Jalan-Jalan di Ho Chi Minh City (Saigon)

Jalanan sore Ho Chi Minh

Beberapa pekan yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi kota Ho Chi Minh City untuk mengikuti kegiatan Cross Platform Development Summit yang diselenggarakan Microsoft Vietnam, yang banyak membahas mengenai Xamarin sebagai salah satu opsi untuk mengembangkan aplikasi mobile. Namun di tulisan ini saya hanya menceritakan bagian pada saat melakukan eksplorasi Ho Chi Minh City untuk wisata saja, kegiatan seriusnya dibahas disini dan disini saja.

Saya sengaja meluangkan waktu satu hari sebelum kegiatan Summit diselenggarakan untuk berkeliling di Ho Chi Minh. Sebelum berangkat, saya sudah survey singkat dulu mengenai kegiatan apa saja yang biasanya dilakukan orang disana, terutama jika hanya memiliki waktu yang pendek. Dari survey singkat saya dapati informasi bahwa di Ho Chi Minh terdapat beberapa tempat yang menarik untuk dilihat, seperti bangunan peninggalan pada saat Prancis masih menguasai Vietnam, monumen dan peninggalan-peninggalan yang terkait perang Vietnam.

Satu hari berkeliling Ho Chi Minh membawa pengalaman baru terutama melihat bagaimana nasionalisme dan kecintaan mereka terhadap negeri sendiri. Perang saudara yang dialami selama satu dekade sangat membekas dan menjadi pijakan mereka ke depan. Beberapa tempat menarik untuk dikunjungi, bagi pecinta mie dan kopi kota ini menyediakan beberapa pilihan yang menarik meskipun saya kurang bisa menikmati namun dengan moda transportasi umum yang terbatas, jika Anda membawa keluarga, mungkin harus lebih prepare dan menggunakan angkutan yang layak.

Paket Data dan Mata Uang Vietnam Dong

Satu hal yang sulit ditinggalkan oleh generasi millenial saat ini tentu saja adalah koneksi internet. Karena itu, salah satu yang pertama kali saya lakukan ketika mendarat adalah mencari kartu telepon yang dapat digunakan di Vietnam. Dari informasi yang saya baca, ada beberapa operator telekomunikasi yang terkenal di Vietnam, salah dua nya adalah Viettel dan Mobifone. Anda tidak perlu khawatir kesulitan mencari tempat membeli kartu ini karena mereka tersedia persis di depan arrival hall bandara.

Saya sampai di konter kartu dan yang pertama kali terlihat adalah Viettel sehingga saya putuskan saja untuk membeli kartu Viettel. Petugasnya memasangkan dan melakukan konfigurasi langsung supaya kartu dapat langsung dipakai. Harganya kurang lebih USD 10 atau 228.000 d untuk paket data unlimited selama 2 minggu. Kalo Anda tidak membutuhkan koneksi 4G sebenarnya bisa saja membeli kartu Viettel untuk 2 minggu juga dengan harga yang lebih murah sekitar 150.000 d. Setelah membayar, perangkat saya sudah bisa digunakan dan siap membantu saya mengeksporasi Saigon.

Setelah kartu dipasang, saya juga sempat mengamati, kartu SIM Telkomsel saya berubah carrier name nya menjadi Mobifone. Agaknya, Telkomsel bekerjasama dengan Mobifone untuk wilayah Vietnam. Saya sengaja mengisi pulsa agak banyak buat jaga-jaga supaya dapat terus mengirimkan SMS jika paket data tidak bekerja untuk mengabari keluarga di Pekanbaru.

Setelah mengisi kartu, hal berikutnya tentu saja memiliki uang Vietnam, yaitu Dong. Untuk menukar Dong, lumayan susah kalau di Bandung. Di GMS, yang termasuk pedagang valas besar di Bandung, ternyata tidak memiliki mata uang Dong. Akhirnya saya tukar saja rupiah yang mau dibawa ke dollar Amerika, dengan harapan lebih mudah ditukar disana. Sebagai informasi mata uang rupiah itu lebih kuat dari Vietnam dong. Rp 1.000.000 setara kira-kira dengan Rp 1.700.000.

Untuk menukar mata uang juga tidak perlu khawatir. Di sekitar arrival hall itu banyak tersedia tempat penukarang uang. Lebih baik menukar di area itu dibandingkan di kota karena setelah saya bandingkan nilainya lebih besar tukaran yang di bandara. Karena saya bawa uang USD memang lebih mudah menukarnya. 1 USD itu setara dengan 22.720 d pada hari-hari tersebut. Dengan berbekal paket data dan mata uang lokal, kita sudah siap untuk berkeliling Ho Chi Minh.

Berkeliling Ho Chi Minh

Untuk berkeliling Ho Chi Minh ada beberapa opsi yang bisa digunakan. Dari bandara menuju pusat kota, jika tidak mau repot kita bisa menggunakan taksi. Taksi di Vietnam, ya mirip-mirip di Indonesialah. Ada dua merek taksi yang cukup terkenal dan sangat terpercaya,  yaitu Vinasun dan Mailinh.

https://i0.wp.com/hochiminhcityhighlights.com/wp-content/uploads/2014/08/SAM_7990.jpg
Taksi Vinasun, sumber : http://hochiminhcityhighlights.com/wp-content/uploads/2014/08/SAM_7990.jpg
https://i0.wp.com/hochiminhcityhighlights.com/wp-content/uploads/2014/08/SAM_7999.jpg
Taksi Mailinh, sumber : http://hochiminhcityhighlights.com/wp-content/uploads/2014/08/SAM_7999.jpg

Saya menguji berapa perbedaan harga tarif taksi jika menggunakan taksi tembak dan Vinasun. Pada taksi tembak, ketika petugas menyadari kita adalah bukan orang Vietnam, harganya langsung melonjak. Saya ditawari 350.000 d untuk sampai ke tempat saya menginap  yang jaraknya sekitar 8  km dari bandara Tan Son Nhat Internasional.

Sekilas pengamatan saya, Ho Chi Minh mirip Jakarta, kota metropolitan. HCMC memang merupakan kota terbesar di Vietnam yang lagi sibuk membangun dan berbenah. Cuacanya sedikit panas, mirip udara di Indonesia. Orang banyak yang bersepeda motor. Dan mirip Indonesia juga, lumayan serampangan. Suka melanggar lampu dan suka mengambil jalan trotoar. Dan dari informasi yang saya dapat, ternyata juga sedang ada pembangunan MRT yang akan mulai beroperasi di 2019. HCM sendiri merupakan kota dengan luas 30.000 m2 dengan jumlah penduduk sekitar 10 juta jiwa. Cukup padat. Makanya sedikit rasa-rasa Jakarta. Macet juga, panas dan penuh. Setidaknya itu pengalaman saya.

Selain menggunakan taksi, tentu saja bisa menggunakan transportasi publik seperti bus. Namun karena malas mencari informasi rute plus bahwa orang di sana jarang yang bisa berbahasa Inggris, saya malas berhadapan dengan situasi dimana sulit bertanya atau menjelaskan sesuatu. Dan yang populer saat ini dengan harga yang juga terjangkau adalah taksi online, yaitu Uber dan Grab. Supaya mendapatkan tarif yang tetap, saya menggunakan aplikasi Grab. Meskipun mereka tidak mengerti bahasa Inggris kita masih bisa menampilkan alamat tujuan di layar handphone dan mereka pun akan langsung mengerti.

City Tour : The Sight

Kantor Pos Central Ho Chi Minh City

Karena hanya punya waktu satu hari, saya memutuskan untuk menggunakan penyedia tour. Setelah googling sebentar, ketemulah XO Tour, penyedia jasa city tour menggunakan scooter yang sangat terkenal di Ho Chi Minh City. Terdapat beberapa tipe tour  yang disediakan, The Sight, The Foodie dan Saigon by Night. Saya sengaja pilih The Sight karena waktu tur nya mulai dari pagi hingga siang, sehingga masih punya waktu di siang hari jika ingin berkeliling sendiri.

Pagi jam 8.25 saya sudah dijemput XO Tour di hotel tempat saya menginap. Sebelum saya naik motor, diingatkan dulu beberapa aturan mengenai jangan mengeluarkan hape pas berkendara dan menari-nari diatas motor. OK, itu aneh. Siapa coba yang menari menari di atas motor. Ternyata banyak bule yang jarang mengendarai motor dan begitu naik motor begitu senangnya sampe menari-nari dan membahayakan warga sekitar . Tour The Sight akan membawa kami mengunjungi Kantor Pos dan Katedral, gedung peninggalan Prancis di HCMC, Reunification Palace, pasar pagi, Monumen Biksu dan Pagoda.

Peserta tur berkumpul di depan kantor Pos Ho Chi Minh. Total ada 4 orang peserta tur yang datang dari berbagai negara. Ada dari Taiwan, Belanda dan Australia. Pemimpin tur kami, Anh, fasih berbahasa Inggris sehingga mudah berkomunikasi dan mendengarkan penjelasannya mengenai tempat-tempat yang dikunjungi.

Kantor Pos Ho Chi Minh adalah tempat pertama yang di datangi. Ini merupakan kantor pos tertua di Ho Chi Minh dan mungkin di Vietnam. Tempat ini menjadi menarik karena menunjukkan bagaimana Prancis pernah berkoloni disini dan menghasilkan bangunan dengan arsitektur ala Eropa. Tampak luar memang gedungnya seperti gedung-gedung kolonial dan lebih mirip stasiun kereta ketimbang kantor pos. Gedung ini masih berfungsi sebagai kantor Pos. Dahulu, kantor Pos juga digunakan untuk tempat menelpon atau istila kerennya Wartel. Namun bilik-bilik telpon ini beberapa sudah berubah menjadi tempat ATM.

Bilik telepon, satu-satunya cara menghubungi kerabat jauh, dahulu

Di depan Gedung Pos ini berdiri katedral tua dengan arsitektur ala Eropa yang megah. Ketika saya berkunjung, sekitar 4 pasang muda mudi sedang melakukan pemotretan untuk pernikahan. Meskipun mayoritas penduduk Vietnam beragama Budha, gereja ini tetap terpelihara dan menjadi salah satu ikon kota HCMC. Setiap Minggu, gereja ini ramai didatangin orang yang ingin beribadah. Ada satu cerita mengenai patung Bunda Maria yang berada di depan gereja ini. Beberapa tahun yang lalu pernah ada mitos bahwa patung ini mengeluarkan air mata sehingga menyebabkan warga Vietnam yang beragama Kristen beramai-ramai ingin melihat kejadian tersebut sampai ada beberapa yang berkemah disekitar patung. Akhirnya, pemerintah Vietnam membubarkan aksi tersebut karena menyebabkan kemacetan.

Katedral Ho Chi Minh City

Dari kedua landmark bersejarah itu kami bergerak ke Reunification Palace. Ini merupakan istana bersejarah dimana menjadi simbol bersatunya Vietnam Utara dan Selatan setelah mengalami perang saudara yang cukup lama. Tahun 1975, gedung ini merupakan tempat tinggal presiden Vietnam Selatan yang didukung oleh Amerika Serikat, yang ingin menegakkan ideologi Barat. Sejarah menunjukkan bahwa usaha ini gagal. Vietnam Utara berhasil menaklukkan Amerika Serikat. Insiden didobraknya pintu pagar dengan menggunakan Tank baja merupakan simbolisasi runtuhnya perlawanan Amerika-Vietnam Selatan dan bersatunya kembali – reunification – warga Vietnam menjadi satu kesatuan. Sekarang gedung ini berfungsi layaknya suatu museum, dimana pengunjung dapat melihat-lihat interior dan furniture yang digunakan pada masa itu. Untuk masuk ke tempat ini kita perlu membayar 30.000 VND. Mungkin ini adalah salah satu gedung yang gagal didobrak Rambo .

Reunification Palace, simbol bersatunya Utara-Selatan

Dari Reunification Palace, rombongan bergerak dan berhenti sebentar di Gia Long Street. Lokasi ini tampak seperti jalan biasa saja. Namun ternyata di lokasi ini pernah terjadi sesuatu yang bersejarah dan mendebarkan. Perhatikan area yang saya lingkar merah di foto di bawah ini.

Pada lokasi itu, 29 April 1975, terjadi operasi evakuasi untuk warga US dan warga Vietnam yang pro US akibat jatuhnya kota HCMC – dulu disebut Saigon – ke tentara Vietnam Utara. Sebuah helikopter berkapasitas 10 orang mendarat di atas gedung yang disinyalir merupakan markas rahasia CIA. Helikoter ini merupakan helikopter terakhir, yang akan menyelamatkan mereka dari penangkapan oleh tentara musuh. Perhatikan foto di bawah ini. Puluhan orang mengantri untuk masuk ke helikopter yang hanya sanggup mengangkut sepertiga dari mereka. Helikopter ini tidak pernah kembali. Meninggalkan puluhan lainnya berharap dalam gelap. Dan akhirnya mereka menyelamatkan diri sendiri menyebar dan mencoba berbaur. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi kepada mereka. Bahkan Anh, sang tour leader tidak bisa menceritakan kejadian ini dengan mengacu ke sumber yang akurat. Bayangkan, penantian mereka yang berharap akan diselamatkan namun sebenarnya hal itu mustahil akan terjadi.

04_17_Nam_fall_01

Setelah dari lokasi rahasia markas CIA, kami diantar berkeliling ke pasar Pagi di District 1. Sebenarnya menurut saya pasar pagi ini biasa saja. Namun ternyata bagi warga Belanda dan Australia, melihat pasar pagi yang ramai, menjual apa saja dan sedikit becek adalah hal yang menarik. Di dalam pasar, kami duduk sebentar dan disuguhi yogurt dan pudding yang namanya saya lupa. Selepas makan dessert kami berkeliling kembali dan diantar ke Monumen Biksu.

Ini adalah kejadian bersejarah dimana seorang biksu melakukan aksi protes terhadap perlakukan pemerintah terhadap para Biksu dengan membakar dirinya sendiri hidup-hidup. Mengerikan membayangkan. Anh, sang tour leader menunjukkan foto detik-detik pembakaran biksu tersebut, mulai dari penyiraman kerosin hingga selesainya terbakar tubuh sang biksu yang memakan waktu 15 menit lamanya. Menurut legenda, sang biksu selama terbakar, tidak berteriak sama sekali tetap bermeditasi dan menyuarakan protesnya. Kejadian ini merupakah salah satu kejadian memilukan lainnya yang pernah terjadi di Vietnam.

Monumen biksu terbakar

Dari lokasi monumen, tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Pagoda Agung di Saigon. Ini merupakan pagoda tua yang sangat dihormati oleh warga Saigon. Setiap hari besar , tempat ini pasti ramai dikunjungi. Mereka datang untuk berdoa dan mengharapkan keberkahan dalam hidup mereka. Pagoda ini sudah berusia ratusan tahun dan merupakan cagar budaya Vietnam yang tergolong paling lama. Disini, kami berpisah dari rombongan dan saya pun kembali ke hotel.

Museum Peninggalan Perang dan Ben Thanh Market

Setelah selesai city tour, saya masih punya waktu setengah hari untuk berkeliling kota. Agenda saya tinggal dua yaitu mengunjungi museum dan berbelanja oleh-oleh di Ben Thanh Market. Dari hotel, saya menggunakan Grab menuju museum peninggalan perang – War Remnant Museum – yang berisikan peninggalan Perang Vietnam yang terkenal itu.

Untuk masuk museum kita cukup membayar 20.000 VND. Gedung museum terdiri dari empat lantai dan setiap lantai memiliki cerita yang berbeda. Lantai dasar misalnya menceritakan gelombang protes yang terjadi diseluruh dunia yang memprotes kebijakan Amerika yang ikut campur tangan mengenai kondisi dalam negeri Vietnam circa 1965 – 1975. Lantai berikutnya, menceritakan foto-foto korban gas Orange, gas beracun yang digunakan Tentara US untuk “membunuh” secara massal tentara dan sebagian juga warga sipil Vietnam Utara. Di lantai ini kita bisa melihat dengan jelas kekejaman dan penderitaan warga yang terkena efek gas beracun tersebut. Gas tersebut banyak menimbulkan bayi-bayi yang cacat sejak lahir karena efek syaraf-nya yang berbahaya. Berkunjung ke museum ini mengingatkan kembali rasa nasionalisme terhadap negeri sendiri. Betapa kemerdekaan tidak diperoleh dengan mudah. Dan pastinya disertai penderitaan dan perjuangan luar biasa. Bagi warga Vietnam, perang saudara masih menjadi duka yang mendalam karena masih belum terlalu lama masanya dan jejak-jejak perang tersebut masih sangat terasa di berbagai tempat.

Selepas dari museum, saya beralih ke pasar rakyat Ben Thanh, tempat turis membeli oleh-oleh. Tempat ini merupakan tempat berburu suvenir, mulai dari baju, kalung, kain hingga topi caping Vietnam yang unik tersebut. Berbelanja disini tentulah keahlian tawar-menawar patut digunakan karena mereka memberikan harga awal yang luar biasa besar. Tour guide kami sudah memberitahu untuk menawar sepertiga harga yang ditawarkan jika berbelanja disini. Saya tidak banyak berbelanja di Ben Thanh, karena sebelumnya sudah berkunjung ke Mekong Shop, semacam toko oleh-oleh yang harganya sudah fix. Ini merupakan alternatif bagi saya yang tidak bisa menawar dan ingin berbelanja berbagai barang di satu tempat. Konsepnya mirip Kresna di Denpasar ketimbang pasar Fatmawati. Di Ben Thanh, saya mencari barang yang tidak saya temukan di toko Mekong seperti baju untuk anak-anak.

Ben Than Market di kala senja

Kuliner Saigon

Bagi saya kuliner di Saigon tidak terlalu istimewa, meskipun saya sudah mencoba berkunjung ke tempat yang direkomendasikan tour guide. Panganan rakyatnya mirip-mirip dengan panganan tradisional kita. Kue basah dan minuman air tebu sangat terkenal disana. Teman tur Australia dan Belanda sangat kaget ada minuman semacam air tebu dan buah bernama rambutan. Tentu saja air tebu dan rambutan bukan barang asing bagi kita. Bahkan di rumah saya di Pekanbaru dulu terdapat pohon rambutan dan jambu yang jadi tempat saya nongkrong setiap sore.

Makanan dari bahan dasar mie merupakan favorit disini. Dikenal dengan istilah Pho. Namun menurut saya kuah mie disini agak asin. Baunya juga lebih tajam dibandingkan mie di Indonesia. Saya mencoba ke tempat mie yang direkomendasikan namun juga rasanya tidak terlalu istimewa.

Makan Pho di Hue Restaurant

Terakhir saya juga coba mengunjungi kedai kopi yang sangat terkenal di Ho Chi Minh, Trung Nguyen Coffee. Berhubung saya tidak begitu mengerti kopi yang enak seperti apa, saya hanya mencoba kopi rekomendasi dari pelayan dan menurut saya rasanya sangat pahit. Kata tulisan yang saya baca sih itu kopi premium Vietnam. Tapi tidak cocok di lidah saya. Mungkin karena saya bukan pecinta kopi seperti generasi muda masa kini.

Oiya, beberapa tempat yang direkomendasikan tour guide saya taro dibawah ini barangkali bisa jadi bahan pertimbangan teman-teman yang mau ke Ho Chi Minh suatu waktu nanti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Satu hari di Ho Chi Minh rasanya cukup untuk sedikit memahami dan merasakan atmosfer kota. Kota ini tergolong kota yang sangat dinamis. Pembangunan terjadi dimana-mana. Warga hilir mudik bising sibuk bekerja. Persis seperti kota besar lainnnya di negera berkembang. Mengingatkan akan kota-kota di Indonesia. Tidak terlalu terkenal sebagai kota wisata tapi juga bukan kota yang sama sekali tidak menarik untuk dikunjungi.

Akan tetapi, seenak-enaknya makanan di kota luar negeri, masih lebih enak ayam pecel sambel lalap di pinggir jalan negeri sendiri.

 

Selamat Tahun Baru 2017!

2017

Dalam tulisan ini saya ingin memberi tambahan informasi mengenai infografik yang baru dirilis Radya Labs di awal tahun baru 2017.

Melihat dari permintaan dan tren di market, total opportunity1 yang diterima tahun 2017 adalah 40 permintaan. Dari total 40 permintaan hanya 17 saja yang bisa kami kerjakan terkait batasan waktu, tenaga dan biaya. Dari tipe solusi/software yang diminta, dapat dikategorikan menjadi 4 bagian besar yaitu mobile workforce, information system, consumer dan fintech solution. Dari sisi teknologi,  proyek yang hanya mobile-only masih merupakan porsi terbesar  yaitu 50%. Kebanyakan proyek tipe ini karena klien memiliki tim sendiri untuk mengerjakan sisi backend, apakah itu CMS atau API. Berikutnya proyek System, dimana kami menyediakan dua komponen, yaitu sisi frontend atau mobile-nya dan backend atau web-nya, hampir 38%. Terakhir, proyek yang hanya berupa Web saja porsinya jauh lebih sedikit yaitu 12%.

Jika kita lihat dari sisi platform, Android masih menjadi primadona dengan 36%. Hal ini sejalan dengan besaran marketshare – menurut IDC- dari Android dibandingkan dengan iOS yaitu 86.8 % berbanding 12.5 % pada akhir kuartal ketiga 2016. Tentunya bagi startup ataupun enterprise akan menyasar mulai dari platform yang paling banyak digunakan, kecuali untuk perusahaan yang menyasar kalangan atas. Platform Windows kami lihat masih ada, meskipun tidak banyak. Permintaan ini biasanya datang dari enterprise yang sudah berinvestasi menggunakan tablet Windows di perusahannya.

Dari kategori solusi, mobile workforce merupakan kategori terbesar yang kami lihat tahun 2016. Meskipun klien Radya Labs tidak semuanya masuk kategori startup tetapi hal ini sejalan dengan laporan DailySocial yang mengungkapkan on-demand business/technology  akan terus naik permintaannya, terutama dari startup. On-demand tech yang notabene akan membutuhkan aplikasi mobile untuk workforce yang bekerja memenuhi layanan yang diminta pelanggan merupakan kategori yang kami lihat paling dominan . Selain itu, kebutuhan mobile workforce dari enterprise juga meningkat dari tahun sebelumnya, mulai dari kebutuhan untuk sales force automation atau task management. Secara spesifik dari sisi enterprise, mobile dan compatibility merupakan dua aspek yang sangat diperhatikan. Aspek kompatibilitas ini diantaranya menggunakan teknologi yang sudah umum dipake in-house development team seperti teknologi Microsoft. Disini Xamarin muncul sebagai opsi yang menarik karena suatu solusi mobile dapat dikembangkan dengan bahasa C# dan .NET yang banyak dikuasai di korporasi. Radya Labs banyak melakukan kegiatan edukasi, baik berupa kegiatan komunitas maupun kegiatan pelatihan terstruktur untuk perusahaan, seperti yang kami lakukan di .NET TV dan Bina Nusantara, serta kegiatan komunitas yang ternyata juga dihadiri developer dari perusahaan pada acara Xamarin Developer Day November lalu.

Consumer berada pada urutan berikutnya. Namun pada kategori ini, teknologi atau skenario aplikasi spektrumnya sangat lebar, mulai dari music streaming, commerce hingga reader app. Karenanya setiap pekerjaan biasanya tidak saling berhubungan. Kategori Fintech, berada pada urutan ketiga. Fintech memang menjadi topik yang sangat berkembang di tahun lalu. Terbukti hingga pemerintahpun melalui OJK menyelenggarakan berbagai kegiatan terkait ini dan sedang menyiapkan aturan terkait Fintech. Belum lagi asosiasi yang dibentuk beberapa perusahaan swasta yang bergarak di ranah jasa keuangan. Dan inipun juga sejalan dengan prediksi dari DailySocial sepanjang 2016. Bank, asuransi dan multi-finance mulai memikirkan untuk dapat masuk ke ranah konsumen lebih dekat lagi, tentunya dengan mengadopsi teknologi digital. Asuransi Zurich merupakan salah satu contoh perusahaan yang berhasil masuk ke ranah digital melalui aplikasi Teman Baik yang dirilis pertengahan tahun ini. Sementara, itu beberapa bank meluncurkan aplikasi e-money mereka seperti Sakuku, e-Cash dan GoPay. Dan beberapa pergerakan produk keuangan yang mengincar niche market juga semakin marak. Menambahkan layer vertikal dari layanan umum bank yang sudah berjalan seperti biasa.

Radya Labs, sebagai perusahaan penyedia solusi mobilitas sangat tertarik untuk membantu lebih banyak lagi perusahaan berkembang dan beradaptasi di era digital ini. Menurut survey yang kami rilis ke klien yang pernah bekerjasama, kami mendapatkan nilai yang sangat menggembirakan. Aplikasi mobile yang kami bantu kembangkan dan di rilis di toko aplikasi juga memiliki rating yang baik, rata-rata 4.5. Kami tidak sabar, untuk menantikan petualangan baru bersama perusahaan Anda.

Semoga tahun 2017 menjadi tahun yang penuh kesuksesan untuk kita semua.

1 Opportunity kami definisikan sebagai permintaan klien, baik berupa RFP ataupun pernyataan ingin minta dibuatkan aplikasi

Selamat Hari Ibu

Selamat Hari Ibu

Selamat Hari Ibu.

Saya ingin mengucapkan selamat hari ibu, terutama kepada dua orang ibu yang luar biasa, Mama, orang tua saya dan Irlanda, ibu dari anak-anak saya Smile.

904175_10151398563314531_1342001053_o

Mama sejak kecil sudah belajar mandiri termasuk ketika di tahun 70-an mengambil kuliah sendiri ke Jogja, jauh dari Pekanbaru, kota tempat tinggalnya. Setelah sekolah, ia mengabdi menjadi pelayan publik di daerah, menjadi PNS yang berpindah-pindah di beberapa kantor. Dahulu, kalau ia naik pesawat maka biaya naik pesawatnya digratiskan oleh maskapai, karena hari ulang tahunnya sama dengan ulang tahun hari raya kemerdekaan kita.

Beliau kemauannya sangat keras, mungkin karena didikan kakek kami yang memang eks-veteran perang kemerdekaan. Si mamah yang sejak dulu sukanya nantangin saya untuk memilih sesuatu yang saya anggap sulit untuk dilakukan. Dulu, yang memaksa saya untuk mencoba mendaftar ke ITB juga karena tantangan si mamah. Beliau juga yang bersikeras bahwa itu bisa dilakukan dan mencoba mencari beasiswa dari daerah.

Waktu saya tingkat akhir, sempat kepikiran ingin jadi PNS juga, pulang ke Riau dan membangun daerah. Tapi si mamah yang meyakinkan juga bahwa peluang IT disana masih belum baik sehingga sebaiknya berkarya dulu saja di Bandung sembari memperhatikan perkembangan di daerah.

Sering kali saya merasa si Mamah ini jarang bangga dengan prestasi anaknya. Karena kalau setiap saya laporan, habis ini, sudah ini, abis begitu…tanggapannya biasa saja. Tapi ternyata, menurut si papah, tanpa sadar itu cara si mamah untuk terus memecut anaknya terus berusaha dan tidak puas dengan kondisi saat ini. Karena ternyata di kesempatan yang berbeda, dibelakang saya, si mamah selalu membanggakan anak-anaknya kepada teman-temannya.

 

img-20161222-wa0022

Irlanda, istri saya Smile. Sekarang menjadi bunda dari kedua anak kami. Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara mungkin banyak yang berpikir Iir akan menjadi gadis manja. Tapi kenyataannya tidak demikian. Ia pekerja keras, cerdas dan penuh keinginan untuk menjadi lebih baik meski kadang sering kurang percaya diri. Bagian saya mudah, mengingatkan ia untuk selalu percaya diri dan bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.

Pertama kali ketemu di SMA, selama 3 tahun sekolah, baru dia satu-satu-nya wanita yang bisa mengalahkan saya di kelas. Hehe. Rajin. Suka kurang pede tidak bisa tapi kalau keluar ulangan taunya nilainya tinggi semua.

Tinggal mandiri di Jakarta dan berhasil menaklukkan Universitas Indonesia. Saya ingat perjuangannya untuk berhasil lulus dan lolos dari kedokteran gigi. Rasanya setiap malam ada saja yang diceritakan mengenai hambatan yang ia hadapi tapi saya yakin toh akhirnya pasti akan dapat dilalui juga.

Saat ini lagi beradaptasi, untuk mengurusi dua anak kami yang masih mungil-mungil. Ditambah beberapa bulan ke depan saya masih harus di Bandung, tidak terbayang betapa rempongnya ia disana. Tapi, lagi-lagi ia menjanjikan usaha untuk bisa berbuat yang terbaik menjadi bunda.

Dua wanita yang luar biasa.

Selamat hari Ibu. Saya yakin usaha ibu ganjarannya surga.

Bandung Developer Day #5

Tanggal 20 Desember yang lalu, A/BITS didukung oleh Microsoft Indonesia menyelenggarakan kegiatan Bandung Developer Day #5, acara yang bertujuan meberikan berbagai pengetahuan terbaru bagi para developer khususnya di kota Bandung mengenai teknologi pengembangan aplikasi menggunakan Xamarin.

Pada gelaran kali ini, format yang digunakan adalah workshop. Peserta diberikan materi satu sesi oleh Puja Pramudya, mengenai pengenalan teknologi Xamarin, kapan sebagainya digunakan dan kakas pendukung untuk pengembangan aplikasi. Setelah itu, dilanjutkan dengan sesi Hands-on-Labs, dimana para peserta mencoba secara langsung pengembangan aplikasi menggunakan teknologi Xamarin. Untuk sesi ini, dipandu langsung oleh Xamarin Developer Radya Labs Teknologi, yaitu Albilaga.

Berbeda dengan workshop-workshop sebelumnya, acara yang diberi tajuk Xamarin Party ini memang mengusung suasana ‘pesta’ karena panitia menyediakan pizza, soft drink dan snack kepada para peserta agar dapat mengerjakan aplikasi dengan semangat karena asupan gizi roti panggang italia . Acara ini dihadiri oleh 26 peserta dengan latar belakang kebanyakan mahasiswa dan developer perorangan.

img20161220133208 img20161220152955 img20161220163010 img20161220163026

whatsapp-image-2016-12-21-at-00-09-56

Menikmati Musik Tulus

Menikmati Musik Tulus

Saya cukup sering travelling Bandung-Jakarta menggunakan shuttle. Dan jika ini dilakukan, musik adalah teman setia untuk menemani perjalanan beberapa jam tersebut. Dan akhir-akhir ini, saya sedang sering mendengarkan Album Tulus yang ke-3, yaitu Monokrom. Hampir semua lagunya saya suka.

Saya tipe-nya memang begitu senang satu album akan mendengarkan secara terus menerus. Sehingga lagu-lagunya menjadi selalu teringat, liriknya jadi hafal sendiri dan irama-nya bahkan sering saya senandungkan. Terkadang, malah membuat warga sekitar (baca : anak-anak Kantor) menjadi terganggu.

Sudah lama tidak menemukan musisi seperti Tulus. Lagunya bisa bercerita. Bukan hanya sekedar tentang cinta yang sering diperdengarkan oleh banyak band dan penyanyai lainnya. Tapi cinta secara umum. Cinta terhadap pacar, istri, teman, lingkungan, orang tua dan bahkan terhadap diri sendiri. Pemilihan diksi-nya  menarik. Tidak terlalu puitis. Kata-kata biasa, sederhana, lugas tapi dirangkai menjadi luar biasa. Bercerita dari hati. Saya suka lagunya, liriknya, melodinya dan cerita di balik lagunya.

Di album terakhir ini, saya paling suka lagi Monokrom. Iramanya enak. Kalau tidak muncul video klipnya, mungkin saya terlewat bahwa lagu ini sebenarnya dipersembahkan untuk orang tua, bukan untuk teman-teman masa kecil. Di video klip tersebut, digambarkan hubungan hangat antara anak dan ibu. Syahdu sekali didengarkan. Sambil merenung melihat perbukitan antara Purwakarta-Bandung.

Sudah lama tidak menemukan musisi seperti ini. Terakhir kali, adalah ketika mendengarkan lagu-lagu dari Katon Bagaskara sekitar tahun 2002. Tulus berbeda dari lagu-lagu Katon, yang sangat puitis dan sering sekali membahas cinta, meskipun terkadang juga membahas hal lain. Musiknya juga enak. Waktu itu malah membeli backdate  album-album Katon dan KLA di tahun-tahun lama.

Saya suka musik dan lirik yang filosofis. Lirik-lirik Tulus sarat makna. Misalnya, untuk lagu monokrom ini dia ingin bercerita bagaimana ia lebih senang dengan foto hitam putih ketimbang foto berwarna. Foto hitam putih mengharuskan kita untuk lebih berusaha menghidupkan kembali kenangan, karena warna dan situasi tidak tergambarkan sempurna hanya melalui gambar. Kok kepikiran ya ?

Jangan lupa untuk dukung musik Indonesia dengan membeli lagu-lagu ketimbang membajaknya.

Kiana Farfalla Pramudya

Kiana Farfalla Pramudya

Setelah Razki – anak pertama kami –  lahir, beberapa hal ternyata menjadi berubah. Sekarang, perhatian tidak hanya tertuju sama istri saja tetapi kepada anggota keluarga baru. Pekerjaan membagi waktu menjadi hal yang harus dilakukan dengan sebaik mungkin. Mungkin karena itu juga, waktu untuk ngeblog seriuspun menjadi jauh berkurang.

Dan pasca Razky lahir, saya dan istri memang tidak memasang KB. Istilahnya tidak menunda dan juga tidak mengejar. Jadi berjalan begitu saja. Seperti air mengalir. Dan percayalah, yang namanya Rezeki Allah itu tidak akan pernah terlambat dan tertukar.

Berita Hamil Anak Ke-2

Waktu itu saya dan rekan-rekan Radya Labs memutuskan untuk mengikuti kegiatan Hackathon Educode yang diselenggarakan Depdiknas dan DailySocial. Sebelum pergi, istri bilang bahwa sudah dua hari terakhir ia flek dan sekarang sudah tidak ada flek lagi. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, hal ini bisa jadi merupakan tanda-tanda kehamilan.

Sepanjang jalan, hal itu menjadi pikiran juga akhirnya. Karena saya sudah terlanjut mau ikutan Hackathon, dengan kondisi itu malah harus meninggalkan istri di Bandung. Sambil terus bertukar kabar mengenai kondisi istri, sayapun terus mengikuti kegiatan Hackhaton. Alhamdulillah, di akhir hari ternyata tim kami berhasil memenangkan Hackhaton. Rezeki ini kata saya, mungkin memang rezeki anak ke-2.

Setelah itu masa 7.5 bulan kehamilan pun dilalui di Bandung. Pada saat melahirkan nanti, Razky, putra pertama kami, akan berusia 1.5 tahun. Jarak yang memang secara umum dianggap cukup dekat. Diawal-awal sempat ada kekhawatiran bagaimana nanti menjaga dua anak yang masih kecil-kecil. Tapi seperti kata orang dulu, alon-alon asal kelakon, pelan-pelan menjalaninya. Bahkan, sebelum lahiran pun, di usia kandungan 5 bulan, istri sempat terserah DBD dan harus dirawat di rumah sakit selama 11 hari. Alhamdulillah kandungannya sehat-sehat saja. Dan karena Razky masih kecil, jadi berbeda seperti tahun sebelumnya, saya tidak bisa leluasa mengajak keluarga jalan-jalan, karena belum terbiasa sekali mengurusi anak sambil liburan. Jadilah, kita mengisi hari-hari di Bandung saja menunggu masa lahiran tiba.

Menuju Hari Kelahiran

Berbekal pengalaman waktu sakit DBD dulu dimana kita kesulitan menjaga Razky sementara istri harus di RS, kita memutuskan untuk melahirkan di Pekanbaru, seperti tahun sebelumnya. Sesuai prakiraan dokter, anak sudah bisa dilahirkan di minggu ke-2 Agustus. Untuk itu, pasca Idul Fitri, istri tinggal di Pekanbaru dan saya akan pulang menjelang hari kelahiran. Setidaknya, itu rencananya.

Saya sudah berencana pulang tanggal 17 Agustus 2016, dengan harapan, anak kedua lahir setelah tanggal tersebut. Sengaja saya tidak membeli tiket terlebih dahulu, berjaga-jaga kalau dibutuhkan hadir lebih cepat. Dan, ternyata benar adanya. Setelah kontrol terakhir ke dokter kandungan, dinyatakan kondisi kandungan sudah siap lahir. Padahal waktu itu baru tanggal 13 Agustus 2016. Deg-degan juga rasanya jangan-jangan bisa lahiran lebih cepat.

Sejak laporan kontrol terakhir itu saya jadi was-was sembari menunggu kabar untuk menentukan kapan harus pulang. Persis di tanggal 15 Agustus itu, istri mengabarkan sakit-nya menjadi-jadi sehingga direncanakanlan pulang tanggal 16 Agustus. Waktu itu tidak bisa langsung pergi hari itu juga, karena saya belum bawa barang sama sekali, karena barang tertinggal di Bandung, sementara saya waktu itu lagi ada keperluan di Jakarta. Jadilah saya membeli tiket untuk tanggal 16 Agustus, rute Bandung-Pekanbaru jam 10 pagi.

Tapi, yang namanya apes ya bisa datang kapan saja.

Keesokan harinya begitu sampai di bandara, terkejutlah saya bahwa pesawat yang ada delay semua. Alasannya karena kondisi keamanan. Katanya, mobil pemadam kebakaran yang biasanya standby lagi rusak. Awaknya saya bingung apa hubungannya mobil damkar dengan bandara. Namun, kemudian saya memahami ternyata itu menjadi salah satu SOP untuk suatu pendaratan dimana harus selalu tersedia mobil damkar jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tak dinginkan.

Menjadi dobel apes-nya karena hari itu saya butuh agar pesawat tidak delay. dan menjadi triple apes-nya karena bandara sekelas Husein yang notabene bandara intersional tidak memilik redundansi atau cadangan…untuk menghadapi kasus seperti yang dialami sekarang.

Tegang saya berkomunikasi dengan istri, saling mengupdate kabar. Sampai jam 12 siang belum ada tanda-tanda pesawat akan berangkat. Sementara itu istri melaporkan sejak pagi perut-nya sudah terasa sakit sekali. Begitu mendekati jam 1, diumumkan pesawat saya kaan boarding tidak lama lagi. Dan bersamaan dengan itu, istri memberitahukan karena sakitnya yang luar biasa, ia akan dianter duluan ke rumah sakit.

Pikir saya, masih akan lama lahirnya. Pengalaman tahun lalu , mulai masuk RS hingga lahir ada jangka waktu sekitar 9 jam. Saya pikir masih akan sempat untuk menemani istri lahiran. Sayangnya, pikiran saya salah. Begitu mendarat di Pekanbaru, saya hidupkan perangkat seluler untuk mendapatkan kiriman pesan gambar dari istri saya yang mengabarkan bahwa anak kedua kami sudah lahir, berjenis kelamin perempuan pada jam 14.40. Saya akhirnya tiidak bisa menemani iiR, di ruang persalinan, karena pesawat saya delay.

Begitu mendarat, saya langsung ke bandara dan menemui istri dan anak saya yang baru lahir. Saya hanya bisa mendengarkan kisah perjuangan istri saya kali ini karena tidak bisa menemani di detik-detik persalinan seperti tahun lalu. Tapi seperti yang saya sudah ketahui, istri saya orangnya kuat, insyallah. Bahkan ia menolak ditemani, ayah atau ibu-nya, khawatir karena kesehatan mereka dan memilih untuk berada di ruangan sendiri bersama tim medis.

Sesampainya di ruang persalinan, istri masih berada disana untuk pemulihan dan sayapun langsung mengumandangkan adzan dan qomat di telinga-nya. Bayi hebat dan perempuan hebat yang berjuang bersama hari ini. Dan anak kedua kami, seorang putri ini diberi nama Kiana Farfalla Pramudya.

WhatsApp Image 2016-08-17 at 7.53.09 AM

Arti Nama

Pada tulisan tahun lalu, saya sudah menceritakan asal usul nama anak pertama kami. Kali ini, saya akan menceritakan asal usul nama anak kedua.

Setelah berdiskusi selama beberapa waktu, nama yang dipilih untuk puteri kami adalah Kiana Farfalla Pramudya. Sebelum nama ini resmi, Kinara dan Kinaya sempat menjadi opsi untuk nama depan, tapi akhirnya settle dengan nama Kiana.

Kiana,terinspirasi dari kata Qiyana, yang dalam bahasa Arab berarti Berkah tuhan.

Farfalla, diambil dari bahasa Italia, yang artinya Kupu-kupu. Dengan harapan falla dapat bermetaformosis dari bayi kecil mungil menjadi wanita yang soleha dan berbakti ke depannya.

Pramudya, tentu saja diambil dari nama Bapaknya.

IMG-20160918-WA0012

Semoga dengan kehadiran Kiana, menambah kebahagian bagi keluar kecil kami. Salam dari “The Pramudya”.

Sarjana Terbaik Adalah Mereka yang Membawa Kemajuan Dimanapun Dia Berada

Entah bagaimana caranya, foto wisuda saya bersama teman-teman dari SMAN 8/UKMR sering kali digunakan oleh pihak lain. Kadang jadi pamflet..kadang jadi gambar untuk blog. Kadang ngga pake izin cuma nyantumin link aja.

Salah satu artikel terakhir yang menggunakan foto itu adalah : http://www.satujam.com/sarjana-terbaik-adalah-mereka-yang-membawa-kemajuan-di-kampung-halamannya/ . Pada artikel tersebut diberikan argument bahwa sarjana yang terbaik adalah mereka yang membawa kemajuan di kampung halamannya.

Agak tersentil sedikit sih. Karena memang sejak lulus, saya banyak beraktivitas di Bandung, tempat saya kuliah dibandingkan kota kelahiran saya Pekanbaru. Sedikit banyak ada hutang budi jugalah. Tapi memang kesempatan saat ini berbicara lain. Dan tetap saja perasaan bersalah itu kadang muncul.

Karena itu, setiap ada kesempatan, apapun kalau bisa berkontribusi sedikit saja kesana pasti saya ambil. Sebelumnya, pernah bersama Nokia mengadakan seminar 1 hari tentang Qt programming. Terakhir ini bersama Microsoft mengisi acara Pekanbaru Techno Day, seminar 1 hari + workshop dikeesokan harinya.

IMG_20160415_170651

Alhamdulillah, minggu lalu diberi kesempatan lagi untuk sharing, kali ini tentang Cloud Computing dan Azure, bersama dosen-dosen Aptikom se-Riau. Saya kaget, karena bahkan ada yang datang dari Bengkalis dan Pasir Pangarayan.

Semoga, kegiatan ini bisa bermanfaat dan diberi kesempatan untuk kegiatan serupa di lain waktu.