan sekarang sudah tidak ada flek lagi. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, hal ini bisa jadi merupakan tanda-tanda kehamilan.

Sepanjang jalan, hal itu menjadi pikiran juga akhirnya. Karena saya sudah terlanjut mau ikutan Hackathon, dengan kondisi itu malah harus meninggalkan istri di Bandung. Sambil terus bertukar kabar mengenai kondisi istri, sayapun terus mengikuti kegiatan Hackhaton. Alhamdulillah, di akhir hari ternyata tim kami berhasil memenangkan Hackhaton. Rezeki ini kata saya, mungkin memang rezeki anak ke-2.

Setelah itu masa 7.5 bulan kehamilan pun dilalui di Bandung. Pada saat melahirkan nanti, Razky, putra pertama kami, akan berusia 1.5 tahun. Jarak yang memang secara umum dianggap cukup dekat. Diawal-awal sempat ada kekhawatiran bagaimana nanti menjaga dua anak yang masih kecil-kecil. Tapi seperti kata orang dulu, alon-alon asal kelakon, pelan-pelan menjalaninya. Bahkan, sebelum lahiran pun, di usia kandungan 5 bulan, istri sempat terserah DBD dan harus dirawat di rumah sakit selama 11 hari. Alhamdulillah kandungannya sehat-sehat saja. Dan karena Razky masih kecil, jadi berbeda seperti tahun sebelumnya, saya tidak bisa leluasa mengajak keluarga jalan-jalan, karena belum terbiasa sekali mengurusi anak sambil liburan. Jadilah, kita mengisi hari-hari di Bandung saja menunggu masa lahiran tiba.

Menuju Hari Kelahiran

Berbekal pengalaman waktu sakit DBD dulu dimana kita kesulitan menjaga Razky sementara istri harus di RS, kita memutuskan untuk melahirkan di Pekanbaru, seperti tahun sebelumnya. Sesuai prakiraan dokter, anak sudah bisa dilahirkan di minggu ke-2 Agustus. Untuk itu, pasca Idul Fitri, istri tinggal di Pekanbaru dan saya akan pulang menjelang hari kelahiran. Setidaknya, itu rencananya.

Saya sudah berencana pulang tanggal 17 Agustus 2016, dengan harapan, anak kedua lahir setelah tanggal tersebut. Sengaja saya tidak membeli tiket terlebih dahulu, berjaga-jaga kalau dibutuhkan hadir lebih cepat. Dan, ternyata benar adanya. Setelah kontrol terakhir ke dokter kandungan, dinyatakan kondisi kandungan sudah siap lahir. Padahal waktu itu baru tanggal 13 Agustus 2016. Deg-degan juga rasanya jangan-jangan bisa lahiran lebih cepat.

Sejak laporan kontrol terakhir itu saya jadi was-was sembari menunggu kabar untuk menentukan kapan harus pulang. Persis di tanggal 15 Agustus itu, istri mengabarkan sakit-nya menjadi-jadi sehingga direncanakanlan pulang tanggal 16 Agustus. Waktu itu tidak bisa langsung pergi hari itu juga, karena saya belum bawa barang sama sekali, karena barang tertinggal di Bandung, sementara saya waktu itu lagi ada keperluan di Jakarta. Jadilah saya membeli tiket untuk tanggal 16 Agustus, rute Bandung-Pekanbaru jam 10 pagi.

Tapi, yang namanya apes ya bisa datang kapan saja.

Keesokan harinya begitu sampai di bandara, terkejutlah saya bahwa pesawat yang ada delay semua. Alasannya karena kondisi keamanan. Katanya, mobil pemadam kebakaran yang biasanya standby lagi rusak. Awaknya saya bingung apa hubungannya mobil damkar dengan bandara. Namun, kemudian saya memahami ternyata itu menjadi salah satu SOP untuk suatu pendaratan dimana harus selalu tersedia mobil damkar jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tak dinginkan.

Menjadi dobel apes-nya karena hari itu saya butuh agar pesawat tidak delay. dan menjadi triple apes-nya karena bandara sekelas Husein yang notabene bandara intersional tidak memilik redundansi atau cadangan…untuk menghadapi kasus seperti yang dialami sekarang.

Tegang saya berkomunikasi dengan istri, saling mengupdate kabar. Sampai jam 12 siang belum ada tanda-tanda pesawat akan berangkat. Sementara itu istri melaporkan sejak pagi perut-nya sudah terasa sakit sekali. Begitu mendekati jam 1, diumumkan pesawat saya kaan boarding tidak lama lagi. Dan bersamaan dengan itu, istri memberitahukan karena sakitnya yang luar biasa, ia akan dianter duluan ke rumah sakit.

Pikir saya, masih akan lama lahirnya. Pengalaman tahun lalu , mulai masuk RS hingga lahir ada jangka waktu sekitar 9 jam. Saya pikir masih akan sempat untuk menemani istri lahiran. Sayangnya, pikiran saya salah. Begitu mendarat di Pekanbaru, saya hidupkan perangkat seluler untuk mendapatkan kiriman pesan gambar dari istri saya yang mengabarkan bahwa anak kedua kami sudah lahir, berjenis kelamin perempuan pada jam 14.40. Saya akhirnya tiidak bisa menemani iiR, di ruang persalinan, karena pesawat saya delay.

Begitu mendarat, saya langsung ke bandara dan menemui istri dan anak saya yang baru lahir. Saya hanya bisa mendengarkan kisah perjuangan istri saya kali ini karena tidak bisa menemani di detik-detik persalinan seperti tahun lalu. Tapi seperti yang saya sudah ketahui, istri saya orangnya kuat, insyallah. Bahkan ia menolak ditemani, ayah atau ibu-nya, khawatir karena kesehatan mereka dan memilih untuk berada di ruangan sendiri bersama tim medis.

Sesampainya di ruang persalinan, istri masih berada disana untuk pemulihan dan sayapun langsung mengumandangkan adzan dan qomat di telinga-nya. Bayi hebat dan perempuan hebat yang berjuang bersama hari ini. Dan anak kedua kami, seorang putri ini diberi nama Kiana Farfalla Pramudya.

WhatsApp Image 2016-08-17 at 7.53.09 AM

Arti Nama

Pada tulisan tahun lalu, saya sudah menceritakan asal usul nama anak pertama kami. Kali ini, saya akan menceritakan asal usul nama anak kedua.

Setelah berdiskusi selama beberapa waktu, nama yang dipilih untuk puteri kami adalah Kiana Farfalla Pramudya. Sebelum nama ini resmi, Kinara dan Kinaya sempat menjadi opsi untuk nama depan, tapi akhirnya settle dengan nama Kiana.

Kiana,terinspirasi dari kata Qiyana, yang dalam bahasa Arab berarti Berkah tuhan.

Farfalla, diambil dari bahasa Italia, yang artinya Kupu-kupu. Dengan harapan falla dapat bermetaformosis dari bayi kecil mungil menjadi wanita yang soleha dan berbakti ke depannya.

Pramudya, tentu saja diambil dari nama Bapaknya.

IMG-20160918-WA0012

Semoga dengan kehadiran Kiana, menambah kebahagian bagi keluar kecil kami. Salam dari “The Pramudya”.

Sarjana Terbaik Adalah Mereka yang Membawa Kemajuan Dimanapun Dia Berada

Entah bagaimana caranya, foto wisuda saya bersama teman-teman dari SMAN 8/UKMR sering kali digunakan oleh pihak lain. Kadang jadi pamflet..kadang jadi gambar untuk blog. Kadang ngga pake izin cuma nyantumin link aja.

Salah satu artikel terakhir yang menggunakan foto itu adalah : http://www.satujam.com/sarjana-terbaik-adalah-mereka-yang-membawa-kemajuan-di-kampung-halamannya/ . Pada artikel tersebut diberikan argument bahwa sarjana yang terbaik adalah mereka yang membawa kemajuan di kampung halamannya.

Agak tersentil sedikit sih. Karena memang sejak lulus, saya banyak beraktivitas di Bandung, tempat saya kuliah dibandingkan kota kelahiran saya Pekanbaru. Sedikit banyak ada hutang budi jugalah. Tapi memang kesempatan saat ini berbicara lain. Dan tetap saja perasaan bersalah itu kadang muncul.

Karena itu, setiap ada kesempatan, apapun kalau bisa berkontribusi sedikit saja kesana pasti saya ambil. Sebelumnya, pernah bersama Nokia mengadakan seminar 1 hari tentang Qt programming. Terakhir ini bersama Microsoft mengisi acara Pekanbaru Techno Day, seminar 1 hari + workshop dikeesokan harinya.

IMG_20160415_170651

Alhamdulillah, minggu lalu diberi kesempatan lagi untuk sharing, kali ini tentang Cloud Computing dan Azure, bersama dosen-dosen Aptikom se-Riau. Saya kaget, karena bahkan ada yang datang dari Bengkalis dan Pasir Pangarayan.

Semoga, kegiatan ini bisa bermanfaat dan diberi kesempatan untuk kegiatan serupa di lain waktu.

Bandung Developer Day #2

Tanggal 10 Desember yang lalu, FowabEdu didukung oleh Microsoft Indonesia, Dicoding dan Codelabs UNIKOM telah menyelenggarakan kegiatan Bandung Developer Day, acara yang bertujuan memberikan berbagai pengetahuan terbaru bagi para deeveloper khususnya di kota Bandung mengenai teknologi pengembangan aplikasi.

Pada event yang kedua ini, topik yang dibawa adalah pengembangan aplikasi berbasis Mobile. Acara diselenggarakan di UNIKOM Dipatiukur mulai jam 1 hingga jam 5 sore dan dihadiri hingga 100 mahasiswa dan pengembanga plikasi. Topik  yang dibahas adalah introduction to mobile product development, dibawakan oleh Andri Yadi, CEO Dycode. Topik berikutnya adalah cara membangun aplikasi mobile menerapkan prinsip-prinsip best practice dibawakan oleh Narenda Wicaksono, CEO Dicoding. Topik terakhir adalah cara menggunakan mobile analytic untuk memonitor lebih lanjut aplikasi mobile yang sudah dikembangkan oleh Adam Ardisasmita, CEO Arsanesia. Acara menjadi lebih menarik karena dibuka menggunakan alunan penampilan band lokal dari UNIKOM.

Andri memberikan lanskap informasi terbaru mengenai pengembangan aplikasi mobile. Hal-hal yang perlu diperhatikan terutama untuk membangun solusi berbasis mobile atau produk berbasis mobile. Pengenalan produk development disertai dengan teknologi pendukung seperti IOT, cloud dan device. Disini juga disampaikan kemampuan Azure, terutama Azure IoT dan Azure Stream untuk mendukung pengembangan produk berbasis IoT.

Sesi berikutnya dibawakan oleh Narenda dari Dicoding. Pada sesi ini, Naren membahas sisi teknis pengembangan aplikasi mobile, hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat pembangunan produk berbasis mobile. Naren membahas lanskap teknologi yang tersedia, native atau engine-based development untuk menghasilkan aplikasi mobile. Untuk engine, misalnya AppStudio, atau hybrid-model menggunakan Xamarin dan Visual Studio 2015.

Sesi akhir dibawakan oleh Adam dari Arsanesia, membahas mobile analytic dan app store optimization. Mobile analytic merupakan elemen penting yang perlu diperhatikan oleh developer setelah masa pengembangan untuk melakukan pemantauan keberterimaan aplikasi mereka dipasaran. Salah satu tools yang dapat digunakan adalah Application Insight untuk analitik teknikal dan Mobile Engagement untuk analitik demografi pengguna.

Di akhir acara,ditutup dengan presentasi Microsoft Azure, produk cloud dari Microsoft yang dapat digunakan siapa saja, khususnya mahasiswa dengan akun Dreamspark untuk mengembangkan berbagai solusi, baik web dan mobile.

Dunia Lain : Konspirasi Fowab dan Koprol

Dunia Lain : Konspirasi Fowab dan Koprol

 

Tanggal 11 November 2015 yang lalu saya berkesempatan untuk menjadi salah satu mentor teknologi di acara Google Launchpad, sebuah kegiatan yang bertujuan membantu startup mengembangkan ide dan mengeksekusinya menjadi sebuah bisnis. Acara ini berlangsung selama 5 hari dan mendapatkan pembekalan lengkap dari berbagai mentor mulai dari urusan ide, ux, teknologi, marketing hingga presentasi/pitching. Pada hari ke-3 tersebut, sayapun berkenalan dengan rekan sesama mentor. Beberapa ada yang sudah saya kenal seperti Ibun dari GITS, Siddiq dari Nusantara Beta, Yohan dari FOWAB dan beberapa nama yang saya hanya tau nama tanpa pernah bertemu secara langsung seperti misalnya Daniel Armanto, CTO Adskom yang sebelumnya juga menjadi CTO Koprol, startup asal Indonesia yang diakusisi oleh Yahoo beberapa tahun yang silam.

Namun, tulisan kali ini bukan untuk membahas mengenai acara Google Launchpad tadi. Tulisan kali ini akan membahas sesuatu yang lebih mendasar lagi. Saya akan bercerita bagaimana kedua orang yang saya temui pada event  Google tersebut, tanpa mereka sadari, sudah memberikan pengaruh mengenai jalan hidup yang saya ambil hingga hari ini.

Beberapa saat berkenalan dan ngobrol langsung dengan mas Daniel, pikiran saya kembali ke lima tahun yang lalu, dimana saya menghadiri acara Fowab 3, salah satu dari beberapa alasan yang akhirnya berkontribusi terhadap pilihan hidup saya mendirikan Radya Labs. Fowab 3, diselenggarakan oleh Fowab yang diinisiasi salah satunya oleh Yohan, dan acara tersebut dihadiri oleh Koprol, startup dimana Daniel bekerja.

Waktu itu, sekitar bulan Juli 2010, persis setelah saya menyelesaikan masa sidang sarjana saya. Layaknya mahasiswa yang sudah hampir lulus, jelas saja pertanyaan tentang masa depan menjadi suatu bahan obrolan yang acapkali menjadi perbincangan. Ngobrol sama dosen, ngobrol sama teman, ngobrol sama pacar, ngobrol sama orang tua…semuanya tidak luput dari pertanyaan “Habis ini mau ngapain ?”.

Saat itu, logika yang sudah saya bangun sejak sebelum kuliah di Bandung adalah : lulus tepat waktu – mencari pekerjaan di bank/konsultan/oil company – hidup bahagia selamanya. Logika sederhana yang mungkin juga dimiliki oleh sebagian besar dari kita. Bagi saya, yang 17 tahun hidup di Pekanbaru, kota yang sangat jauh dari pengaruh modernitas dan kreativitas tanah Jawa, logika tadi adalah gabungan informasi yang kami miliki dari orang tua, harapan dari lingkungan sekitar serta kebiasaan yang memang sudah ada. Habis kuliah, cari pekerjaan dengan penghasilan layak, lalu hidup bahagia selamanya.

Berdasarkan logika itu pula, setelah sidang skripsi saya, meskipun belum resmi diwisuda saya mulai melakukan gerakan mencari pekerjaan ke beberapa perusahaan sebut saja Bank BRI, Bank Mandiri, dan Telkomsel. Hasilnya cukup menggembirakan. Logika pun hampir terimplementasi. Hidup bahagia selamanya ada di depan mata.

Rekan saya, Aloy, pada suatu kesempatan memberikan informasi bahwa akan ada acara Fowab 3 yang membahas kebangkitan startup di Indonesia. Karena memang setelah masa sidang kita punya banyak waktu kosong maka ajakan untuk menghadiri acara tersebut pun saya terima. Selidik punya selidik, Aloy-pun ternyata mengetahu informasi acara ini dari Ariauakbar, kolega yang ia ‘temui’ dari twitter. Merekapun ternyata bersepakat untuk kopdar di acara Fowab tersebut. Jujur, saya tidak punya ekspektasi apa-apa dari acara tersebut.  Startup ? I don’t know anything about that. Daftar pembicaranya ? Saya tidak kenal. Rama dari DailySocial ? Satya dari Koprol ? Selina dari Urbanesia ? Mario Teguh saya tahu. Mereka ? I don’t have a clue.

Siapa sangka, di acara tersebut saya mendapatkan ‘sesuatu’. Dunia lain. Bahwa ada sisi lain dari yang selama ini saya ketahui. Sesuatu yang membuat saya bersemangat. Sisi lain yang membuat saya tergerak untuk mencoba. Itu adalah entrepreneurship.

Dalam diam, saya mendengarkan Rama,Selina dan Satya membagikan pengalaman mereka masing-masing dalam memulai usaha di bidang internet. Ini bukan sesi kuliah, jadi formatnya tidak formal. Mereka berbicara apa adanya, lancar sekali, tanpa maksud menggurui. Yang saya rasakan adalah ketika mereka membagikan pengalaman mereka tersebut, saya mendapati kesan jujur, kecintaan yang amat dalam dengan hal yang mereka lakukan tanpa rasa tinggi hati karena telah sampai pada posisi saat itu. Katapassion hari itu belum terlalu sering didengungkan sebagai alasan untuk mendirikan perusahaan. Tanpa mendengar kata passion, saya mendapati kesan mereka benar-benar menyukai hal yang mereka lakukan. Dan mereka menceritakan hal itu semua bukan dengan nada sombong tapi ingin membagikan personal experience mereka. Menggunakan perspektif orang pertama. Bagaimana seseorang bisa memilih pekerjaan yang ingin mereka kerjakan dan mecintai pekerjaan itu sekaligus ? Bagaimana mereka tidak pernah mengajak untuk jadi seperti mereka tapi tanpa sadar mereka menyalakan api semangat untuk menjadi seperti mereka ? Kenyataan itu benar-benar sesuatu hal yang baru bagi saya.

Pada akhir sesi acara Google Launchpad, saya sempat mengobrol dengan tim panitia acara yang berasal dari Yogya. Saya penasaran bagaimana dengan kondisi disana, bagaimana antusiasme para mahasiswa dan developer disana. Entah guyon entah tidak mereka ingin sesekali mengundang untuk datang kesana untuk berbicara hal teknis pembuatan aplikasi & sistem. Namun, saya teringat bagaimana Fowab 3 dan para pembicara yang hadir pada waktu itu bisa menjadi inspirasi baru bagi para hadirin. Dan saya pun memberikan ide bagaimana kalau sebelum masuk hal-hal teknis, perlu dibangkitkan dulu semangatnya. Perlu diberikan suntikan motivasi yang akan menjadi nyala api bagi mereka yang akan menempuh dunia lain ini.

Menurut saya, tantangan di dunia lain ini berbeda. Karena itu, perlu kesadaran langsung dari seseorang itu sendiri jika ingin mengambil jalur ini. Dan kesadaran itu menurut saya tidak bisa dipaksakan namun harus lahir dari diri sendiri. Kesadaran bisa lahir jika ada inspirasi. Kesadaran bisa lahir jika ada inception, yang menjentikkan sepotong ide sederhana hingga akhirnya menyala menjadi semangat pribadi. Dan inception dapat hadir jika diberikan potongan cerita yang lahir dari orang yang mencintai apa yang dilakukannya.

Fowab 3 dan para pembicara hari itu telah sukses menjentikkan ide baru ke dalam hidup saya. Dari situ dan rangkaian peristiwa lainnya telah membuat saya masuk ke dunia lain tersebut. Dulu dunia lain. Tapi, Sekarang sudah menjadi dunia saya juga.

Karena hidup adalah hasil dari rangkaian keputusan yang kita buat. Keputusan yang mudah. Keputusan yang sulit. Keputusan yang berani. Keputusan yang menakutkan. Keputusan yang belum pernah terbayangkan.

Hari itu, saya berpamitan dengan Erica Hanson, developer relation Google untuk regional Indonesia lalu bersalaman dengan mas Daniel dan berjanji untuk terus keep contact. Pengalamannya membangun Sky8, lalu koprol, lalu masuk Yahoo dan sekarang merintis Adskom memberikan tambahan pelajaran baru lagi bagi saya. Lalu saya pulang dari lokasi acara, bareng Yohan menggunakan Uber ke Kelapa Gading. Darisana, kami menumpang shuttle Cititrans dan pulang ke Bandung, tempat dimana segalanya bermula.